
Akhir nya semua acara hari ini selesai juga, Ariana yang tengah berbadan dua itu pun benar benar merasa kelelahan meskipun hanya duduk saja membuat Aaron merasa iba pada wanita yang baru saja resmi menjadi istri nya itu.
“Lelah?”
Ariana mengangguk, kali ini ia tidak berbohong hanya demi menghindari Aaron, mereka sudah sah jadi tidak ada yang harus di takuti lagi, ia juga sudah menerima Aaron sepenuh hati bukan karena bayi nya.
“Istirahat saja.”
Aaron mengecup kening Ariana dengan lembut, hasrat di hati nya memang ada kala menatap sang istri, namun ia juga tidak egois mengingat ada bayi yang Ariana kandung, Tak butuh waktu lama Ariana pun terlelap dalam mimpi nya menandakan ia memang sangat lelah.
Aaron yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk membersihkan diri nya pun menatap ke ranjang king size yang di tempati Ariana, bisa bisa nya istri nya itu tidur masih mengenakan kebaya putih saksi pernikahan mereka hari ini.
Aaron menghampiri Ariana pelan mencoba untuk membuka seluruh pakaian istri nya itu, bukan untuk mengambil kesempatan melainkan ia tak ingin jika Ariana merasa tidak nyaman nanti.
“Tahan Aaron, untuk malam ini saja karena dia sangat lelah.”
Aaron membatin kala tangan nya selesai melucuti pakaian Ariana dari tubuh nya, jangan tanya bagaimana perasaan Aaron saat ini, panas tubuh nya benar benar panas melihat tubuh polos Ariana secara langsung.
“Eunghh.” lenguh Ariana kala merasa tidur nya terganggu karena Aaron yang membuka pakaian nya, namun ia tetap melanjutkan tidur nya setelah Aaron selesai membuka seluruh pakaian tanpa ia sadari.
Sedang kan Aaron kini semakin tidak karuan, pertama kali ia melihat tubuh polos Ariana dal keadaan sadar, jelas saja sesuatu yang ada pada diri nya kini menegang, ia pria normal dan yang ada di hadapan nya saat ini adalah istri sah nya.
“Apa aku lakukan diam diam saja?”
Kini ia berperang melawan batin nya, bisikan demi bisikan terdengar ada yang mengatakan jangan karena merasa iba dengan sang istri yang kelelahan, tapi ada juga yang mengatakan tidak masalah karena itu sudah kewajiban sang istri.
Aaron yang hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang jelas saja dengan mudah melakukan apa yang ia pikir kan saat ini, dengan sedikit ragu ia membuka lilitan handuk di pinggang nya lalu merengkuh tubuh Ariana yang masih terlelap.
“Maafkan aku sayang, tapi aku benar benar tidak bisa menahan nya, tubuh mu terlalu menggoda.”
Aaron berbisik meskipun ia tahu Ariana tidak akan mendengar nya karena sedang tertidur pulas, dengan pelan tapi pasti ia memasukkan benda pusaka nya pada tempat yang seharus nya.
__ADS_1
“Jangan kasar, aku mengantuk.”
Aaron membulatkan mata kala Ariana berbicara namun mata nya masih tertutup, sejenak ia mengira jika kemungkinan Ariana hanya sedang mengigau tapi sedetik kemudian wanita itu kembali berucap membuat Aaron yakin jika istri nya itu menyadari apa yang tengah ia lakukan.
“Aku tidak mengigau, lakukan lah jika mau tapi jangan kasar tuan Aaron.”
Senyum Aaron mengembang kala mendapat persetujuan dari sang istri, tak masalah harus berhati hati karena hal itu memang harus dilakukan demi menjaga sang bayi.
“Aku boleh mencium mu kan?”
Di kasi hati minta jantung, itulah hal yang cocok untuk Aaron, setelah mendapat kan persetujuan kini pria itu melunjak dengan meminta hal lain, Ariana hanya bisa mengangguk dengan mata terpejam.
Sejujur nya ia masih sangat lelah namun ia juga tidak bisa menolak Aaron terlebih saat tahu pria itu rela melakukan nya dengan pelan dan diam diam agar diri nya tidak merasakan sakit, jelas saja Ariana merasa iba pada sang suami.
“Kalau begitu jangan main sendirian.”
Tanpa di duga Ariana membuka kedua mata nya lalu menarik tengkuk Aaron yang tengah berada di atas tubuh nya menyatukan kedua bibir mereka dengan sangat liar.
“Apa di malam itu, kau juga seliar ini?”
Aaron bertanya setelah pagutan kedua bibir mereka terlepas, mendadak wajah Ariana memerah mendapati pertanyaan dari Aaron, wanita itu sadar jika diri nya terlalu agresif melebihi suami nya itu.
“Ti-tidak, malam itu kau yang sangat agresif, dan aku belajar dari mu.”
Entah benar atau tidak tapi yang jelas Aaron tidak percaya dengan apa yang Ariana katakan, mungkin wanita itu hanya malu mengungkapkan jika diri nya memang lebih agresif malam itu.
“Kalau sakit tolong katakan, aku tidak ingin menyakiti kau dan bayi kita.”
Aaron berucap sebelum akhir nya ia kembali menghentakkan lembut tubuh nya di atas tubuh Ariana, Ariana hanya diam menikmati kepuasan yang Aaron berikan, tak ada rasa sakit karena Aaron memang melakukan nya dengan sangat lembut.
Hingga akhir nya kedua pasangan yang melakukan malam kedua itu ambruk di ranjang yang sudah basah akibat aktivitas panas kedua nya, Aaron menatap Ariana dengan nafas tersengal sengal.
__ADS_1
“Sakit?”
Ariana menggelengkan kepala lalu masuk ke dalam dekapan Aaron, sedikit dingin karena mereka memang sedang polos hanya ada selimut yang menutupi tubuh kedua nya hingga pagi menyapa.
Pagi pagi sekali Aaron terbangun lantaran tak merasakan sosok sang istri di samping nya, jelas saja pria itu merasa bingung lantaran hari memang masih sangat pagi dan tidak mungkin Ariana sudah bangun setelah pergulatan mereka kemarin malam.
“Sayang, kau dimana?”
Setengah berteriak Aaron memanggil sang istri namun tak ada jawaban hingga tak lama ia mendengar suara Ariana dari dalam kamar mandi, namun seperti nya Ariana tengah mengalami morning sick lantaran terdengar seperti sedang mual.
Aaron jelas khawatir dan segera menghampiri sang istri di kamar mandi, tanpa mengetuk pintu, Aaron pun segera masuk untuk memastikan keadaan Ariana dan benar saja wanita itu tengah mual mual di wastafel.
“Kenapa? kau baik baik saja?”
Ini adalah hal pertama bagi Aaron dan jelas ia tak tahu apa yang terjadi pada sang istri dan hal itu membuat nya sangat panik, ia bahkan sempat mengira semua ini karena diri nya, lantaran mereka yang tidur tanpa mengenakan apapun.
“Ariana mengangguk setelah merasa lega memuntahkan semua isi perut nya.”
Aaron membantu Ariana berjalan menuju ranjang, keadaan istri nya itu benar benar lemah sekarang, Aaron pun segera meraih ponsel nya di atas malas hendak menelpon dokter namun di cegah oleh Ariana.
“Mau menelpon siapa?”
“Dokter.” jawab Aaron santai.
“Untuk memeriksa keadaan ku?” Aaron mengangguk karena memang hal itu yang akan ia lakukan.
“Jangan, aku ingin kau yang ke rumah sakit dan meminta resep obat pada dokter.” Aaron mengerutkan kening mendengar ucapan Ariana, kenapa harus repot repot kerumah sakit jika ia bisa memanggil dokter ke rumah mereka?
“Tapi sayang, kau sedang lemah tidak mungkin aku membawa mu ke rumah sakit.” ucap Aaron yang memang sangat mengkhawatirkan keadaan Ariana.
“Aku bilang kau, bukan kita berdua.”
__ADS_1