
Erica kembali kerja seperti biasa. Sebelum meninggalkan rumahnya, ia menitipkan pesan pada Abangnya. Ia khawatir jika Abangnya mengecewakan usahanya yang selama ini ia buat .
"Bang.." panggil Erica disela-sela sarapan.
"Hmm.."
"Kerja baik-baik di tempat orang ya. Jaga nama baikku dan Jonathan. Jangan mempermalukan aku." kata Erica.
Eshan memutar bola matanya. Meski begitu,ia sudah tahu persis orang seperti apa Jonathan itu..
"Iya, iya..Kamu tenanglah. Abang akan jaga baik-baik. Kerja baik-baik." kata Eshan.
"Abang diberangkatkan duluan. Mungkin yang lainnya akan menyusul. Nanti di Kalimantan ada orang suruhan Jonathan yang akan jemput Abang."
"Pacarmu itu benar-benar orang hebat yang punya kuasa ya." kata Eshan. Erica ingin sekali menjawab tidak. Tapi kenyataannya, Jonathan memang memiliki kuasa dan pengaruh yang cukup besar.
"Begitulah."
Eshan diam. Ia tidak banyak bicara lagi mengenai Jonathan. Jika salah bicara, dirinya bisa dihabisi dalam waktu singkat. Ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri ajudannya sangat banyak. Hanya dengan isyarat mata saja, mereka sudah paham apa yang dimaksud Jonathan.
Niat awal Eshan yang ingin meremehkan dan menyepelekan Jonathan, sirna sudah. Jonathan bukan orang sembarangan yang bisa disepelekan begitu saja.
"Aku akan siap-siap jam satu. Jadi supirmu tidak menungguku lama." kata Eshan.
"Baiklah. Nanti siang Erica akan ikut antar Abang."
"Kan kamu kerja. Memang boleh? Ah ya..lupa. Bossmu itu kan pacarmu. Jadi apa saja yang kamu katakan bisa dilakukan." kata Eshan.
"Sudah, sudah. Aku ke kantor dulu." kata Erica. Dibawah, Pak Herman sudah menunggunya. Ia berpamitan pada ibunya dan langsung menuju ke lobby. Disana sudah ada mobil Jonathan dan Pak Herman membukakan pintu untuk Erica.
"Pagi, Non." sapa Pak Herman. Mulai sekarang, Pak Herman akan memperlakukannya sebagai kekasih Jonathan. Bukan sekretaris kantornya Jonathan. Karena Jonathan sudah memberitahunya bahwa ia akan mengangkat Erica dari jabatannya.
"Jonathan mana , Pak?"
__ADS_1
"Tuan berangkat lebih dulu, Non. Katanya Nona jangan lupa mencari sekretaris baru." kata Pak Herman.
"Iya, Pak. Baik. Hari ini saya mau interview mereka kok. Nanti siang jangan lupa antar saya dan Abang saya ke bandara ya, Pak." kata Erica dengan lembut. Pak Herman berpikir bahwa memang Erica ini memang jauh lebih baik dibandingkan dengan kekasih Jonathan yang dulu. Tapi Pak Herman tidaj ingin membahasnya. Ia tidak mau menyinggung perasaan Erica.
"Siap, Non."
"Oh ya, Pak. Pak Herman pernah ketemu sama yang namanya Vanessa? Mantan pacarnya Jonathan."
"Pernah, Non. Beberapa kali saya antar jemput." jawab Pak Herman. Ia hanya akan menjawan apa yang ditanya saja.
"Saya kemarin ketemu Vanessa di Bali. Cantik ya orangnya." kata Erica. Ia ingin tahu bagaimana pendapat Pak Herman mengenai Vanessa.
"Cantik tapi kalau hatinya nggak cantik buat apa, Non."
"Maksud Pak Herman? Tenang aja Pak,saya nggak akan bilang-bilang sama Jonathan kok. Anggap saja ini pembicaraan saya sama Pak Herman aja." kata Erica.
"Iya, Non. Non Vanessa kalau saya telat jemput, suka marah-marah. Berkomentar cara saya bawa mobil. Dan juga suka nyuruh-nyuruh tapi nggak sopan gitu, Non. Pokoknya saya merasa tekanan batin sama Non Vanessa."
Erica mengangguk mengerti.
"Waktu itu Tuan bilang sama Non Vanessa buat buka butik di Jakarta. Tapi Non Vanessa nggak mau. Katanya kalau di Jakarta karirnya nggak akan berkembang. Jadi maksa pergi ke Milan." cerita Pak Herman.
"Terus, Pak?"
"Waktu mau pergi ke Milan, Tuan sama Non Vanessa ribut terus. Tuan maunya Non Vanessa tetap di Jakarta saja. Tapi Non Vanessa tetap bersikeras ke Milan. Akhirnya Tuan nyerah dan Non Vanessa tetep berangkat ke Milan."
Erica menjadi tahu cerita yang sebenarnya. Bukan merasa cemburu. Tapi ia hanya sedikit penasaran saja.
"Setelah Non Vanessa pergi ke Milan, Tuab kerjanya kadang masuk kadang enggak. Bapak marah-marah terus. Kata Pak Dion, kalau nggak niat kerja nggak usah kerja. Biar perusahaan dipegang sama Tuan Joshua. Bu Christy juga marah-marah. Hanya karena Non Vanessa, Tuan jadi kayak orang yang nggak punya tujuan hidup. Makanya sampai sekarang, Bu Christy nggak suka kalau ada Non Vanessa disebut-sebut namanya."
Erica mengangguk mengerti dengan cerita Pak Herman.
"Memang, Jonathan sayang banget ya sama Vanessa?"
__ADS_1
"Saya liatnya Tuan itu mau melakukan apapun buat Non Vanessa. Tapi Non Vanessa memanfaatkan Tuan gitu, Non."
Erica mengangguk mengerti . Ia jadi tahu apa yang menjadi ganjalan di hati Jonathan selama ini.
"Tuan kalau sayang sama orang, sayang bener-bener Non. Saya tahu kok. Makanya kalau Non ada sikap Tuan yang nggak disuka, langsung bilang aja Non. Biasanya Tuan akan langsung memperbaikinya kok Non."
"Iya, Pak. Sejauh ini nggak ada sih, Pak. Jonathan baik. Pengertian, perhatian. Cuma ya gitu kemarin saya sempet berantem aja gara-gara Vanessa itu."
"Saya jamin , Non, Tuan pasti ngebela Non. Dan Non Vanessa pasti udah nyerah." kata Pak Herman tertawa. Erica jadi ikut tertawa.
Ah, Jonathan, ia jadi ingin segera bertemu dengan lelakinya itu.
Sesampainya di kantor, Erica sudah kedatangan calon sekretaris baru. Ia sendiri yang akan menginterviewnya. Jonathan masih sibuk di ruangannya. Maka dari itu, Erica langsung mewawancara dua sekretaris baru itu ke ruang meeting. Erica menginterview dengan lembut. Memandu pekerjaan dengan sangat baik. Dari tutur bicara, terlihat sekali bahwa Erica adalah orang yang berpengalaman di bidangnya .
Setelah selesai dengan interview, Erica pamit akan mengantarkan Eshan ke bandara.
"Yang,aku pamit ke bandara dulu." kata Erica du ruangan Jonathan.
"Interview sudah selesai?"
"Udah aku interview dua duanya."
"Gimana? Oke?"
"Masih aku pikirin dulu. Paling habis antar Abang aku mulai liat lagi berkas mereka." kata Erica.
"Asap ya sayang. Aku nggak mau nyuruh-nyuruh kamu terus."
"Iya sayang..."
Erica mengecup bibir Jonathan dengan singkat dan Jonathan membelai lembut rambut Erica.
"Take care sayang,aku nggak ikut ya. Aku masih ada kerjaan."
__ADS_1
"Nggak apa-apa sayang."
Erica langsung keluar dari ruangan Jonathan dan menemui Pak Herman di lobby.