
Erica memasuki mobil Jonathan sambil membawa makanan yang dibungkuskan oleh Arista. Wangi keju yang semerbak membuat perut Jonathan menjadi lapar seketika.
"Makanan apa itu?" tanya Jonathan penassran.
"Spaghetti, Jo. Kamu mau?" tabya Erica. Kini ia tidak mau merasa sungkan lagi memanggil nama Jonathan. Ia tidak mau disembur lagi karena memanggilnya dengan sebutan 'Pak'.
"Boleh coba? Kayaknya enak." kata Jonathan sudah sangat ingin mencicipi makanan itu.
"Ya boleh, kenapa enggak." Jujur. Erica sedikit bingung dengan Jonathan yang kelaparan begini. Erica membuka spaghetti itu dan wanginya semakin keluar dari dalam spaghettinya. Tanpa aba-aba lagi, Jonathan langsung melahap makanan yang diberikan oleh Erica.
"Enak banget nih!" seru Jonathan.
"Jangan kayak anak kecil yang baru nyobain spaghetti, Jo." ujar Erica.
"Tapi serius ini enak banget loh. Rasanya pas dan gurih gimana gitu. Aku pesen dong ke temen kamu biar Mama aku cobain." kata Jonathan
"Serius?" Erica tidak percaya.
"Ya serius, masa enggak. Kamu suapin aku ya. Aku sambil nyetir." kata Jonathan memberikan slaghetti itu pada Erica dan siap menerima suapan dari Erica.
"Yakin, Jo? Boleh aku suapin kamu kaya gini?" tanya Erica merasa tidak yakin.
"Kenapa emang? Yuk sekarang kita ke apartemen kamu, kita liat isinya udah kayak apa. Barangnya udah kamu pindahin semua?" tanya Jontahan.
"Udah. Yaudah jalan, aku sambil suapin kamu." kata Erica bersiap menyuapi Jonathan...
Sesampainya di apartemen yang ditinggali oleh Erica, perut Jonathan sudah merasa kenyang. Rasanya ia tidak perlu menahan lapar lagi malam ini.
__ADS_1
"Ayo kita naik." kata Jonathan. Erica yang masih kesal karena jatah spaghettinya dihabiskan oleh Jonathan.
"Jo, aku laper loh belom makan. Kamu ngabisin semua spaghettinya. Aku makan apa dong?" tanya Erica mulai sebal dengan Jonathan.
"Tenang, nanti aku pesenin makanan. Sekarang kita liat dulu apartemen kamu." kata Jonathan. Walau sedikit cemberut karena perutnya kelaparan, ia menurut saja dengan apanyang dikatakan oleh Jonathan.
Mereka menaiki lift dan menuju lantai enam dimana disana adalah unit milik Erica.
Erica membuka pintu apartemen dan mempersilakan Jonathan masuk.
Jonathan dibuat kagum dengan ruangan yang sudah dihias sedemikian rupa oleh Erica.
"Jadi bagus apartemennya." kata Jonathan.
"Berkat kamu yang udah milihin aku apart yang bagus, aku jadi seneng bersih-bersih." kata Erica sambil tersenyum.
"Aku yang berterima kasih karena udah dibelikan apart sebagus ini. Aku nggak tahu bagaimana aku harus berterima kasih." ucap Erica.
Jonathan berbalik badan dan menatap Erica. Ia mulai tersenyum dan melayangkan tangannya ke arah Erica. Ia membelai dengan lembut kepala Erica membuat jantung Erica berdebar dengan kencang.
Ah, perasaan apa ini? Kok aku jadi deg-degan begini sih? Ujar Erica dalam hati.
"Mulai Sabtu besok aku akan membawamu ke acara makan malam bersama keluargaku sebelum aku berangkat ke Pontianak minggu depan." kata Jonathan
Ah, bagaimana perusahaan kalau nggak ada Jonathan? Akankah semua berjalan dengan baik?
"Aku menyerahkan urusan perusahaan sama kamu ya. Selama aku ada di Pontianak, kamu akan sibuk. Tapi temang aja. Aku akan memberikan lemburan khusus." kata Jonathan.
__ADS_1
"Aku takut dipandang rendah sama divisi lain..."
"Aku sudah memberikan arahan sama mereka waktu meeting kemarin. Kamu nggak usah khawatir. Mereka mendengarkan kata-kataku kok. Kalau ada yang nggak beres sama perusahaan, jangan takut ya." kata Jonathan.
Erica mengangguk tersenyum.
Jonathan merasa senang dan nyaman ketika berada disisi Erica seperti ini.
"Aku pamit pulanh dulu ya. Aku sudah melihat apartnya. Tolong jaga dengan baik ya apart pemberianku." kata Jonathan.
"Pastinya, Jo."
"Oke. Good night, Erica."
Wajah Erica rasanya bersemu merah ketika Jonathan mengatakan hal itu.
Jonathan membalikkan badannya dan pergi menuju pintu keluar diantar oleh Erica.
"Kamu masih tetap menjaga rahasia ini kan?" tanya Jonathan sedikit khawatir pada Erica.
"Aman, Pak... Eh... Jo..."
"Oh ya. Jangan ragu buat manggil namaku diluar jam kerja ya. Aku akan sangat menghargaimu." kata Jonathan. Kemudian tersenyum dan keluar dari apart Erica.
Sepeninggal Jonathan dan setelah Erica menutup pintunya, ia loncat dengan perasaan bahagia. Entah mengapa , menjadi rahasia Jonathan membuatnya sangat bahagia. Erica ingin berteriak. Tapi ia tidak mungkin melakukan itu. Maka, ia nenutup mulutnya dan mulai berteriak gembira.
Dibutuhkan oleh bossnya. Merupakan sesuatu yang sangat berharga. Ah entah kenapa Erica menjadi ingin berbangga diri. Sebenarnya nggak mau seperti ini. Tapi hatinya merasa bahagia Jonathan bisa dengan cepat merubah kehidupannya.
__ADS_1