QUEEN IN MY LIFE

QUEEN IN MY LIFE
BAB 80


__ADS_3

Sedangkan Rhea di kost nya saat ini tengah menatap layar ponsel nya, sejak tadi ia sudah berusaha untuk mengirimkan sebuah pesan pada atasan nya itu namun selalu saja ia hapus kembali lantaran merasa ragu.


“Aku kirim atau tidak ya? tapi apa yang harus ku katakan?”


Gumam Rhea yang sejak tadi hanya menatap layar ponsel nya, Wanita itu kemudian membuang rasa ragu nya dan kembali mengetik apa yang ingin ia katakan, kemudian mengirimkan nya pada Aaron.


Sedangkan Aaron yang kini tengah bersama istri nya itu merasa terganggu mendengar dentingan dari ponsel nya, Ariana kemudian meminta suami nya itu untuk mengecek namun Aaron memilih untuk mengabaikan lantaran tubuh nya sangat lelah.


Ariana Kemudian memilih untuk mengecek sendiri isi pesan yang sejak tadi terus saja berdenting, Ariana membuka pesan itu satu persatu, kening nya berkerut menatap isi pesan yang menurut nya tidak ada kaitan nya dengan pekerjaan.


“[Selamat malam pak Aaron.]”


“[Apa makanan kesukaan bapak?]”


“[Besok pagi akan saya siapkan untuk bapak.]”


Ariana menatap Aaron yang baru saja terlelap memasuki alam mimpi nya, dada Ariana berdetak kencang entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang di antara suami dan sekretaris baru nya itu.


“Kenapa sekretaris nya menanyakan hal yang tidak bersangkutan dengan pekerjaan?”


Ariana membatin, tentu saja ia merasa curiga jika melihat pesan dari sekretaris baru suami nya yang di anggap tidak masuk akal, pikiran wanita itu tertuju pada sebuah perselingkuhan.


“Apa dia ingin mendapatkan anak dari wanita lain?”


Dada nya kembali turun naik, entah lah saat ini pikiran buruk selalu saja menghampiri pikiran nya, Ariana kemudian membalas pesan dari Rhea untuk mengetahui lebih banyak tentang apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.


“[Malam]”

__ADS_1


“[Kenapa bertanya? dan kenapa kau bersikap begini?]”


Tubuh Ariana bergetar menunggu balasan dari wanita itu, berharap jika tidak ada apapun yang terjadi antara mereka karena jika itu benar maka Ariana mungkin tidak akan bisa memaafkan Aaron.


“[Karena bapak bilang jika di kantor harus bersikap selayaknya atasan dan sekretaris.]”


Ariana mengepalkan tangan nya membaca balasan Rhea, wanita itu kemudian memilih untuk tidak membalas pesan Rhea karena menganggap semua sudah jelas sekarang, wanita itu kemudian mengambil bantal dan selimut dan membawa nya ke sofa.


Malam ini ia tidak akan mau tidur bersama Aaron setelah apa yang ia ketahui, Wanita itu kini berada di sofa seraya menatap langit langit kamar nya tanpa ia sadari air matanya mengalir memikirkan semua pikiran buruk nya.


“Ya tuhan, bagaimana jika semua itu memang benar? apa aku harus mengalah? apa aku harus merelakan nya bersama wanita itu?”


Ariana semakin menangis tanpa ia sadari kini sudah terlelap dengan pulas setelah membuang air mata nya cukup lama, Sedang kan Aaron yang terbangun kala menyadari tidak ada sosok sang istri di samping pun bangun dari tidur nya menatap ke samping.


“Ariana? kemana dia?”


Pria itu kemudian menatap sekeliling, tatapan nya terhenti pada Ariana yang tengah tidur di sofa, pria itu mengerutkan kening merasa aneh pasal nya istri nya itu tidur di sana membawa selimut dan juga bantal seperti memang di sengaja.


Aaron kemudian berjalan menghampiri sang istri, mengangkat tubuh Ariana dan di pindahkan di atas ranjang, pria itu menatap wajah Ariana yang terlihat sembab seperti baru saja menangis.


“Apa dia masih memikirkan bayi kami?”


Aaron menebak nebak mengingat Ariana mengatakan merindukan sosok janin yang sudah tidak itu sebelum nya, pria itu kemudian mengusap kepala Ariana dengan lembut lalu mengecup nya dengan cukup lama.


Pria itu kembali ke posisi semula nya, pria itu menghela nafas sebenarnya ia juga tidak terlalu berharap agar Ariana segera hamil namun melihat wanita itu yang selalu saja berpikiran yang tidak tidak karena tak kunjung hamil membuat Aaron berharap jika istri nya itu segera hamil agar Ariana tak lagi menyalahkan diri nya sendiri.


“Padahal jika tidak memiliki anak juga tidak masalah, kenapa kau begitu khawatir?”

__ADS_1


Gumam Aaron, namun pria itu hanya tersenyum menatap sang istri yang mungkin terlalu mencintai nya dan takut jika akan kehilangan diri nya lagi mengingat perjuangan cinta mereka yang begitu panjang.


“Tenang saja sayang, besok akan ku buat kau hamil secepat nya.”


Bisik Aaron di telinga Ariana, wanita itu hanya menggeliat merasa terganggu dengan bisikan Aaron, pria itu kemudian kembali masuk ke alam mimpi nya menyusul sang istri.


Hingga pagi menyapa Aaron kembali terbangun tanpa keberadaan sang istri di samping nya, pagi pagi sekali Ariana sudah bangun dan segera menyibukkan diri agar bisa menghindari bertemu Aaron, meskipun sempat terkejut kala menyadari ia sudah berada di atas ranjang dan jelas ia tahu itu perbuatan siapa.


Sedangkan Aaron yang baru saja terbangun memilih untuk mencari keberadaan istri nya terlebih dahulu dari pada membersihkan diri lantaran akan berangkat ke kantor, tujuan utama pria itu adalah dapur, mungkin saja istri nya tengah memasak saat ini.


Dan benar saja ia melihat punggung istri nya yang bergerak lantaran mengaduk masakan nya, entah terlalu bersemangat atau apa hingga tubuh nya bergerak dengan kuat, Aaron menghampiri sang istri memeluk pinggang nya lalu menyadarkan dagu nya di bahu Ariana membuat wanita itu terkejut.


“Pagi sekali kau bangun?”


Ucap Aaron dengan tangan memeluk tubuh istri nya, Ariana hanya diam tak menjawab pertanyaan Aaron dan fokus memasak nasi goreng untuk sarapan pagi ini, Aaron yang merasa sedikit aneh pun membalikkan tubuh Ariana dan mematikan kompor.


“Aaron lepaskan, aku ingin memasak.”


Ucap Ariana yang kesal dengan pria itu lantaran mengganggu aktivitas nya, Aaron pun Tek menghiraukan dan tetap menatap wajah Ariana yang selalu berusaha menghindari tatapan nya.


“Ada apa? kenapa kau mengindari tatapan ku? dan kenapa kau menangis kemarin?”


Aaron sedikit curiga jika Ariana menangis bukan karena memikirkan bayi mereka, namun ada hal lain yang mengganjal di hati wanita itu, Ariana masih menggelengkan kepala tak mau memberitahu apa yang tengah mengganggu pikiran nya.


“Aku ingin memasak, minggir!”


Aaron hanya diam, semakin yakin jika memang terjadi sesuatu pada istri nya, pasal nya jika ini memang tentang bayi mereka maka Ariana tidak akan melempar kemarahan nya pada Aaron.

__ADS_1


Aaron yang sedikit kesal pun memilih untuk kembali ke kamar dan membersihkan diri terlebih dahulu, waktu terus berjalan dan ia harus segera ke kantor saat ini dan meninggalkan Ariana yang kini terduduk lemas setelah Aaron meninggalkan nya.


“Lihat lah dia bahkan tidak membujukku seperti biasa nya.”


__ADS_2