
Erica terlihat sedikit santai di kantor. Tidak ada Jonathan yang menelepon ataupun mengirim pesan untuk memberi perintah mengerjakan sesuatu.
Karyawan lain juga masih tetap bekerja seperti biasa, tapi karena tidak adanya Jonathan, semua mengerjakannya dengan santai. Beberapa karyawan juga pulang tepat jam lima sore.
"Erica, ini dokumen yang mau saya ajukan pada Pak Jonathan. Tapi kayaknya masih pending... Saya nggak bisa ngerjain proyek baru kalau nggak di acc sama beliau." kata salah satu divisi marketing menyerahkan berkas kepada Erica.
"Baik, Pak, nanti saya tanyakan dulu sama Pak Jonathan." sahut Erica dengan sopan.
"Saya minta tolong ya,buat ngejar target saya juga."
"Iya, Pak."
Erica merasa gelisah. Sudah beberapa hari Jonathan tidak mengabarinya. Apakah ia sibuk di Kalimantan? Apakah ia harus menghubunginya terlebih dahulu? Ia bingung haruskah menghubunginya lebih dulu atau tidak. Tapi mengingat berkas sudah lumayan menumpuk di mejanya,ia tidak bisa mengabaikannya. Maka, mau tidak mau Erica meneleponnya.
Tuuuut..... Tuuuut......
Erica sudah mencoba beberapa kali menelepon melalui telepon kantor, tapi tidak ada respon sama sekali....
Erica mencoba menghubunginya dengan ponsel pribadinya.
Tuuutt......
Erica berharap Jonathan mengangkatnya walau sepertinya tidak mungkin. Karena ia tahu pasti akan sangat sibuk menangani proyek disana.
"Halo?"
Erica terperanjat. Akhirnya, Jonathan mengangkat teleponya. Erica mencoba berbicara dengan Jonathan walau sedikit sembunyi-sembunyi.
"Jo?"
"Er? Ada apa?"
"Aku telpon kamu nggak diangkat dari kemarin...."
"Oh pakai telpon kantor ya? Aku pikir staff lain,makanya aku nggak angkat."
__ADS_1
Ya benar juga. Ini Erica telpon pakai nomor pribadinya baru sekalo ini, langsung diangkat tuh.
"Itu aku."
"Iya ada apa, Er? Ada sesuatu yang mau kamu sampaikan?" tanya Jonathan langsung pada intinya. Erica tidak bertanya banyak. Ia hanya menduga-duga bahwa Jonathan masih sibuk dengan pekerjaan lapangannya.
"Aku mau menanyakan berkas yang diserahkan kepadaku..."
"Oh, iya. Taruh saja. Aku baru bisa proses minggu depan. Atau nanti malam aku telpon kamu, kamu bisa bacakan isi berkas itu. Baru aku bisa tahu aku setuju atau tidak. Tanda tangani atas namamu saja."
"Bolehkah begitu?"
"Nggak apa-apa. Nanti malam saja ya. Aku lagi ada diluar."
Erica tidak banyak bertanya lagi.
"Baiklah."
Jonathan langsung menutup telponnya. Ia tidak banyak berbasa-basi. Atau mungkin tempatnya sedang kurang tepat hanya untuk sekedar menanyakan apa kabar?
...****************...
Sementara itu Jonathan mengantungkan kembali ponselnya ke dalam jas. Ia benar - benar lelah harus mengurus para penghuni rusun ini. Kadsng, kesabarannya pun sudah habis.
"Jadi, kalian tetap tidak mau pindah dengan alasan rusun ini sudah kalian beli?" tanya Jonathan dengan nada yang datar. Tetapi matanya tetap menatap tajam penghuni itu.
"Kami sudah membelinya, dan untuk pembangunan ulang, tidak ada kompensasi apapun bagi kami..Kami harus tinggal dimana, kami harus kemana, tidak ada bayangan dalam pikiran kami. Apalagi dalam waktu dua minggu. Apakah itu masuk akal?" sahut penghuni rusun itu dengan rasa kesalnya.
"Lalu, apa kalian rela rumah kalian saya bongkar, dengan keadaan kalian masih menetap disini?"
"Apa kalian gila?? Kalian ingin membongkar paksa rusun ini sedangkan kami masih ada disini?!" seru penghuni itu. Ia semakin naik pitam karena ucapan Jonathan yang tidak masuk akal.
Jonathan memicingkan matanya. Senyumnya penuh amarah. Tidak pernah ia seperti ini sebelumnya.
"Tanggal dua puluh delapan bulan ini, rusun ini akan saya bongkar. Setuju atau tidak, sudah membeli atau tidak, kalian harus pindah agar saya bisa menyelesaikan pekerjaan saya. Dan kalau saya ingin mengembalikan unit ini pada Anda, sebaiknya Anda bersiap-siap pindah dari sini." kata Jonathan tegas. Ia mengeluarkan selembaran kertas yang berisi perjanjian antara developer dan juga pemilik unit.
__ADS_1
"Apa kalian benar-benar gila?"
"Kalianlah yang gila! Bangunan ini sudah lapuk dan tua! Bahkan bisa mengancam nyawa kalian sewaktu-waktu! Kalian mau salahkan siapa kalau bangunan ini hancur?!"
Penghuni yang memberontak itu akhirnya terdiam
"Cari tempat kontrakan sementara selama saya merenovasi bangunan ini. Jika Anda bisa saya ajak bicara baik-baik, saya jamin, saya tidak akan menaikkan harga unit pada Anda. Tapi jika Anda melunjak pada saya, saya jamin, unit Anda saya jual secara sepihak!"
Penghuni itu gemetaran melihat mata Jonathan yang tegas dan tajam. Kini ia tidak bisa melawannya lagi. Ia pikir, Jonathan akan takut kepada penghuni tua yang ada disana. Tapi tidak. Jonathan begitu berani berkata tegas. Sampai tidak ada satupun kata-kata yang bisa dibantah.
"Baiklah. Kami akan pindah sebelum tanggal 28." kata penghuni itu akhirnya.
Jonathan mengangguk pelan. Sementara Joshua disana melihat jelas bahwa penghuni itu gemetaran ketakutan karena ancaman Jonathan.
"Joshua, catat nama Bapak ini. Dan semua penghuni yang sudah membeli unit disini. Kita utamakan mereka terlebih dahulu." perintah Jonathan.
"Baik, Pak."
Tanpa permisi, Jonathan langsung keluar dari unit itu. Joshua mencatat nama dan juga nomor telpon Bapak itu.
Setelah Joshua menyusul Jonathan keluar dari unit, ia memperhatikan Jonathan yang memperhatikan sekeliling rusun yang sudah tua itu.
"Masih berapa lagi yang telah membeli unit disini?"
"Ada sekitar enam sampai tujuh unit... Lainnya menyewa."
"Baiklah. Kita lanjut ke unit berikutnya. Unit nomor berapa?"
"No. 97..."
...****************...
Hai hai, apakabar? Semoga kalian baik selalu ya...
Ada yg bs nebak ga plot twistnya bakal kayak gimana lagi?
__ADS_1
Kirim hadiah jangan lupa, vote jangan lupa biar aku semangat update yaa..~~