Rahasia Erica

Rahasia Erica
Berencana belanja


__ADS_3

POV Erica--


Aku pulang ke rumah. Melihat Ibu yang sedang terduduk di ruang keluarga. Ya, memang. Kuakui, semenjak pindah ke Jakarta, Ibu memang lebih sering diam dibandingkan di Sukabumi. Aku memeluk Ibu dari belakang. Aku meletakkan tasku di sembarang tempat. Mencium wangi tubuh Ibukh yang sudah jarang aku ciumi.


"Bu.." panggilku. Ibu menoleh padaku dan tersenyum.


"Kamu sudah pulang, Erica?" tanya Ibu seraya menyentuh lenganku yang melingkar di tubuhnya.


"Iya, Bu." aku langsung melepaskan pelukanku dan mengambil tempat duduk disisinya.


"Ibu, maaf ya kalau Erica tinggal kerja. Ibu jadi sendiri di rumah." kataku mengawali percakapanku.


"Nggak apa-apa, Nak. Ibu cuma nggak tahu aja apa yang harus ibu lakukan disini. Nggak ada yang kenal." jawab Ibuku sambil tersenyum. Pedih rasanya melihat senyuman Ibu dengan tatapan yang kosong seperti itu.


"Ibu, apa Ibu nyaman disini? Kalau Ibu disini paling nggak, Erica bisa bertemu Ibu, mengawasi Ibu kalah-kalau Ibu sakit. Tapi Kalau Ibu di Sukabumi...."


"Ibu nggak apa-apa, Nak. Ibu hanya senang kalau ada yang bisa Ibu kerjakan disini..."


"Ibu mau melakukan apa? Ibu boleh melakukan apa saja asal bukan pekerjaan rumah. Karena pekerjaan rumah sudah aku serahkan pada Bibi." kataku cepat. Aku senang jika Ibu ingin memiliki kegiatan. Artinya bisa membunuh waktu yang sangat membosankan bagi Ibu.


"Ibu kepengen belanja ke pasar sekali-sekali... Kalau Erica yang belanjakan semua rasanya ada yang kurang...Boleh?" tanya Ibuku, cahaya dimatanya kembali bersinar. Ternyata selama ini, Ibu ingin ke pasar. Pasar tradisional sesungguhnya. Bukan supermarket dimana sayur yang sering kubelanjakan. Ya memang, kalau di Sukabumi, Ibu selalu ke pasar dan memilih sayur sendiri.


Kalau disini, Ibu nggak bisa apa-apa. Hanya diam di dalam apartemen.


"Bu, gimana kalau kita belanja seminggu sekali? Jadi Ibu bisa menyiapkan bahan selama seminggu, Ibu mau masak apa saja terserah."


"Terus gimana nyimpen makanannya selama seminggu? Apalagi sayur. Apa nggak rusak?"


Ah ternyata Ibuku memang betul dari desa. Semuanya sekali belanja langsung masak. Nggak bisa nyetok bahan makanan seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang jaman sekarang.


"Kita bisa lihat di youtube, Bu, cara menyimpan bahan makanan selama seminggu. Nanti ada wadah khusus gitu. Nanti Erica ajak Ibu belanja ya. Lusa Erica libur. Erica akan meluangkan waktu untuk Ibu. Kita ke pasar dan membeli wadah untuk penyimpanan." kataku bersemangat.


"Boleh, Nak.."


"Oh ya, Bu, nanti Erica belikan ponsel yang baru ya. Ponsel Ibu layar hitam putih nggak ada youtubenya."


"Emang kenapa, ponsel Ibu bagus kok, bisa buat telpon."


"Iya, Bu, tapi kalau pake smartphone, Ibu bisa nonton youtube . Disana ada banyak resep masakan. Ibu bisa ikutin resepnya yang ada disana. Atau kalau Ibu mau bikin kue juga boleh, Bu. Nanti Erica belikan alat-alatnya."

__ADS_1


Ibu ternyata mengkhawatirkan satu hal.


"Apa nggak mahal? Kamu membelikan Ibu semua itu?"


"Nggak dong, Bu. Ibu bisa beli apapun yang Ibu mau. Erica akan belikan, Bu." kataku. Aku sangat senang melihat perubahan air muka ibu. Yang tadinya menjadi sedih, sekarang menjadi bahagia.


"Makasih, ya, Nak. Maaf ya Ibu nggak bisa membelikan hal-hal yang kamu inginkan." Ibu menjadi sedikit berkaca-kaca karena Ibu tidak bisa membelikan sesuatu yang spesial untukku. Ya. Kami hidup pas-pasan di Sukabumi. Maka dari itu, aku merantau ke Jakarta ingin menemukan hidup yang lebih baik.


"Tapi, apa kamu nggak ada acara sama Jonathan?"


"Nggak, Bu. Erica bisa bilang nanti sama Jonathan."


Ibu mengangguk.


"Baiklah."


Esoknya adalah hari Jumat. Aku akan minta ijin pada Jonathan akan pergi bersama Ibu hari Sabtunya. Aku mengetuk pintu ruangan Jonathan. Ah, akhirnya mengajari sekretaris baru selesai. Aku ingin beristirahat sebentar di ruangan Jonathan.


"Sayang." panggilku. Jonathan menoleh padaku. Ia sedang menerima telepon dan menyuruhku duduk di sebelahnya dengan menarik kursinya.


Aku menunggu Jonathan yang sedang bertelepon dengan memainkan pulpen yang ada di jemariku. Selama bertelepon, tangan Jonathan tidak bisa diam. Ia menggenggam tanganku dan memainkan jemarinya disela-sela jemariku. Sesekali Jonathan menatapku dan mencium pipiku.


"Ada apa, Sayang?"


"Besok aku mau pergi sama Ibuku. Boleh kan? Jangan bilang kamu sudah punya rencana lain denganku." kataku dan itu membuat Jonathan tertawa.


"Kenapa sih ngomongnya gitu. Kalau kamu ada acara sama Ibu nggak apa-apa. Acaraku bisa kapan-kapan kok."


"Serius? Jadi kamu udah bikin rencana buat kita?"


"Ya tapi bisa ditunda kok. Mau kemana emangnya?"


"Ibu mau ke pasar dan supermarket. Katanya mau nyetok bahan buat seminggu. Ibu mau pilih sendiri sayurannya." kataku.


"Oke boleh, ditemani Pak Herman ya."


Aku memegang pipi Jonathan dengan bahagia.


"Terima kasih,sayang...."

__ADS_1


"Aku tenang kalau kamu pergi sama Pak Herman ketimbang kamu harus naik umum." kata Jonathan.


"Iya sayang, makasih ya..."


"Makanya,sayang.. Kita tuh nikah aja deh. Biar aku bisa ngejagain kamu dengan aman dan nyaman. Kalau kayak gini terus kan aku khawatir ada apa-apa sama kamu. Paling cuma bisa nyuruh Pak Herman aja buat ngejagain kamu kalau kamu kemana-mana."


"Aku masih belum siap berkomitmen sejauh itu."


"Apa ada yang kamu khawatirkan kalau kita menikah?" tanya Jonathan. Sebenarnya tidak. Hanya saja aku memang belum siap ke jenjang yang lebih serius. Apa karena traumaku diselingkuhi ya?


"Aku takut hal-hal yang tidak diinginkan..."


"Seperti?"


"Ya yang kamu tau dengan perceraian artis-artis yang ada di tv.."


"Erica,aku bukan mereka sayang....Atau kamu takut kejadian mantan kamu yang selingkuh terulang lagi?" tanya Jonathan. Ah kenapa dia bisa baca pemikiranku.


"Serius Erica, aku benar-benar jatuh cinta sama kamu. Kamu sederhana dan bisa membuatku nyaman. Hanya itu yang aku butuhkan."


Aku tidak punya pilihan lagi. Keseriusan Jonathan meluluhkan pertahananku. Aku juga jatuh cinta dengan pria ini. Bagaimana tidak? Perlakuannya, sikapnya, tutur bicaranya, siapa yang tidak jatuh cinta padanya?


"Baiklah, sayang..."


"apanya? Apanya yang kamu setujui?"


"Menikah. Aku akan pertimbangkan."


Akhirnya aku mengatakannya.


Dan lagi-lagi..Jonathan mendaratkan ciumannya padaku. Kami hanya bisa berciuman di kantor. Karena aku masih mengkhawatirkan jika ada orang yang datang ke dalam ruangan Jonathan.


Jonathan mengeratkan pelukannya dan melingkarkan tangannya dipinggangku. Mengelus dengan lembut hingga aku merasa merinding. Tanganku pun menjamah leher Jonathan. Membiat Jonathan bernapas semakin menderu.


"Bolehkah aku selesaikan ini?" tanya Jonathan meminta ijin padaku.


"Maksudmu?"


Jonathan menciumku dengan erat lagi dan tangannya meremas gundukan indahku semakin kencang. Ah. Rasanya ia perlu menyelesaikan sesuatu secepat mungkin dengan diriku.

__ADS_1


__ADS_2