PUTRI YANG TERSISIH

PUTRI YANG TERSISIH
84. cara mengatasi kutukan


__ADS_3

Nenek yang berwajah gadis itu tercengang setelah mendengar penuturan Putri Amelia yang menyebut dirinya sebagai yang mulia. Nenek itu pun tersenyum.


"Cepat sekali kamu merasa akrab dengan cucuku yang bandel itu.? Apakah ia mengancammu..?" Tanya nenek gadis itu. Putri Amelia lagi-lagi tertegun. Nenek ini tak menyangkal penuturannya, berarti semuanya benar, pangeran William adalah cucunya. Dan otomatis tempat yang indah ini adalah milik mereka.


"Hehehe.. maaf yang mulia.. saya tidak bermaksud lancang seperti itu. Hanya saja Apakah saya boleh bertanya sesuatu..??" Ujar Putri Amelia meminta izin untuk bertanya kepada nenek itu. Nenek itu pun tersenyum.


"Nenek tahu apa yang hendak kamu sampaikan. Pasti mengenai kota mati itu kan..?? Di mana di siang hari kota itu akan terlihat sunyi dan tak berpenghuni sama sekali. Padahal semua penduduknya berada di bawah tanah, sementara di malam hari, kalian akan melihat ribuan tengkorak hidup yang melakukan aktivitas di kota itu. Apakah benar seperti itu nak..??" Tanya nenek yang berwajah gadis cantik itu.


Putri Amelia lagi-lagi dibuat terbengong-bengong. Kalau nenek telah mengetahui maksud kedatangan mereka, Kenapa tidak mengutarakan atau menceritakan langsung, bagaimana cara menyelamatkan kota itu.


"Betul nek.?? Kami juga datang ke tempat ini untuk mencari nenek. Kami berniat ingin mencari informasi yang terjadi terkait kota mati itu. Sekaligus bertanya Bagaimana cara memecahkan araya kutukan di kota itu." Ujar Putri Amelia lagi. Nenek itu pun tersenyum kemudian mempersilakan Putri Amelia untuk minum kembali.


"Tidak ada yang bisa memecahkan araya itu. Karena itu adalah konsekuensi yang harus mereka terima." Ujar sang nenek dengan dingin. Mendengar penuturan nenek muda itu membuat Putri Amelia kembali dilanda kebingungan dan muncul berjuta-juta pertanyaan di kepalanya.


"Maksud nenek bagaimana..?? Apakah sebelum kejadian seperti ini, ada yang mereka lakukan sampai harus menanggung akibat seperti ini nek..??" Tanya Putri Amelia lagi.

__ADS_1


Ia benar-benar kepo dan ingin mengetahui cerita versi sebenarnya dari sang nenek. Mengetahui niat Putri Amelia itu, nenek muda itu hanya mampu tersenyum simpul melihat betapa besarnya keinginan Putri Amelia membebaskan kota mati itu dari kutukan yang diberikan oleh penyihir.


"Apa yang membuatmu begitu tertarik untuk membebaskan kota itu..??" Tanya nenek muda itu lagi.


Putri Amelia menjadi sedikit linglung ketika mendengar pertanyaan dari nenek muda itu. Ia juga bingung sendiri bagaimana harus menjawab. Apa alasannya..?? Putri Amelia menggarut Garut kepalanya yang tidak gatal itu. Sementara sang nenek muda yang melihat Putri Amelia malam bengong mendengar pertanyaannya langsung baru ucap lagi.


"Kau bingung dengan tujuanmu sendiri nak. ?Tapi nenek tahu, kamu adalah seorang perempuan yang ditakdirkan untuk memecahkan masalah yang terjadi di dunia ini. Nenek juga sudah tahu, Siapa kamu sebenarnya." Ujar nenek muda tersebut yang langsung memberikan kejutan kembali bagi Putri Amelia.


Bukannya mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, Ia malah mendapatkan kejutan bahwa sang nenek ternyata mengetahui jiwanya yang berasal dari dunia modern.


" Tentu saja nak. Dan kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun, karena memang seharusnya dirimulah atau jiwamu lah yang berada di tempat ini. Dulu, beribu-ribu tahun yang lalu. Benua ini mengalami goncangan yang hebat. Di mana yang hidup di alam tengah ini merasa terguncang akibat para dewa yang berselisih dengan kaum iblis. Sehingga mereka semua bertarung di dunia tengah ini. Saat itu, seorang ibu yang ingin menyelamatkan putrinya, langsung membuat sebuah ritual terlarang bersama dengan suaminya. Yaitu mengirimkan jiwa anak mereka di dunia masa depan untuk menyelamatkannya. Dan ia akan kembali di waktu yang sudah ditentukan oleh alam." Jelas nenek muda yang tiba-tiba bercerita tentang kejadian yang terjadi beribu-ribu tahun yang lalu. Putri Amelia lagi-lagi dibuat melongo. Putri Amelia sama sekali tidak mengerti maksud dari cerita tersebut.


"Kamu pasti merasa bingung dengan cerita nenek ya..!!" Seru nenek muda itu kepada Putri Amelia.


Putri Amelia yang memang merasakan seperti itu langsung menganggukkan kepalanya dengan polos. Melihat kejujuran Putri Amelia, nenek itu pun tersenyum.

__ADS_1


"Kalau begitu lupakan saja. Suatu saat nanti kamu pasti akan tahu mengenai cerita dirimu yang sebenarnya. Lalu kita fokus saja kepada tujuanmu datang ke tempat ini.." ujar sang nenek lagi. Sementara itu pangeran William telah pergi dari sana, ia ingin berjalan-jalan ke lapisan yang paling dalam.


"Baik Nek. Jadi Apakah nenek tahu apa yang harus kami lakukan untuk menyelamatkan kota itu dari simbol kutukan itu.?" Tanya Putri Amelia dengan serius. Nenek muda itu pun memandang Putri Amelia tak kalah serius.


"Sebenarnya, nenek tidak tau apapun. Tapi, satu hal yang nenek tau. Jika ingin membebaskan kota itu dari kutukan, maka tempat itu harus memiliki penghuni." Ucap sang nenek. Putri Amelia kembali mencerna ucapan nenek itu. Maksudnya bagaimana..?? Pikirannya.


"Maksudnya bagaimana nek.? Apakah harus ada manusia yang menghuni kota itu..?? Sementara, kota itu tidak aman bagi mereka." Ujar Putri Amelia lagi.


Putri Amelia mengatakan hal itu, karena tidak mungkin rasanya ada manusia yang mau tinggal di kota tersebut. Mengingat hal yang terjadi malah hari yang begitu mengerikan. Mendengar penuturan Amelia, nenek itu kembali tersenyum.


"Memang semudah itu untuk membebaskan kota itu. Yaitu menghadirkan manusia yang menghuni tempat tersebut. tapi, tentu saja, mencari dan menemukan warga yang bersedia tinggal di kota itu, pasti sangat sulit, karena sudah tau. namun ada juga syarat yang harus dipenuhi, warga yang tinggal di sana bukan orang yang memiliki bakat kultivasi atau semacamnya. Karena, dulunya, kota itu di penuhi dengan orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi, dan mereka juga saling berlomba-lomba untuk menonjolkan diri mereka, dan juga menguasai tempat-tempat dengan se enak nya. Sehingga tak ada tempat bagi orang miskin atau rakyat jelata dan karena hal itulah, seorang penyihir merasa marah dan membuat kota itu di kutuk." Jelas sang nenek. Mendengar cerita seperti itu, putri Amelia kembali mengerutkan keningnya.


"Lalu, jika seandainya ada rakyat biasa yang tinggal di tempat itu, apakah yang akan terjadi. Dan kalau seandainya kutukan itu bisa mereka patahkan, lalu bagaimana selanjutnya.?" Tanya putri Amelia lagi. Seolah ia belum merasa puas dengan penuturan sang nenek.


"Jika mereka tidak memiliki kekuatan kultivasi, maka tidak akan terjadi apa-apa dengan mereka. Tapi bukan berarti, kutukan itu akan terkikis dengan cepat. Pada dasarnya, kutukan itu dibuat oleh penyihir untuk menciptakan keadaan yang aman dan damai. Sehingga masyarakat-masyarakat biasa bisa hidup dengan baik tanpa merasa takut." Putri Amelia yang mendengar itu pun mengganggu aku kan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2