
Jonathan tidak menyangka bahwa meminta pindah penghunu di sini tidak semudah yang dibayangkan. Ia lebih memilih memulai bangun proyek dari nol daripada harus memperbaiki bangunan seperti ini. Ah, Papa...kenapa pekerjaan yang diberikan berat sekali kali ini. Pantas saja Joshua minta didampingi. Karena memang tidak semudah biasanya.
Ia istirahat dan mengambil ponselnya diatas meja. Ia mencari nama Erica disana. Foto profilnya sangat cantik. Ingin sekali ia meraih wajah yang cantik itu.
Ingin meraih mood yang lebih baik, ia menelepon Erica.
Tuttt... Tut...
Erica melihat siapa yang meneleponnya. Jonathan. Dengan cepat ia meraih ponselnya dan mengangkat telpon dari Jonathan.
"Halo, Jo...." sapa Erica dengan cepat. Ia tidak mau Jonathan menunggu terlalu lama ketika ia menghubunginya.
"Kamu lagi apa, Er?" tanya Jonathan begitu Erica sudah mengangkat telponnya.
"Aku habis makan. Gimana kerjaan disana? Lancar?" tanya Erica ingin mengetahui perkembangan pekerjaan disana.
"Nggak semudah yang dibayangkan." jawab Jonathan seadanya.
"Oya, berkas yang kamu tanyakan kemarin tentang apa?"
"Aku nggak bawa berkasnya, Jo..."
"Yasudah besok saja. Bacakan saja dari yg paling dulu datang. Aku masih lama kayaknya disini." kata Jonathan.
"Kamu mengalami kesulitan disana, Jo?"
"Sedikit..."
Erica merasa khawatir jika Jonathan merasa kesulitan disana..
"Tapi nggak apa-apa. Udah dengar suaramu aja aku sudah merasa lebih baik kok."
Dag dug dag dug dig dagg... Kenapa jantungnya berdebar kencang? Rasanya seperti ingin meledak.
"Jangan bicara begitu." ucap Erica tidak sadar. Eh, ups!! Kenapaa? Kenapa bisa ngomong gitu sih kamu Erica!!
"Kenapa memang?"
Tuh kan Erica salah bicara lagi. Dia harus jawab apa kalau sudah begini?
"Karena jantungku berdebar jadi lebih kencang."
Jonathan terdiam. Ia jadi tidak bisa berpikir ketika Erica berbicara seperti itu.
"Maaf kalau begitu..."
"Gapapa, Jo..."
"Ada apa sebenernya sama kamu, Erica? Kenapa kamu tiba-tiba jadi begini?"
__ADS_1
Kini gantian Erica yang menjadi diam. Salting. Ia tidak tahu harus bicara apa.
"Aku...."
Jonathan diam menunggu Erica melanjutkan pembicaraannya. Tapi sepertinya Erica terlalu salah tingkah untuk menyampaikan kata-kata seperti itu.
"Bilang aja kalau mau ngomong sesuatu. Aku nggak akan menganggapnya aneh kok."
"Serius?"
"Iya, emang kenapa nggak serius?"
"Aku merasa hubungan kita aneh, Jo."
"Aneh gimana?"
"Aku karyawanmu. Dan kamu adalah atasanku. Apa boleh begini? Maksudku apa kita nggak jadi bahan pembicaraan orang banyak?" tanya Erica
"Bukankah kita merahasiakannya? Selama rahasia itu tertutup rapat, bukankah semua baik-baik saja?"
"Iya, tapi aku merasa menyalahi aturan."
"Apa ada yang salah kalau atasan menyukai karyawannya?"
"Ehhmm..."
"Kamu apa?"
"Punya perasaan yang sama denganku."
Dhuarr!!! Kata-kata itu berhasil membuat Erica jantungan setengah mati.
"Oh, eh, mm aku....."
"Kamu gelagapan, Er. "
"Nggak kok, Jo..."
"Yasudah kalau gitu. Kamu istirahat dulu aja, Er. Daripada kamu gelagapan kaya gitu." Jonathan menahan tawanya. Ia ingin sekali menertawakan Erica malam itu. Sikapnya, tidak seperti biasanya.
"Iya, Jo...."
"Jadi, tadi kamu mau ngomong apa, Er?"
"Katanya udahan...."
"Aku penasaran."
"hm...aku takut pura-pura jadi pacar kamu bikin perasaan aku jadi berubah."
__ADS_1
"Berubah seperti..."
"Seperti yang kamu rasakan ke aku. Aku takut melewati batas.."
"Jadi itu yang kamu khawatirkan."
"Iya..."
"Baiklah . Aku mengerti sekarang apa yang kamu khawatirkan. Aku akan cepat menyelesaikan pekerjaanku disini dan akan kembali ke Jakarta." kata Jonathan mengembangkan senyumnya. Kini, ia yakin bahwa ia bisa menaklukkan hati Erica.
Besok Jonathan jadi lebih semangat ingin menyelesaikan pekerjaannya di Pontianak. Telepon pun ditutup hingga hari esok tiba.
...****************...
Dua minggu berlalu. Jonathan sudah siap menghancurkan bangunan lama itu dan akan segera merenovasinya.
Para penghuni juga sudah keluar dari bangunan itu sehingga pekerjaan akan lebih cepat selesai.
Ponsel Jonathan berbunyi. Dion meneleponnya. Joshua menggantikan Jonathan sementara ia mengangkat telpon.
"Ya, Pa."
"Gimana renovasi rusunnya? Berjalan lancar?" tanya Dion.
"Butuh waktu mengeluarkan mereka semua. Bangunan ini juga udah parah banget, Pa. Papa beli dimana sih rusun ini?" tanya Jonathan sedikit kesal dengan Papanya yang asal beli gedung seperti ini.
"Dulu punya Intan. Tapi sudah lama melepas rusun itu. Karena nggak terawat, jadi Papa beli. Buat investasi."
"Iya, banyak yang nggak setuju dan marah-marah."
"Seperti biasa, Jo. Papa percaya kamu bisa menanganinya. Ajari Joshua cara kamu ya. Papa yakin, mereka nggak akan bisa semena-mena nanti sama kita."
"Iya, Pa."
"Kalau sudah mulai pembangunan, kamu kembali ke Jakarta. Biar itu nanti jadi pekerjaan Joshua."
"Iya, Pa."
Jonathan menutup telpon Dion dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Jonathan sibuk bicara dengan mandor. Joshua juga mengikuti arahan Joshua. Joshua mengangguk mengerti dengan apa yang dibicarakan.
Ia ingin cepat menyelesaikan dan kembali ke Jakarta.
.
.
.
Slow update ya gaes♥︎
__ADS_1