
Aaron tersentak kala mertua nya tiba tiba berada tepat di belakang nya, mengetahui apa yang sedang Aaron lakukan sejak tadi di depan kamar Ayana dan Jordan.
“Ini pa, seperti nya mereka bertengkar.”
Aaron berbicara asal, padahal awalnya ia mengira jika sepasang suami istri itu sedang bergelut panas tapi yang keluar dari mulut nya justru berbeda, mendengar hal itu sontak saja Ari juga ikut penasaran dan menempelkan telinga nya di pintu.
“Tapi papa tidak mendengar suara apapun.”
Aaron kemudian kembali menempelkan telinga nya di pintu, bagaimana bisa tidak ada suara padahal tadi ia jelas mendengar Ayana menjerit kesakitan dari dalam sana, terlalu fokus mendengar kan suara dari dalam hingga membuat kedua pria yang berbeda usia itu tersentak kala pintu di buka dari dalam.
“papa, kak Aaron? sedang apa kalian di depan kamar ku?”
Ayana yang sejak tadi curiga lantaran melihat bayangan dari bawa pintu pun segera membuka pintu lantaran merasa kini ada orang yang tengah menguping pembicaraan mereka.
Kedua pria itu sontak saja saling menatap lalu saling menyikut agar ada yang menjawab pertanyaan Ayana, tak lama Jordan pun ikut keluar dengan handuk yang melilit di pinggang nya membuat Ari membulatkan mata menatap pemandangan itu.
“Kalian sedang apa? kenapa Jordan hanya memakai handuk?”
Bukan tanpa alasan Ari bertanya seperti itu, pasal nya keluarga mereka sudah berjanji jika Ayana tidak akan hamil sebelum ia lulus sekolah, dan melihat pemandangan seperti itu jelas saja Ari khawatir pada Putri nya.
Ayana melirik sekilas pada Jordan yang baru saja menyelesaikan ritual mandi nya, dan memang ada sedikit kekacauan terjadi sebelum nya membuat mereka sedikit berdebat.
“Maksud papa? Jordan.. maksud ku mas Jordan baru saja selesai mandi.”
Ayana menatap sang papa seraya mengerutkan kening, bingung dengan pertanyaan sang papa yang terasa aneh di indera pendengarannya, Ayana memang tidak tahu kesepakatan yang kedua keluarga itu lakukan, yang ia tahu ia akan di perbolehkan sekolah meskipun sudah menikah karena pernikahan nya di sembunyikan.
Jordan mengangguk memberi isyarat jika apa yang mertua nya pikir kan itu tidak benar, ia masih menepati janji nya untuk tidak menyentuh Ayana lantaran ia juga tidak tertarik untuk menyentuh gadis SMA itu.
“Tidak apa, ayo turun sarapan.” Ajak Ari pada Putri nya lantaran sang istri memang sudah memasak sejak tadi untuk sarapan keluarga nya, Ayana kemudian mengangguk lalu mengikuti langkah sang papa.
__ADS_1
Sedangkan Aaron kini masih berdiam diri di depan kamar Ayana seraya menatap adik ipar dan mertua nya yang mulai menjauh, Aaron kini menatap Jordan yang juga menatap nya, pria itu kemudian melangkah mendekati Jordan.
“Kau yakin bisa tahan bro? coba dulu rasanya sangat nikmat.” bisik Aaron tepat di telinga Jordan membuat pria itu sedikit kesal dan hendak melayangkan sebuah bogem namun Aaron lebih dulu menghindar.
Jordan kembali masuk ke dalam kamar dengan perasaan kesal lantaran Aaron yang mengejek nya, tidak bisa tahan katanya? bahkan Jordan berani yakin jika tubuh Ayana tidak terlihat menarik sedikit pun.
“Ck, tertarik dengan bocah ingusan itu? ada ada saja.” gumam Jordan lalu segera memakai pakaian nya lantaran setelah menyelesaikan sarapan mereka akan pulang.
.
.
.
Sedangkan di ruangan lain Ariana kini masih menunggu sang suami datang membawakan makanan seperti yang Aaron katakan, namun sampai sekarang tak ada tanda tanda kemunculan pria itu membuat wanita itu semakin kesal.
Ceklek!
pintu terbuka, terlihat Aaron kini masuk dengan sebuah nampan di tangan nya, pria itu tersenyum menatap sang istri meskipun wajah sang istri terlihat di tekuk.
“Maaf lama sayang, ada sedikit masalah saat aku akan ke dapur.”
Ariana mengerutkan kening tak percaya dengan ucapan Aaron, memang apa yang terjadi selama perjalanan nya menuju dapur? benar benar drama, pikir Ariana.
Aaron meletakkan piring berisi nasi goreng itu di atas ranjang, dengan telaten pria itu menyuapi istri nya yang terlihat masih pucat, padahal Ariana mengatakan sudah lebih baik tapi entah mengapa wajah nya masih pucat.
“Sayang, apa kau benar baik baik saja? wajah mu masih terlihat pucat, dan aku benar benar khawatir.”
Aaron mengusap wajah Ariana, wanita itu hanya mengangguk seraya mengunyah makanan yang masuk ke dalam mulut nya itu, jujur sebenarnya Ariana merasakan sakit di perut nya beberapa hari ini, tapi wanita itu hanya mengira jika itu hak yang biasa.
__ADS_1
“Tidak apa, mungkin karena mual ku tadi terlalu berlebihan.”
Ucap Ariana berbohong, padahal rasa mual nya tadi benar benar berkurang dari biasa nya, ia hanya tak ingin membuat suami nya itu merasa khawatir pada diri nya dan memilih diam saja.
Aaron mengangguk, lalu kembali menyuapi Ariana makan padahal diri nya juga belum sarapan tapi ia lebih mementingkan kondisi istri nya yang sangat lemah itu, setelah Ariana menghabiskan makanan nya, kini Aaron mengusap perut rata Ariana dengan lembut.
“Sudah kenyang kan sayang? jangan bikin mommy lelah ya sayang.” ucap Aaron mengelus perut Ariana, wanita itu pun tersenyum lalu mengusap kepala Aaron dengan lembut.
“Yes daddy.” ucap Ariana menirukan suara anak kecil membuat Aaron gemas dan mengecup bibir Ariana sekilas.
Aaron kemudian keluar dari kamar untuk mengembalikan piring bekas Ariana, ia juga sekalian ingin sarapan lantaran perut nya benar benar terasa lapar saat ini.
Sedangkan Ariana kini mengusap perut nya yang kembali terasa sakit, kening wanita itu berkerut menahan rasa sakit, entah mengapa rasa sakit itu semakin bertambah saja.
Tak lama terdengar suara bel rumah berbunyi, salah satu asisten rumah itu pun segera bergerak membuka pintu.
“Paket buk, atas nama nona Ayana.” ucap seorang kurir paket, mendengar itu Ayana segera berlari keluar menemui sang kurir dan segera mengambil paket yang kurir itu bawa.
Ayana ketar ketir lalu segera membawa paket itu masuk ke dalam kamar nya lantaran saat ini tatapan semua orang tertuju pada nya terutama sang mama, mengingat kemarin mereka baru saja melihat pakaian bayi di online shop.
Ayana kembali ke meja makan, kini tatapan semua orang tidak tertuju lagi pada nya, namun sang mama masih saja menatap nya seperti meminta jawaban.
“Kemarin Ayana memesan peralatan kosmetik ma.” ucap Ayana padahal Hana tidak bertanya pada nya, Hana kemudian melanjutkan makan nya setelah Ayana memberi jawaban.
Ayana kini bernafas lega, beruntung sang mama percaya dengan alasan nya, jika tidak maka ia dan Ariana bisa saja di marahi karena membantah ucapan nya.
“Ariana masih lemah?” tanya Ari pada Aaron yang baru saja turun dari tangga.
“Dia bilang karena mual nya berlebihan pa.” ucap Aaron polos, semua orang juga percaya saja mendengar jawaban Aaron.
__ADS_1