
Aaron yang baru saja menyelesaikan rapat kini entah mengapa pikiran nya selalu tertuju pada Ariana, pria itu merogoh ponsel di saku nya dan baru menyadari jika ponsel nya mati lantaran tak ingin mengganggu rapat yang sedang berjalan.
Pria itu kemudian segera menyalakan ponsel nya untuk menghubungi sang istri, namun baru saja ia menyalakan ponsel tiba tiba saja ponsel nya berdering dan tertera nama papa mertua nya di sana.
Dengan cepat ia mengangkat panggilan itu, mendadak tubuh nya mematung mendengar kabar jika Ariana kini tengah berada di rumah sakit, tanpa bertanya apa yang sebenarnya terjadi Aaron pun segera keluar dari ruangan nya dan berlari menuju mobil nya yang terparkir.
Setelah mengetahui nama rumah sakit ia pun melajukan kendaraannya menuju rumah sakit, sepanjang jalan perasaan nya benar benar tidak tenang memikirkan keadaan istri nya saat ini, ia juga khawatir pada keadaan bayi yang masih berada di kandungan Ariana.
“Ya tuhan selamatkan istri dan juga bayi ku.” gumam Aaron berdo'a pada yang maha kuasa, berharap agar istri dan calon bayi nya dalam keadaan sehat, sungguh ia benar benar belum sanggup untuk kehilangan kedua nya.
Dengan kecepatan penuh dan jalanan juga seperti nya berpihak pada nya lantaran hari ini jalanan tidak macet seperti biasa nya, tak butuh waktu lama untuk Aaron sampai di rumah sakit dan segera mencari ruangan di mana Ariana di rawat.
Dan kebetulan papa mertua nya baru saja keluar dari sebuah ruangan, Aaron pun segera menghampiri mertua nya dan Ari segera meminta Aaron untuk masuk ke dalam ruangan di mana ia keluar.
Tanpa pikir panjang, Aaron pun masuk di sana sudah ada kedua orang tua nya dan juga keluarga nya yang lain yang sedang menatap Ariana yang tengah terbaring di brankas, Aaron segera menghampiri sang istri yang terbaring lemah, wajah nya benar benar pucat membuat hati Aaron teriris.
“Sayang.”
Aaron mengusap lembut kepala Ariana lalu turun ke perut Ariana, lantaran ia belum mengetahui jika bayi mereka sudah tidak ada di dalam perut Ariana dan itu yang membuat Ariana kembali tak sadarkan diri setelah mengetahui hal itu.
“Aaron dengar.”
Hana mulai berbicara untuk memberitahu menantu nya jika calon bayi mereka sudah tidak ada, Aaron menoleh pada mertua nya menatap wajah Hana yang terlihat bingung dan sedih.
__ADS_1
“Ada apa ma?” tanya Aaron yang juga penasaran dengan apa yang akan Hana katakan pada nya.
Hana menghela nafas, takut jika apa yang terjadi pada Ariana juga akan terjadi pada Aaron setelah ia memberitahu hal yang sebenarnya, namun ia yakin jika Aaron bisa lebih sabar dari Ariana, Hana menatap Yoonia dan Agus sejenak lalu kedua nya mengangguk memberi isyarat agar Hana memberitahu Aaron secepatnya.
“Begini, keadaan Ariana sudah lebih baik sekarang, tapii....” Hana lagi lagi menatap Aaron, entah lah rasa nya benar benar tidak tega untuk menyampaikan hal ini pada Aaron. “Bayi kalian tidak selamat sejak Ariana terjatuh di kamar mandi.”
Aaron mematung mendengar pernyataan sang mertua, baru saja ia merasa sangat bahagia lantaran akan memiliki seorang anak dan anak itu lah yang menyatukan ia dengan Ariana, namun ternyata ia memilih untuk bertahan sebentar di rahim sang mama tanpa merasakan menatap dunia terlebih dahulu.
“Aaron kau baik baik saja?”
Yoonia juga sedikit khawatir dengan putra nya, ia bahkan hampir saja berdiri padahal ia juga sedikit lemah lantaran juga sering mual mual di kehamilan nya yang ketiga ini, Agus menahan tubuh istri nya yang akan bangun dari duduk nya.
“Duduk saja, aku yang akan bicara pada nya.”
“Kau tidak boleh lemah Aaron, ingat lah Ariana juga sangat membutuhkan mu saat ini, dia yang lebih merasa kehilangan karena dia yang mengandung nya.”
Ucap Agus kini berada di kursi yang terletak di luar ruangan Ariana di rawat, Aaron hanya diam sejenak seraya berpikir, memang benar di saat seperti ini Ariana lah yang paling sakit, meskipun diri nya juga merasa kehilangan tapi ia juga harus menguatkan istri nya itu.
“Daddy benar, Aaron tidak boleh lemah, Aaron masih punya Ariana.”
Agus menepuk punggung Aaron seraya mengangguk, pria itu kemudian berdiri dari duduk nya dan memilih untuk kembali masuk ke ruangan itu, ia akan menemani istri nya hingga sadar.
Tak lama kemudian Ariana terbangun dan merasakan sebuah tangan menggenggam tangan nya dengan erat, wanita itu membuka kedua mata nya menatap sekeliling, tatapan nya tertuju pada sosok pria yang ia cintai kini yang tengah duduk di samping nya.
__ADS_1
“Aaron.”
Mendengar suara sang istri, Aaron pun menoleh seraya tersenyum, ia tak ingin terlihat sedih di hadapan Ariana dan membuat wanita itu juga akan ikut bersedih nanti nya.
“Kau baik baik saja? apa ada yang sakit?”
Ariana menggeleng, meskipun perut nya masih sedikit sakit tapi tidak sesakit sebelum, Ariana menatap suami nya yang terlihat tengah berusaha untuk tidak sedih, terlihat dari bibir nya yang bergetar meskipun tengah tersenyum.
“Maaf kan aku, ini semua karena keras kepala ku.”
Tangis nya pecah mengingat bagaimana keras kepala nya ia yang menyembunyikan rasa sakit di perut nya lantaran mengira itu hanya sakit biasa, belum lagi ia pergi ke kamar mandi tanpa bantuan siapapun.
Aaron menggeleng, bukan salah Ariana tapi memang sudah takdir mereka yang belum di beri kepercayaan untuk memiliki seorang anak, Aaron pun menguatkan Ariana dan memberi pengertian pada istri nya itu.
“Tidak apa sayang, kita masih bisa berusaha kan.”
Aaron mengedipkan sebelah mata nya pada Ariana, membuat Wanita itu kini mau tak mau harus tersenyum melihat tatapan genit sang suami, ia juga tak ingin sedih berlarut larut dan mengabaikan suami nya nanti padahal Aaron juga sama sedih dengan diri nya saat ini.
“Tapi aku menyembunyikan rasa sakit ku karena..”
“Sudah tidak masalah, itu semua sudah berlalu.” timpal Aaron, yang tahu jika Ariana akan kembali menyalahkan diri nya karena membuat calon bayi mereka tiada.
Aaron mengecup puncak kepala Ariana lalu turun ke kening, hidung dan terakhir di bibir istri nya itu, beruntung seluruh keluarga nya sudah keluar jadi Ariana tidak perlu merasa malu dengan apa yang Aaron lakukan pada nya saat ini.
__ADS_1
“Terima kasih, karena mau memaafkan ku, dan masih berada di sisi ku.”