Rahasia Erica

Rahasia Erica
Sang Dalang


__ADS_3

Joshua menghembuskan asap rokoknya ke udara terbuka. Ia merasa senang malam ini. Tidak ada yang membuatnya lebih bahagia daripada mengetahui bahwa ia berhasil melakukan sebuah permainan. Permainan yang tidak pernah ia duga bahwa ini akan menjadi seru.


Ia tersenyum sambil menahan tawa. Ia meminum air dingin yang dipegangnya di tangannya. Sesekali ia mengusap air mata yang keluar karena melihat adegan yang lucu baginya. Sambil mendengarkan alunan lagu yang lembut, Joshua memutarkan tubuhnya mengikuti alunan musik yang berputar.


Berharap semua yang dilakukannya tidak akan pernah menjadi suatu hal yang sia-sia.


Satu bulan yang lalu, sebelum pernikahan Jonathan dan Erica...


Eshan berlutut pada Joshua. Ia tidak tahu harus pada siapa lagi meminta bantuan.


"Kenapa? Ada apa?" tanya Joshua terheran melihat Eshan yang bersimpuh di hadapan Joshua.


"Saya tidak sanggup menerima kenyataan jika adik saya menikah dengan orang seperti Pak Jonathan, Pak Joshua. Saya minta maaf."


"Kenapa begitu?"


"Bapak tahu sendiri seperti apa Pak Jonathan. Saya tidak mau adik saya terkena imbas dari apa yang dilakukan oleh Pak Jonathan."


"Kamu pikir Jonathan bakal melukai Erica?" tanya Joshua.


"Tapi Anda tahu sendiri apa yang dilakukan oleh Pak Jonathan. Alih-alih menyembunyikannya, Amda harus mengungkapkannya."


"Tidak bisa. Dia itu kakak saya. Mana mungkin saya membuat celaka keluarga saya sendiri."


"Saya punya caranya, Pak."


"Cara? Cara apa?"


"Buat Pak Jonathan mengakui sendiri kejahatannya."


Joshua tertawa. "Kamu pikir segampang itu mrmbuat Jonathan mengaku atas kesalahannya?"


"Setidaknya, buat Pak Jonathan panik atas apa yang ia lakukan. Dan juga buat keraguan di hati Erica. Jonathan yang dilihat Erica selama ini adalah Jonathan yang baik dan sempurna di matanya. Buatlah Erica ingin membongkar sendiri apa yang Jonathan lakukan."


"Aku nggak yakin itu akan mudah."

__ADS_1


"Percayalah pada saya, Pak. Jika ada keraguan di dalam hati Erica, Erica akan mencari tahunya sendiri." kata Eshan yakin.


"Kamu yakin?" tanya Joshua.


"Saya yakin, Pak" jawab Eshan dengan percaya diri.


"Cepat atau lambat sisi gelap Jonathan akan terbongkar juga bukan?" tanya Joshua menatap Eshan dengan senyuman yang tanpa arti di dalamnya. Entah bagaimana perasaan Joshua akhirnya mengetahui cara untuk membongkar kejahatan Jonathan


Selama ini ia takut dianggap mengkhianati kakaknya sendiri. Namu ternyata Tuhan maha baik. Ia menunjukkan jalan agar keburukkan Jonathan terkuak perlahan demi perlahan.


Mereka saling bertatapan dan mengangguk dengan apa yang ingin mereka lakukan. Kemudian, esoknya mereka berangkat ke Jakarta menghadiri pesta pernikahan Jonathan dan juga Erica. Eshan menyaksikan dengan hati yang pedih ketika Erica menyambut bibir dari Jonathan.


...****************...


Erica terdiam di kamarnya. Melihat Jonathan, tidak lagi menggairahkan seperti dulu. Ia sangat sesak memiliki perasaan yang meragu di hatinya seperti ini.


"Sayang. Kita tidur yuk." kata Jonathan. Erica tidak merespon apapun. Ia hanya diam sehingga membuat pandangan Jonathan teralih padanya.


"Sayang?" panggil Jonathan lagi.


" Apa kamu pikir aku menyembunyikan sesuatu, Erica?" tanya Jonathan. Namun Erica masih enggan menanggapi ucapan Jonathan.


"Baik. Aku akan memberitahu. Kamu tahu ketika kita memiliki uang akan ada banyak orang yang mencari kita kemudian meminjam uang. Dan itu lah , dari sekian banyak orang yang meminjam, banyak yang tidak membayarnya. Padahal aku sudah susah payah kerja cari uang dan aku mau membantu keuangan mereka. Tapi mereka selalu bilang nggak ada uang buat bayar hutangnya "


Erica masih menyimaknya.


"Sampai pada suatu hari ada seseorang yang meminjam uangku lebih dari seratus lima puluh juta. Dan aku memberikan uang itu yang ternyata dia gunakan uang itu untuk berjudi. Sedangkan aku harus mencari uang untuk proyek baruku "


Erica masih tetap menyimaknya.


"Saat aku meminta uang itu, dia bilang akan menjual rumah dulu. Kemudian apa dia memberikan uangnya padaku? Tidak. Dia kembali berjudi hingga hartanya habis."


Jonathan memberi jeda sejenak.


"Sampai pada akhirnya aku bertanya padanya. Bagaimana caranya agar bisa melunasi hutangnya padaku. Dia bilang dia sudah tidak punya apapun lagi yang bisa dijual kecuali dirinya sendiri. Dan dia menawarkan menjual organ tubuhnya jika aku mau."

__ADS_1


Erica terperanjat dan mulai membalikkan wajahnya.


"Apa ini semua serius?" tanya Erica


"Untuk apa aku berbohong? Aku mencintaimu. Aku tidak mungkin mengarang cerita seperti itu. Aku lebih baik menceritakan ini daripada aku gila karena harus kehilanganmu."


Erica diam saja.


"Tapi pada saat aku ingin memperkenalkannya pada dokter untuk mendonorkan ginjalnya, dia kabur. Dan aku menyuruh anak buahku mencari dimana lelaki itu."


"Anak buah?"


"Ya. Aku memiliki beberapa orang terpercaya dan aku menyebut mereka sebagai bawahanku."


Erica mengangguk.


"Namun ternyata, dia membawa pisau di sakunya. Awalnya aku tidak berniat melukainya. Tetapi dia lebih dulu menyerang akhirnya anak buahku memberikan sedikit pelajaran."


"Apa itu?"


"Memukulinya hingga dia kalah." kata Jonathan.


"Dan akhirnya kami membawa dia ke rumah sakit untuk menjalani tes sebelum operasi. Dan kami juga sudah membuat surat perjanjian ditanda tangani di atas materai. Sehingga perjanjian itu menjadi sah dimata hukum."


"Kenapa kamu nggak pernah menceritakannya padaku?"


"Kalau aku cerita, akankah kamu mengerti masalahku?"


"setidaknya aku mencoba mengerti."


"Baiklah ini salahku kenapa aku tidak cerita dari awal tentang rahasiaku." kata Jonathan.


Erica mulai tersenyum pada Jonathan


"Aku nggak mau membebani kamu. Tapi aku sadar, kita menikah. Dan yang kita bicarakan pasti ada banyak hal. Iya kan?"

__ADS_1


Erica mulai mengangguk. Jonathan memeluknya dengan hangat. Erica tentu dengan senang hati bisa memeluk seperti biasanya. Malam ini keraguan Erica terjawab sudah. Ia memeluknya erat dan ingin kembali ke masa lalu, masa yang indah bagi mereka berdua.


__ADS_2