Rahasia Erica

Rahasia Erica
Pesan Misterius


__ADS_3

Disaat Jonathan sedang menghampiri orang yang memperhatikannya dari luar restoran, Erica mendapatkan pesan misterius.


Jangan terlalu percaya dengan Jonathan.


Erica terkesiap ketika membaca pesan itu. Tetapi ia langsung menutup aplikasi pesan dari nomor misterius itu. Ia berusaha tidak mempedulikan pesan singkat yang tidak jelas dari mana asalnya itu.


"Apa katanya? Dia ngapain?" tanya Erica begitu melihat Jonathan yang telah kembali ke dalam restoran.


"Dia hanya lapar. Aku memberinya uang." kata Jonathan.


"Kasihan banget kalau lihat orang kelaparan gitu. Nggak tega. Tapi jangan melihat secara tidak sopan sih harusnya. Mengganggu juga."


"Iya Sayang."


Tak lama,pesanan mereka datang. Erica menyantap hidangan malam itu dengan bersemangat karena memang dirinya juga sedang lapar.


Keesokan harinya,mereka bekerja seperti biasa. Sebelum berangkat ke kantor, Andrea datang ke rumah menjemput Erica dan berangkat ke kantor.


"Sayang,aku ke kantor ya." kata Erica mengecup pipi suaminya.


"Iya Sayang, hati-hati ya."


"You too. Bye Sayang."


Erica langsung pergi ditemani oleh Andrea. Sesampainya di mobil, Erica meletakkan tasnya. Dan ponselnya kembali berbunyi. Pesan misterius itu lagi. Erica membaca pesan singkat itu.


Berhati-hatilah pada suamimu.


Erica membacanya kemudian menghapusnya .


Ia tidak ingin pagi ini moodnya jadi berantakan karena pesan singkat yang entah dari mana asalnya. Erica mulai pembicaraan dengan Andrea mengenai pekerjaannya.


Walaupun Erica mencoba tidak peduli dengan pesan singkat itu, tapi hatinya terus memikirkanya. Darimana ia tahu bahwa Jonathan adalah suaminya? Apakah selama ini sudah ada seseorang yang mengikuti dirinya? Kenapa pesan singkat itu terus muncul dari nomor yang sama? Dan berisikan pesan singkat begitu? Awalnya, Erica tidak mau mempedulikannya. Tapi kenapa hal itu terus mengusiknya?


Sepeninggal Erica, Jonathan menelpon ajudannya di Baron.


"Panggil orang yang kemarin tanda tangan perjanjian dengan kita." kata Jonathan.


"Siap Boss."


Jonathan sudah siap akan ke Baron terlebih dulu sebelum ke kantor. Ia juga menelpon dokter Willem agar bersiap dengan operasi hari ini.


Dokter Willem sudah menjadwalkan operasi jam dua siang, siang ini. Jonathan segera mengatur pertemuan antara calon pendonor itu yang juga berhutang dengannya dan juga dokter Willem.


"Siap siang ini Boss."


"Bawa itu orang ke rumah sakit sekarang juga dan ketemu sama saya dulu. semalam saya bertemu dia waktu saya makan malam sama istri saya. Percepat saja tanggal operasinya biar urusan saya sama dia cepat selesai."


"Siap Boss."


Salah satu ajudan yang dipercayanya menelpon agar mempersiapkan apa yang harus disiapkan. Dengan gerak cepat, ia menjalankan perintah Bossnya.

__ADS_1


Jonathan berada di mobil menjemput calon pendonornya. Setelah sepuluh menit menunggu, lelaki itu masuk ke dalam mobilnya dengan kepala menunduk.


Jonathan tersenyum menyeringai.


"Hari yang kamu tunggu-tunggu akhirnya datang. Setelah ini saya harap urusan kita selesai. Paham?" tanya Jonathan.


Lelaki itu mengangguk.


"Kita ke rumah sakit sekarang."


"Siap Boss. "


Supir menjalankan mobilnya dengan pelan dan menuju ke rumah sakit bertemu dengan dokter Willem.


"Habis ini saya ke kantor. Kamu awasi semua sampai selsai." kata Jonathan memberikan pengarahannya pada salah satu bawahannya.


"Siap Boss."


"Laporkan pada saya apapun yang terjadi. Kirim pesan saja."


"Siap Boss."


Jonathan mengangguk.


Mobil melaju dengan cepat. Suasana hati sang pendonor semakin tidak karuan. Disatu sisi, ia merasa takut. Di satu sisi ia merasa lega karena masalah keuangannya sebentar lagi akan selesai.


...****************...


Kamu percaya dengan Jonathan?


Erica membanting ponselnya menyandarkan kepalanya menggunakan tangannya. Andrea yang melihat Erica, menjadi bingung.


"Ibu nggak apa-apa, Bu?" tanya Andrea bingung dengan sikapnya Erica dimulai sejak pagi. Hatinya terasa gelisah dan tidak tenang sejak tadi.


"Nggak apa-apa. Kita meeting jam berapa?" tanya Erica.


"Jam dua, Bu."


"Kita makan siang keluar aja. Ada sushi nggak disini?" tanya Erica.


"Ada, Bu."


"Kita kesana."


"Baik, Bu."


Jujur saja. Berada diposisi ini membuat Erica menjadi bingung kepada siapa ia harus mempercayakan segala urusannya. Mau tidak mau, ia butuh orang lain. Ia tidak bisa berjalan sendiri. Tetapi Andrea? Bisakah ia percaya pada Andrea yang bahkan belum seminggu bekerja dengannya?


Andrea memilihkan restoran sushi dengan potongan yang besar dan juga daging yang banyak. Hal itu sangat menggiurkan perut Erica yang lapar.


"Dea. Gimana ceritanya kamu bisa dipekerjakan sama Jonathan?" tanya Erica begitu pesanan mereka datang dan mulai menyantapnya satu per satu.

__ADS_1


"Saya melamar pekerjaan lewat internet, Bu."


"Nggak pernah kenal sebelumnya?" tanya Erica memastikan.


"Nggak, Bu."


"Saya dalam tahap sedang belajar mempercayai kamu. Kalau ternyata kamu tidak bisa saya percaya, saya akan menggantimu dengan orang lain." kata Erica.


"Baik, Bu."


"Lalu menurut kamu, Pak Jonathan itu orang yang seperti apa?" tanya Erica.


"Tegas, bertanggung jawab dalam pekerjaannya."


"Hanya itu? Bagaimana dengan personalitynya?"


"Baik dan pengertian."


"Iya itu kalau sama saya. Tapi bagaimana menurutmu dalam hal pekerjaan?"


"Hm..Bagaimana ya Bu..."


"Nggak apa-apa bilang aja. Banyak kok yang bilang, Jonathan galak, Jonathan suka marah-marah...Gitu... Saya udah biasa."


"Iya Bu , Pak Jonathan terkadang nggak bisa menoleransi kesalahan. Jadi kita harus mengoreksi ulang kalau mau menyerahkannya."


"Ya. Itu memang Pak Jonathan banget." kata Erica sambil tertawa.


"Nggak apa-apa, Bu, membicarakan Pak Jonathan? Saya agak ga enak, Bu."


"Sejujurnya, saya masih mau tahu lebih dalam lagi mengenai Jonathan."


"Pelan-pelan juga tahu, Bu. Kan Ibu sudah menikah dengan Pak Jonathan." kata Andrea.


"Justru itu. Setelah menikah dengan Jonathan, ada hal-hal yang bikin ragu."


"Contohnya?"


"Tentang.... Saya sebenernya percaya sama Jonathan atau nggak..."


Andrea sedikit terdiam . Tidak tahu harus bicara apa.


"Memang kenapa Ibu berpikir seperti itu?"


"Ya kamu tahu sendiri. Terkadang sebelum menikah, ada hal yang nggak kita tahu. Kita cuma tahu manis-manisnya aja. Setelah menikah, baru bisa tahu sebenernya dia baik apa nggak."


"Ibu meragukan Pak Jonathan?"


"Saya cuma mau tahu lebih dalam lagi."


Andrea mengangguk. Dan melanjutkan makan siangnya. Begitu pula dengan Erica. Ia kembali menyuap potongan sushinya dan segera mengakhiri makan siangnya.

__ADS_1


__ADS_2