
[Nona. Kalau tidak salah, di bagian barat kota mati ini, ada seorang nenek tua yang tinggal bersama dengan cucunya, dan Hanya mereka yang terbebas dari kutukan itu karena tidak berada di tempat. Tapi saya juga kurang mengetahui versi ceritanya nona. Sebaiknya kita berjalan ke arah sana saja.] Ucap alen lagi.
Putri Amelia pun menganggukkan kepalanya mengerti, sementara kedua si kembar harimau masih menutup mata mereka.
"Apa yang terjadi nona...??? Apakah Nona menemukan sesuatu di sini..??" Tanya Ruby yang saudari tadi berdiri di belakang Putri Amelia dan mengamati tingkat Putri Amelia itu. Ruby sendiri tak melihat ada sebuah simbol di dinding-dinding benteng tersebut yang mengelilingi kota mati ini.
"Tidak rubi. Dan sepertinya kita harus menunggu si kembar selesai mengamati tempat ini.." ujar Putri Amelia kembali melangkahkan kakinya mendekati Sisil yang sedang mengawasi si kembar harimau itu.
"Baik nona" saat Putri Amelia dan kedua pelayan tersebut duduk untuk menunggu si kembar selesai melakukan tugas mereka. Si kembar pun membuka mata mereka dengan perlahan dengan ekspresi yang berbeda-beda. Melihat si kembar sudah selesai mengamati tempat tersebut. Putri Amelia pun segera bertanya kepada mereka.
"Apa yang terjadi..?? Apakah kalian menemukan sesuatu di kota ini..??" Tanya Putri Amelia lagi mencoba mengumpulkan informasi yang didapat oleh si kembar harimau.
"Nona. Menurut pengamatan saya, di dinding dinding benteng yang mengelilingi kota mati ini, dipenuhi dengan simbol-simbol yang aneh. Saya tidak mengetahui apa arti dari simbol tersebut. Saya juga merasakan aura hidup di tempat ini, namun itu terdapat dari balik tanah nona." Ujar sibiru sambil mengarahkan pandangannya ke arah tanah.
Putri Amelia mengerutkan keningnya, sepertinya informasi yang alien sampaikan melalui telepati itu benar adanya. Simbol aneh yang ia lihat di dinding-dinding benteng tersebut pastilah simbol kutukan.
"Lalu bagaimana denganmu hitam..?? Apakah penglihatanmu juga sama dengan si biru..??" Tanya Putri Amelia dan dibalas anggukan kepala oleh si hitam.
__ADS_1
"Tapi nona, saya juga merasakan jauh dari sini, ada dua manusia yang hidup di atas bumi di tempat ini. Kalau saya tidak salah, auranya menunjukkan seperti nenek-nenek dan juga seorang cucu." Ungkap si hitam.
Informasi tersebut juga sama halnya yang telah disampaikan oleh alen. Dan menurut dari simpulan Putri Amelia, mereka harus ke sana untuk menemui orang yang mereka rasakan keberadaannya dan menanyakan hal ini dengan pasti kepadanya. Setidaknya mereka dapat memecahkan masalah yang terjadi di kota ini.
"Mmm... Begitu ya... Kalau begitu tunggu apa lagi.. ayo kita harus segera bergerak cepat sebelum matahari tenggelam. Karena sepertinya, saat kita mengamati tengkorak-tengkorak hidup itu, sepertinya mereka juga memiliki nafsu seperti manusia pada umumnya." Ujar Putri Amelia kembali.
Mereka harus segera menyelesaikan perkara yang ada di kota mati ini, setidaknya mengetahui hal misterius yang pasti, yang terjadi di tempat ini.
***
"Nona... Ini sungguh sangat bau... Lihatlah kerangka-kerangka hewan dari kecil sampai besar ini. Pantas saja ketika kita mengamati kota tersebut, tak menemukan apapun bahkan hewan saja tak berani melintas. Barangkali hewan-hewan di tempat ini telah dimangsa sehingga mengurangi spesies hewan." Ujar ruby menjelaskan analisisnya. Putri Amelia dan yang lainnya pun setuju dengan pendapatnya.
"Betul itu..!! Apakah ini semua ulah para tengkorak-tengkorak itu. Soalnya menurut pengamatan kita selama menunggu kedatangan sang nona, bukankah kalian tidak memperhatikan cara kerja peralatan tengkorak itu.?" Ujar si biru membuat mereka kembali mengenang beberapa minggu yang telah mereka lewati di tempat ini.
Setiap malam, sesuatu hal yang berbunyi atau yang terdengar di telinga mereka, para tengkorak-tengkorak itu akan memburu hewan baik besar maupun kecil untuk dijadikan makanan mereka. Namun, bukannya melihat makanan itu masuk ke sela-sela tulang berulang itu, malah daging yang mereka punya itu hilang dengan misterius setelah dimasukkan ke dalam mulut mereka.
"Ia kamu benar... Sepertinya ini adalah ulah para manusia-manusia tengkorak." Ujar ruby lagi.
__ADS_1
"Sebaiknya kita kembali melanjutkan perjalanan. Kita harus menghindari malam hari di tempat ini, karena sepertinya ini pun masih kawasan tempat perburuan para manusia tengkorak." Ujar Putri Amelia lagi.
Akhirnya dengan segera mereka meninggalkan tempat tersebut dengan menggunakan kekuatan terbang mereka. Mereka harus melakukan hal itu biar cepat lagi pula di tempat ini tak ada manusia yang harus mereka hindari. Saat mereka berada di atas awan, dan ketika Putri Amelia mengarahkan pandangannya ke bawah, ternyata di kota mati tersebut ada sebuah araya yang berwarna merah seperti darah.
Putri Amelia yang menangkap hal itu kembali merasa penasaran. Apakah simbol-simbol tersebut adalah sumber datangnya dari araya araya yang berwarna merah ini. Pikir Putri Amelia. Lagi lagi Alen tiba-tiba bersuara.
[Ternyata benar nona... kota ini sudah terkena kutukan dari seorang penyihir. Jika ingin menghidupkan kota ini kembali, maka harus memusnahkan araya perlindungan atau menemukan penyihir itu untuk menghancurkan atau membuka area tersebut. Tapi, jika kekuatan besar mampu menghancurkan pelindung itu dengan sekali hentakan, maka bisa di lakukan nona. Tapi, kalau tidak bisa, maka akan memiliki resiko juga Nona.] Ucap Alen lagi dengan bertelepati. Putri Amelia pun sedikit tertegun. Ia memikirkan tentang resiko yang akan terjadi.
[Apakah resikonya fatal Len..??] Tanya putri Amelia kepada Alen.
[Iya nona. Bisa jadi kota ini akan benar-benar menjadi kota mati yang gersang, karena terhisap oleh araya pelindung itu.] Jelas Alen lagi.
Putri Amelia pun menghela nafasnya mendengar penuturan Alen. Kalau begitu, ia tidak boleh nekad. Karena kalau tidak, kota ini akan musnah. Pikir Putri Amelia lagi. Mereka pun segera terbang menjauh menuju arah barat kota mati tersebut. Dan, mereka semua kira, tempat nya tidak terlalu jauh. Namun nyatanya, mereka menghabiskan dua hari dua malam untuk mengarungi hutan belantara dengan terbang diatas awan.
Tak lama, tiba lah mereka di sebuah puncak bukit yang begitu asri dengan di temani oleh air terjun yang jatuh. Disana, tempat itu di tumbuhi dengan berbagai jenis bunga yang hidup berkelompok kelompok. Di atas bunga-bunga itu juga berterbangan berbagai jenis kupu-kupu dan juga lalat untuk menghisap madu bunga-bunga itu. Tempat itu di gambarkan seperti taman fantasi yang begitu hijau dan bunga yang menghiasi tempat tersebut. Melihat hal itu, mereka semua terpukau.
"Wah..!!! Tempat ini begitu indah, ini adalah Padang rumput dan juga sekaligus tempat yang sejuk jika berada di bawah pohon pohon rindang itu." Ujar Sisil dengan sejuta rasa kagum di hatinya.
__ADS_1