PUTRI YANG TERSISIH

PUTRI YANG TERSISIH
96. rindu tanah kelahiran


__ADS_3

Putri Amelia dan teman-temannya memutuskan untuk membuat dan membangun sebuah toko kue di kota tersebut yang ternyata banyak diminati oleh para warga. Sementara pangeran William dan Zein, telah kembali dua hari yang lalu ke kerajaan Merkurius untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang menimpa kerajaan Venus maupun Merkurius.


Flashback beberapa hari sebelum kepergian pangeran William.


"Sayang. Aku mungkin tidak bisa menemanimu lebih lama di kota ini." Ujar pangeran William dengan jujur kepada Putri Amelia.


Saat ini, mereka berdua tengah berada di bawah cahaya rembulan yang bersinar terang di malam hari ditemani oleh bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit malam itu. Putri Amelia langsung mengarahkan pandangannya ke arah pangeran William dengan dahi yang berkerut.


"Kenapa memangnya pangeran..?? Apakah terjadi sesuatu..??" Tanya Putri Amelia lagi.


Pangeran William pun menghela nafasnya dengan berat, sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan Putri Amelia sampai mereka memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan petualangan mereka. Tapi kondisinya malah berkata lain.


"Barusan tadi aku menerima surat kiriman dari ayahanda. Ada sesuatu genting terjadi di kerajaan. Jadi aku akan memutuskan untuk kembali ke kerajaan membantu ayah dan yang lainnya menyelesaikan masalah ini. Mungkin ini ada hubungannya dengan masalah yang menimpa pertanian gandum di kerajaan ayahmu.." jawab pangeran William lagi. Putri Amelia lagi-lagi mengerutkan keningnya mendengar penuturan sang pangeran.


"Memangnya Apa yang terjadi di kerajaan ayahku pangeran..??" Tanya Putri Amelia lagi. Dia tidak merasa cemas mengenai hal yang terjadi di kerajaan itu. Lagi pula saat ini Ia memang harus bersikap egois untuk memikirkan dirinya sendiri. Karena dirinya tidak ingin pulang cepat di kerajaan itu.


"Entahlah Putri. Tapi Beberapa bulan yang lalu Setelah kepergianmu dari kerajaan, kerajaan Venus mengalami krisis gandum. Sehingga para bangsawan kekurangan bahan makanan bahkan harus berhemat. Ayah juga berkali-kali mengirimkan bantuan ke kerajaan ayahmu. Dan sampai saat ini aku belum tahu bagaimana kelanjutannya lagi..." Jelas pangeran William kepada Putri Amelia. Putri Amelia pun menganggukkan kepalanya dengan pasti. Iya berharap semoga masalah yang menimpa kerajaan ayahnya itu cepat berakhir.

__ADS_1


"Mmm begitu ya. Baiklah kembalilah dengan selamat pangeran. Mudah-mudahan masalah yang menimpa kerajaan Venus dan Merkurius segera cepat diatasi. Oh iya pangeran... Aku punya beberapa obat yang barangkali pangeran dapat membutuhkan obat-obat ini." Ujar Putri Amelia sambil menyerahkan buah porselin yang berisi pil yang berbeda di dalamnya. Pangeran William sebenarnya kecewa mendengar dan melihat respon Putri Amelia. Namun kembali pada prinsip awalnya ia tak ingin Putri Amelia merasa terkekang dengan peraturannya sebelum Sang Putri menjadi miliknya seutuhnya.


*Apa ini sayang...??" Tanya sang pangeran sambil menerima 5 buah porselin yang berisi pil-pil itu.


"Di dalamnya ada pil penawar 1000 racun. Botol yang berwarna merah itu ada pil penyembuh. Yang lainnya ada pil penguat tulang serta penumbuh. Dan ada juga penyamaran dan juga pil peningkat kultivasi. Aku tahu pangeran tidak membutuhkan itu semua. Tapi barangkali di istana atau para saudara pangeran membutuhkan hal itu." Ujar Putri Amelia dengan bijaksana. Pangeran William mengangguk-anggukkan kepalanya dan mengamati sedikit botol-botol porselin itu sebelum memasukkannya ke dalam ruang penyimpanannya.


"Baiklah sayang... Aku mengerti." Ujar pangeran William lagi.


"Lalu kapan kalian akan berangkat..??" Tanya Putri Amelia kembali.


"Besok. Kami akan berangkat besok sebelum matahari menampakkan dirinya. Dan aku harap kamu dapat menjaga diri dengan baik dan jaga mata juga hatinya." Ujar pangeran William sambil membelai lembut wajah Putri Amelia. Ia juga menenggelamkan satu kecupan manis di kening Sang Putri. Seolah malam ini adalah malam milik mereka berdua.


Beberapa pembeli pun mulai mendatangi toko Putri Amelia. Mereka cukup takjub melihat berbagai macam aneka kue yang terhidang di talase penjualan mereka. Di sana ada Sponge cake, Butter cake. Chiffon cake.Pound cake. Dan masih banyak lagi.


"Nona beli kuenya yang ini satu ya..." Ujar salah seorang ibu-ibu menunjuk kue yang ada di sana tanpa bisa menyebutkan namanya karena mulut mereka tak terbiasa. Jadi rasanya agak sedikit sulit mengucapkannya.


"Dibungkus ibu...??" Tanya sisir yang melayani ibu-ibu itu saat ini. Ibu itu pun langsung menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ditunggu sebentar ya Bu..." Ujar Sisil lagi. Kemudian dengan catatan Sisil langsung membungkus kue-kue yang ditunjuk oleh ibu tersebut. Lalu bagaimana cara mereka mendapatkan bahan baku dari kue-kue tersebut.? Iya gampang lah, Putri Amelia yang memiliki ruang dimensi yang dapat menyediakan apapun yang diinginkan tentu saja tidak perlu repot memikirkan hal itu. Cukup diambil saja dalam ruang dimensi yang ada dan ia miliki. Ternyata penjualan Putri Amelia benar-benar sangat bagus. Baru beberapa hari buka, kue-kue itu selalu diserbu dan habis dalam waktu yang sebentar saja. Seperti sekarang ini, padahal belum sampai 3 jam mereka membuka toko kue itu, namun isinya sudah habis duluan.


"Wah. Nona kalau seperti ini terus kita bisa kaya mendadak..." Girang Sisil ketika selesai menghitung jumlah koin yang mereka dapatkan. Ruby dan Putri Amelia pun ikut merasa bahagia namun tiba-tiba ada beberapa orang yang datang menghampiri mereka. Ternyata orang-orang itu adalah orang yang dipanggil Putri Amelia, Iya berencana untuk mengajarkan mereka agar toko kue ini ada yang mengelola. Karena tidak mungkin rasanya dirinya berlama-lama di tempat ini.


***


Akhirnya setahun telah berlalu. Putri Amelia telah melakukan petualangan dari benua ke benua lain, dari kerajaan ke kerajaan lainnya. Tak lupa setiap tempat yang ia singgahi, ia akan membangun bisnis kecil-kecilan di sana yang ujung-ujungnya akan ia titip kepada orang-orang yang ia percayai. Ya walaupun mustahil baginya untuk bisa kembali ke tempat itu lagi tapi setidaknya bisnis yang ia ciptakan di sana dapat dikelola dengan baik. Kini mereka berada di sebuah kerajaan yang terpencil yang tak pernah diketahui oleh siapapun. Kerajaan ini menutup diri dari dunia luar dan juga bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan lainnya. Kerajaan ini bernama kerajaan zamrud yang letaknya berada di tengah-tengah hutan.


"Nona. Sudah waktunya untuk makan siang..." Ujar Sisil dan ruby kepada Putri Amelia. Walaupun Putri Amelia dan Mereka berdua adalah seorang cultivator yang hebat tapi tetap saja Putri Amelia makan dan mengisi energinya 3 kali sehari.


"Baiklah..." Putri Amelia pun langsung bergabung kepada kedua pelayannya. Mereka pun makan siang dengan nikmat sampai akhirnya selesai. Setelah itu mereka membereskan makanan dan kemudian berbincang-bincang kecil.


"Nona ini sudah setahun telah berlalu... Apakah kita akan kembali ke kerajaan Venus kembali..??" Tanya Sisil dan ruby. Putri Amelia diam sejenak. Dalam hatinya sebenarnya ia belum ingin kembali tapi ada janji yang harus ia tepati yaitu menyelesaikan petualangan selama setahun dan kembali kepada orang tersebut.


"Ya tentu saja Sisil, ruby kita akan kembali ke kerajaan kita. Walaupun tidak pernah diakui, tapi rasanya aku sudah sangat merindukan tempat itu." Ujar Putri Amelia tanpa bersemangat sedikitpun. Sisil dan Ruby yang mendengarkan penuturan sang Nona sangat bahagia. Tak dapat mereka pungkiri bahwa mereka juga sangat merindukan tempat kelahiran dan tempat pengertian mereka itu.


"Benarkah nona.?? Apakah Nona tidak apa-apa..??" Tanya ruby kembali. Rasa senangnya seketika menjadi pudar ketika melihat raut wajah sang Nona yang tak bersemangat sama sekali. Putri Amelia pun bersandar di sebuah sandaran kursi dan menganggukkan kepalanya kemudian menutup matanya sejenak.

__ADS_1


"Huh sebenarnya aku belum ingin kembali... Masih banyak belahan dunia yang belum aku jelajahi. Tapi mau bagaimana lagi, rasanya aku juga merindukan tempat kelahiranku." Ujar Putri Amelia bermonolog dengan lirih.


__ADS_2