PUTRI YANG TERSISIH

PUTRI YANG TERSISIH
89. terbebas


__ADS_3

"Jangan sembarangan kalau bicara ya..!!" Seru Putri Amelia dengan perasaan jengkel kepada Alen.


Mereka semua yang melihat perubahan Putri Amelia setelah mendengar penuturan Alen langsung menangkap inti dari cerita Alen. Mereka semua pun saling melempar pandang satu sama lain, membuat Putri Amelia bertambah malu.


"Hm... Ya sudah ya sudah. Kenapa kalian semua capek-capek memikirkan yang terjadi denganku. Ingat, jangan termakan omongan Alen. Dia orangnya jahil bin usil." Ujar Putri Amelia mencoba membantah ingatan yang baru saja melayang di kepalanya.


[Awas aja kamu ya Len ...] Ujar Putri Amelia bertelepati kepada Alen. Alen yang mendengar telepati sang Nona langsung menatap nonanya kembali dan membalas telepati itu.


[Hehehe nona jangan macam-macam denganku, Aku sudah banyak bukti dan juga cara untuk membully Nona hehehe.] Balas Alen membuat Putri Amelia tak berkutik. Ia hanya punya satu cara yaitu menghindari pembicaraan masalah ini kepada Alen. Atau jangan sampai membuat Alen kesal.


***


Akhirnya sebelum malam menjelang. Mereka semua melayang di atas udara untuk bersiap menghancurkan araya pelindung yang berasal dari simbol-simbol itu. Menurut analisa Alen kembali, sebenarnya araya itu juga bisa dihilangkan kalau simbol-simbol itu mendapatkan tumbal, tapi mereka semua nggak setuju dengan cara yang ketiga yang diucapkan oleh Alen. Kehadiran mereka di sini adalah untuk menyelamatkan bukan malah membunuh. Dan di sinilah mereka saat ini.


"Apakah kalian siap..!!!" Seru Putri Amelia dengan suara lantang.


Posisi mereka saat ini tengah melayang di udara. Mereka semua pun langsung menganggukkan kepala pertanda mereka telah siap untuk menghancurkan araya kutukan itu.


Setelah itu, mereka semua mulai mengerahkan dan mengeluarkan kekuatan yang mereka miliki, Dan mereka arahkan ke arah araya kutukan itu. Membuat kotak merah transparan itu bergetar akibat hantaman besar dari kekuatan mereka.


Mereka melakukannya tanpa henti, karena syaratnya mereka harus melakukannya dengan sekali saja. Cukup lama mereka mengerahkan seluruh kekuatan mereka akhirnya araya kutukan tersebut mulai retak, dan akhirnya


byaaaarrr

__ADS_1


pecah berkeping-keping. Setelah araya kutukan tersebut pecah, perlahan mereka semua melayang turun ke bawah. Tenaga mereka semua telah terkuras habis termasuk dengan Putri Amelia. Akhirnya tanpa bisa melakukan apapun lagi. mereka semua tertidur di lapangan kota tersebut.


Dan saat mereka terbangun, kini mereka telah berada di sebuah rumah yang kemungkinan terletak di kota mati itu. Sayup-sayup mereka mendengar suara ribut-ribut dari luar seperti suara orang sedang berbincang-bincang atau tertawa satu sama lain. Tapi di sana, mereka dikejutkan dengan satu suara yang mereka kenali.


"Kalian sudah bangun.." ujar suara tersebut.


Mereka semua pun kompak mengarahkan pandangan mereka ke arah sumber suara, dan alangkah terkejutnya Mereka melihat pangeran William tengah berdiri dengan posisi istirahat di tempat sambil menatap tajam ke arah mereka, dengan seorang asisten yang juga berada di samping belakang pangeran William Siapa lagi kalau bukan Zain.


"Pangeran..." Dengan cepat mereka semua pun langsung mengambil posisi berlutut untuk menyambut kedatangan sang pangeran.


"Tidak perlu menyambutku seperti itu. Kalian semua benar-benar nekat melakukan hal tersebut, beruntung Aku bisa merasakannya. Kalau tidak sampai pagi kalian pasti akan tetap berada di lapangan itu." Ujar pangeran William menjadi kesal mengingat kenekatan mereka semua.


apalagi sang kekasih yang begitu banyak terkuras tenaganya. Menyadari apa yang telah terjadi, Putri Amelia yang dahulunya menundukkan kepala karena tak sanggup melihat tatapan marah pangeran William, sontak langsung menegakkan kepalanya kembali.


"Lalu bagaimana pangeran..?? Apakah kota samurai ini telah terbebas dari araya kutukan itu..??" Tanya Putri Amelia dengan sejuta rasa penasaran.


"Berkat kerja keras kalian semua.. akhirnya kota ini terbebas dari araya kutukan itu. Dan aku sudah menyiapkan makan malam untuk kalian. Bangun dan makanlah, setelah itu baru kita akan jalan-jalan malam ini untuk memantau kota samurai ini." Ucap pangeran William lagi.


Putri Amelia sebenarnya masih banyak yang ingin ditanyakan kepada pangeran William, tapi karena ia juga merasa penasaran dengan kemajuan kota samurai setelah dibebaskan, Ia tak dapat menolak perintah pangeran William untuk makan terlebih dahulu bersama dengan teman-temannya.


Setelah makan malam berakhir, kini semua memutuskan untuk keluar dari sebuah rumah yang tidak mereka kenali. Mungkin hanya pangeran William yang mengetahui hal itu.


Sesampainya mereka di luar, mereka terkejut melihat lampu-lampu lampion di rumah-rumah yang ada di kota samurai ini, terang menghiasi rumah-rumah mereka. Beberapa orang juga berlalu lalang di sana, suasananya berbeda sebelum araya kutukan itu dilumpuhkan.

__ADS_1


"Pangeran.. Apakah seperti ini kehidupan mereka di kota samurai.. ?" Tanya Putri Amelia kepada pangeran William.


Sementara, si kembar harimau dan alen telah kembali ke ruang dimensi untuk sementara waktu. Dan kedua pelayannya tak mungkin mengganggu kebersamaan pangeran William dengan Putri Amelia. Akhirnya mereka berdua juga memutuskan untuk tidak ikut berkeliling malam ini.


"Benar, ini adalah sebagian kecil kegiatan yang dilakukan oleh para warga. Menurut cerita dari nenek, dahulunya kota ini begitu makmur sehingga mampu menyediakan bahan pangan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di tempat ini. Harga jual belinya juga mampu dijangkau oleh mereka masyarakat kecil." Jelas pangeran William kepada Putri Amelia. Putri Amelia mengganggu anggukan kepalanya mengerti.


"Lalu. Apakah setelah araya kutukan itu dihancurkan, apakah para tengkorak-tengkorak itu baik-baik saja..??" Tanya Putri Amelia merasa penasaran terhadap tengkorak-tengkorak yang akan berkeliaran di malam hari. Pangeran William lagi-lagi tersenyum mendengar pertanyaan Putri Amelia.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan mereka cintaku... Cukup khawatirkan calon suamimu ini saja. Karena saat ini dirinya sedang ingin memelukmu.." ujar pangeran William dengan sedikit bermanja-manja kepada Putri Amelia.


Tapi bukannya mendapatkan perhatian dari Sang Putri, pangeran William malah mendapatkan tabokan kecil di bahunya.


"Auch... Sakit sayang.. belum apa-apa Sudah ada kekerasan dalam rumah tangga.." ujar pangeran William sedikit melebih-lebihkan rasa sakitnya itu.


Padahal terasa saja sakit Itu Di lengannya, tidak sama sekali.


"Udah. nggak usah lebay deh..!! Aku kan cuma mukul sedikit mana mungkin bisa sesakit itu. Aku sedang serius pangeran..." Ujar Putri Amelia lagi.


Pangeran William pun mencubit gemas pipi putri Amelia.


"Sayangku manis sekali sih...!!" Ujar pangeran William lagi yang lagi-lagi Putri Amelia menghempaskan tangan sang pangeran.


"Ih !! sakit pangeran... " Ujar Putri Amelia dengan memasang ekspresi judes yang membuat pangeran William lagi-lagi tak bisa menahan dirinya. Namun akhirnya ia menyerah dan tak ingin membuat kekasihnya itu menjadi marah.

__ADS_1


"Iya permaisuriku. Maafkan calon suamimu ini.." ujar pangeran William penuh dramatis.


Putri Amelia pun memanyunkan bibirnya kembali. Kemudian melangkahkan kakinya untuk menelusuri kota itu kembali. Pangeran William pun tak mungkin mau meninggalkan wanita kesayangannya itu, Ia juga berjalan menyusul di belakang Putri Amelia.


__ADS_2