
Sontak saja Amelia langsung memegangi perutnya. Hah memalukan, masa seorang cultivator atau pendekar masih membutuhkan makanan.
"Ck... Dasar perut !! Kamu membuatku tidak mood saja. Hah..!!" Amel Putri Amelia sambil berdesah pelan mendengar suara perutnya itu. Kemudian ia langsung mengecek apa yang bisa ia makan di ruang penyimpanannya atau dimensi. Tapi di sana Putri Amelia sudah sangat bosan mau makan makanan itu.
Akhirnya ia kepikiran untuk memancing atau menangkap ikan saja di laut. Tapi bagaimana caranya, di sini tidak ada sampan atau sejenisnya. Sementara Sisil dan ruby merasa kebingungan melihat tingkah sang nona. Akhirnya mereka memilih untuk mendekat dan bertanya.
"Nona ada apa ? Kenapa kami perhatikan dari tadi nona menghela nafas seperti itu. Apakah Nona membutuhkan sesuatu ? Atau mencari sesuatu.?" Tanya ruby dan Sisil sambil sahut menyahut. Amelia langsung mengarahkan pandangannya kepada kedua gadis itu.
"Ruby Sisil. Aku sangat lapar. Tapi aku menginginkan makanan seafood." Ujar Putri Amelia sambil merengek seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Sisil dan Robi yang mendengar kata seafood yang tentu saja mereka tak mengerti itu apa langsung dibuat melongo dan bertanya.
"Seafood...??? Apa itu nona..?? Apakah itu sejenis makanan atau permainan..??" Tanya mereka dengan serentak. Wajah bodoh dan tak tahu itu tercetak jelas di raut wajah keduanya. Mendengar penuturan kedua pelayan sekaligus teman-temannya itu membuat Amelia langsung menepuk jidatnya.
(Hah lupa..!!!) Batin Putri Amelia. Karena Putri Amelia sedang kelaparan dan pengen makan hewan-hewan laut. Akhirnya ia tidak memutuskan untuk berdebat melainkan mengajak keduanya ke sebuah tepi laut yang dikelilingi dengan batu seperti danau di mana Di tengah-tengahnya terdapat genangan air yang cukup luas.
"Nah sekarang akan aku tunjukkan Apa itu makanan seafood. Tapi untuk bisa menikmati seafood, kita harus mencarinya terlebih dahulu. Dan kalian berdua gunakan kekuatan kalian untuk mengangkat dan mengosongkan air di tempat ini. Tapi jangan biarkan hewan-hewan di dalamnya terangkat. Apakah paham..!!" Ujar Amelia kepada keduanya. Sisil dan Ruby yang masih belum mengerti hanya bisa mengikuti terlebih dahulu. Belakangan pasti mereka akan tahu apa itu seafood.
"Baik nona.." dengan segera keduanya langsung mengeluarkan kekuatan mereka dan menyedot air-air itu dari sana serta membuangnya kelautan bergabung bersama spesies airnya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, danau batu itu pun menjadi kosong, di sana juga nampak beberapa hewan-hewan laut yang hidup bergelimpangan karena telah lama tak dipanen oleh para warga yang ada di sana. Amelia yang melihat hal itu sontak menjadi girang dan bahagia. Ini mah namanya adalah dopper.
"Ayo sil kita turun..!!" Seru Putri Amelia langsung mengejutkan kedua orang itu.
Pasalnya mereka belum melihat pemandangan yang seperti ini. Di mana setelah airnya dikeruk ikan-ikan di sana bertebaran di mana-mana. Tak hanya satu atau dua atau bahkan berukuran kecil, ikan-ikan itu memenuhi lobang besar batu-batu tersebut bahkan ikannya pun berukuran 3 kali lipat.
"Eh iya nona... Tapi sebaiknya kami saja yang turun nona. Nona tetap berada di atas dan mengawasi saja." Ujar Ruby yang tentu tidak ingin no nanya kembali melakukan hal itu.
Tapi ternyata ucapan ruby tak digubris oleh Putri Amelia. Dengan segera Sang Putri langsung meloncat ke dalam yang membuat keduanya menjadi syok. Tapi lagi-lagi mereka tak dapat berbuat apa-apa selain menyiapkan wadah untuk menampung ikan-ikan tersebut.
***
Apalagi para warga berencana untuk pindah ke tempat lain mencari kehidupan yang layak dan meninggalkan tanah-tanah mereka di sana. Dengan segera si biru pun langsung mendekati salah satu warga yang tengah melakukan sesuatu, sepertinya warga tersebut akan pergi ke hutan berburu atau mencari makanan dalam hutan.
"Maaf tuan, bolehkah kami bertanya ?" Tanya biru menyapa dengan Rama seorang lelaki yang sepertinya seusia dengan mereka. Mendengar suara, lelaki tersebut langsung mengarahkan pandangannya ke arah Cibiru dan si hitam.
"Iya tuan. Apakah ada yang bisa kami bantu..?" Tanya sang pemuda dengan Ramah. Dengan hidup yang sangat sulit seperti ini.
__ADS_1
Tak banyak yang ia pikirkan, Iya juga tak merasa khawatir atau waspada terhadap orang-orang itu. Memangnya Apa yang perlu ia khawatirkan ? Mereka yang semua yang ada di desa ini tidak memiliki harta dan kekayaan apapun. Kalaupun memang mereka memiliki nyawa, biarkan saja mereka terbunuh agar terbebas dari dunia yang keras ini.
"Hm... Apakah di sini ada rumah yang bisa kami sewa..?? Kami adalah seorang pengembara yang ingin menetap beberapa hari di sini.??" Jelas biru kepada sang pemuda. Desa yang tak memiliki kepala suku atau yang dituakan itu hanya mampu terbang saja.
"Maaf tuan. Kalau hal itu kami di sini tidak bisa bantu. Jika memang ingin tinggal di desa ini maka bangun saja tempat tinggal sendiri yang sederhana seperti kami ini. Dinding-dindingnya hanya ditutupi dengan daun dari daun rumbia. Tak ada juga yang istimewa di sini. " Ujar sang pemuda menjelaskan kepada keduanya.
"Jadi begitu ya. Berarti di sini kami boleh membangun tuan? Tanya si biru dan si hitam lagi. Kemudian pemuda itu pun langsung mengangguk.
"Tapi walaupun di sini tidak ada yang dituakan, demi kenyamanan para penduduk yang ada di sini sebaiknya tuan-tuan berdua bertemu dengan ketua Pak Sono yang dipercayakan untuk memimpin kami walaupun hanya dalam segi eksternal saja." Ucap pemuda itu lagi. Si biru dan si hitam pun setuju. Kemudian langsung meminta sang pemuda untuk menuntun mereka ke tempat Pak Sono.
Sesampainya mereka di sana, pemuda itu pun langsung melanjutkan tujuannya yaitu pergi ke hutan untuk mencari bahan makanan bersama dengan beberapa warga yang lain.
"Apakah ada hal yang kalian butuhkan di desa ini tuan-tuan??" Tanya Pak Sono kembali. Ekspresinya juga sama dengan sang pemuda. Tak ada rasa khawatir atau semacamnya. Seolah mereka telah pasrah oleh keadaan yang mereka jalani ini.
"Iya Pak. Kami ke sini ingin bertanya apakah ada rumah yang bisa kami sewa atau tempat untuk kami membangun tempat tinggal."jelas si biru to the point tanpa bertele-tele. Pak Sono pun langsung mengganggu anggukkan kepalanya dan menyuruh kedua tamunya itu duduk di sebuah karpet yang sudah sangat lusuh dan berlobang-lobang itu.
"Begini para tuan-tuan. Sebenarnya di tempat ini tidak ada peraturan apapun yang perlu kalian patuhi. Juga perlu diketahui kalau Desa ini pun tak memiliki persediaan makanan yang bisa kalian cari. Jika ingin tinggal di tempat ini, kalian harus mencari makanan sendiri ke dalam hutan seperti yang dilakukan oleh beberapa warga tadi.
__ADS_1
***
oh ya teman-teman... jika ceritanya tak sesuai ekspektasi dari teman-teman boleh di skip ya.