
"Nona biarkan kami mengucapkan terima kasih dengan cara seperti ini. Kami tak dapat memberikan atau melakukan apapun selain hal yang seperti ini. Sungguh kami sangat bersyukur atas kedatangan para Nona ke desa kami ini. Kalau tidak sepanjang hidup kami kami akan terus merasakan ketakutan yang tidak ada ujungnya. Mohon jangan melarang kami Nona untuk mengucapkan rasa terima kasih kami.." ujar Pak tua itu. Putri Amelia menarik nafasnya dengan gusar.
"Baiklah baiklah Pak tua... Dan aku rasa, semuanya juga sudah cukup. Kami menerima penghormatan yang kalian berikan. Sekarang Bangkitlah dari posisi itu, karena saya dan teman-teman saya akan melanjutkan perjalanan." Ujar Putri Amelia lagi.
Dengan segera Putri Amelia mengeluarkan sembako dari ruang dimensinya untuk diberikan kepada para warga. Mulai dari beras, daging dan bahan-bahan sembako yang umum bagi mereka. Para warga yang melihat begitu banyaknya beras dalam karung yang bertumpuk-tumpuk langsung bangkit dari posisi sudut mereka.
"Pak tua dan para warga sekalian. Untuk mengawali pembangunan desa ini, saya dan teman-teman saya menyumbangkan sedikit beras dan beberapa sembako lainnya. Kami berharap dengan bantuan yang sedikit ini dapat memberikan manfaat kepada bapak atau para warga lainnya. Kami tidak bisa tinggal, karena kami juga sedang melanjutkan perjalanan untuk kembali. Semoga suatu saat nanti kita berjodoh, atau kami datang kembali ke desa ini dengan keadaan yang lebih baik. Sekali lagi terima kasih atas sambutan bapak Ibu di desa ini." Setelah mengatakan sepatah kata.
Putri Amelia langsung memberikan kode kepada teman-temannya untuk meninggalkan tempat itu dengan segera. Dan saat itu pula mereka bertiga langsung menghilang dari sana. Para warga berkali-kali mengucapkan terima kasih dan sangat beruntung di pertemukan dengan orang-orang yang dermawan.
"Terima kasih ya dewa, engkau telah memberikan karuniamu kepada kami." Ujar Pak tua itu.
Setelah itu, Pak tua langsung mengambil posisi dan menginstruksikan untuk membagikan beras beras itu dengan sama rata kepada para warga yang ada di desa ini. Dan dengan senang hati para warga membuat barisan untuk menerima sembako yang diberikan oleh Putri Amelia kepada mereka. Wajah mereka begitu berseri-seri apalagi para pembuat onar juga sudah diberantas habis oleh Putri Amelia. Jadi mereka bisa aman menjalani kehidupan mereka sehari-hari.
***
__ADS_1
Akhirnya selama beberapa hari di perjalanan, kini mereka telah sampai di kerajaan Merkurius kembali. Saat mereka tiba di kerajaan Merkurius, Putri Amelia dan kedua pelayan setianya itu tak membuka cadar mereka. Mereka juga tercengang melihat keadaan kota kerajaan tersebut. Sepertinya ada peristiwa yang terjadi. Karena di sana terlihat beberapa orang tergeletak di jalan begitu saja dengan tubuh yang lemas.
"Ada apa ini..?? Kenapa kota menjadi seperti ini..??" Tanya Putri Amelia dengan lirih.
Ia mengedarkan pandangannya ke sana ke mari, dan yang ia lihat adalah pemandangan yang sama. Putri Amelia langsung memikirkan kondisi kerajaan Venus dan Merkurius sekaligus teringat dengan penuturan pangeran William yang mengatakan bahwa kerajaan Venus memiliki masalah bahan pangan. Namun Putri Amelia tak dapat menyimpulkan hal itu begitu saja sebelum melihat sendiri dengan mata kepalanya.
"Ayo kembali ke kediaman... Aku takut terjadi sesuatu dengan Pak bujang istri dan anak-anaknya.." ujar Putri Amelia kembali.
Ternyata Putri Amelia sedikit kehilangan respek kepada keluarganya. Dengan kondisi yang seperti ini, Ia tidak mengkhawatirkan Bagaimana kondisi kerajaan Venus. Malah ia mengkhawatirkan Pak bujang istri dan anak-anaknya.
Mereka pun langsung melesat menghilang dari sana dan muncul kembali di depan pintu kediaman Putri Amelia yang megah itu. Terlihat dari balik pagar pembatas antara jalan raya dengan halaman rumah, Pak bujang dan istrinya sedang membersihkan halaman bersama dengan Putra bungsunya Jeff.
"Siapa kalian !! kenapa menerobos masuk ke dalam kediaman orang lain tanpa permisi..!!" Pak bujang alias panglima Jonathan itu. Putri Amelia tersenyum melihat kewaspadaan dan kesiapsiagaan Pak bujang.
(luar biasa mantan panglima ini. kepekaannya semakin hari semakin meningkat) batin Putri Amelia.
__ADS_1
"Ini kami Pak bujang. Amelia, Sisil dan ruby." Ujar Putri Amelia sambil melepaskan cadarnya dan diikuti oleh kedua pelayan setianya. Pak bujang yang melihat kepulangan Putri Amelia tanpa kekurangan suatu apapun langsung memasang wajah senyum sumringai dan mengucapkan rasa syukur.
"Syukurlah nona. Anda telah kembali dengan selamat..?? Maafkan atas kelancangan hamba tadi.. hamba tidak mengenali Nona saat itu.." ujar Pak bujang kembali melunak kan suaranya. Ia juga membungkuk memberikan penghormatannya kepada Putri Amelia.
"Tidak perlu seperti itu Pak bujang. Aku kan sudah berkali-kali bilang kepada Anda jangan terlalu bersikap formal seperti itu padaku. Anggap saja kami ini adalah anak-anakmu. Perlakukanlah kami seperti anda memperlakukan anak-anak anda.." ujar Putri Amelia dan langsung dibalas anggukan kepala oleh Pak bujang.
"Maafkan hamba nona. Hamba terlalu bersemangat menyaksikan anda kembali dengan selamat. Kalau begitu mari masuk Nona kami sudah membersihkan rumah agar saat Nona pulang, Nona merasa nyaman untuk tinggal." Ujar Pak bujang mempersilahkan Putri Amelia masuk ke dalam kediaman.
"Terima kasih Pak bujang. Tapi untuk sekarang hentikan dulu aktivitas kalian. Mari kita masuk ke dalam kediaman sama-sama Saya ingin menanyakan beberapa hal.." ujar Putri Amelia dengan suara lembut sebagaimana mestinya ia berbicara kepada orang yang lebih tua.
Pak bujang pun langsung menganggukkan kepalanya, Ia pun memanggil istri dan anak-anaknya yang masih setia membersihkan halaman dan merapikan beberapa kebun bunga dari pokok-pokok yang sudah tidak produktif lagi.
Mereka semua pun masuk ke dalam dan duduk sama tinggi, di sana tidak ada perlakuan majikan dan bawahan. Dengan cepat Sisil dan ruby pergi ke dapur dan diikuti oleh istrinya pak bujang, Mereka ingin berniat membuat beberapa cemilan cepat dan juga minuman untuk mereka makan.
"Kira-kira apa yang ingin Nona tanyakan..??" Tanya Pak bujang setelah mereka duduk di atas kursi yang empuk itu.
__ADS_1
Putri Amelia yang awalnya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa untuk itu, dan setelah mendengar pertanyaan Pak bujang, Ia langsung menegakkan tubuhnya kembali. Putri Amelia memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman, setelah itu ia baru melontarkan pertanyaannya.
"Apa yang sedang terjadi. hal apa yang menimpa kota kerajaan ini Pak bujang..?? Kenapa banyak sekali masyarakat atau rakyat-rakyat biasa lainnya bergelimpangan di jalan. Bahkan terlihat tubuh mereka sangat lemah dan kurus. Dan begitu juga dengan anda Pak bujang..??" Tanya Putri Amelia to the point dengan niatnya. Langsung mengangguk-anggukkan kepalanya.