
"Halo. Sayang..." sapa Jonathan di seberang telpon. Ia mengambil posisi tempat yang nyaman untuk teleponan dengan kekasihnya.
"Iya, Sayang. Aku ganggu nggak?" tanya Erica sebelum memulai pembicaraannya.
"Aku baru pulang, kok. Nggak apa-apa, kamu belom tidur?" tanya Jonathan
"Masih jam berapa... Belum malam kok..."
Jonathan melihat jam dindingnya dan masih menunjukkan pukul setengah sepuluh disana.
"Sudah makan? Kalau belum aku delivery makanan ya..."
"Jo..." panggil Erica, seolah ia tidak peduli dengan basa basi yang dilontarkan oleh Jonathan
Pikiran Erica terus melayang ke Sukabumi, tempat ibunya tinggal.
"Ya, Erica?"
"Aku mengkhawatirkan ibuku..."
"Ibu? Ibu kamu kenapa?"
"Tadi Ibu aku telpon, ibu nangis-nangis karena Abangku berulah. Aku kepikiran ibu. Aku nggak tahu harus bagaimana. Sejujurnya, kalau boleh, aku mau ijin pulang ke Sukabumi melihat keadaan ibuku..." kata Erica
"Lalu? Apa rencanamu setelah melihat ibumu?" tanya Jonathan
"Kalau Ibuku nggak baik-baik saja disana, aku ingin mengajak ibuku ke Jakarta. Aku khawatir karena Abangku terus meminta uang pada Ibu. Sedangkan kalau nggak dikasih, Abangku marah-marah... Aku bingung aku harus bagaimana, Jo. Sebenarnya aku nggak mau melibatkan kamu... Tapi..."
Erica mulai terisak. Ia tidak tahu harus bagaimana. Sejujurnya, ia tidak mau menyusahkan Jonathan. Tapi kalau tidak menceritakannya, ia juga tidak sanggup berbohong pada Jonathan. Ia tidak mau Jonathan merasa kecewa.
"Erica, tenangkan dirimu, okey? Aku akan ikut bersamamu ke Sukabumi, supaya kamu nggak merasa khawatir lagi. Kalau memang ibumu harus kamu ajak ke Jakarta, ajaklah. Jaga ibumu." kata Jonathan
"Aku merepotkanmu ya..."
"Jangan berpikir begitu ya, Sayang. Aku disini bukan untuk merasa direpotkan olehmu. Justru aku senang dipercaya olehmu atas masalahmu. Kalau ada yang bisa aku bantu, aku akan membantumu."
Erica menangis lagi. Kini air mata bahagia telah membasahi pipinya. Ia tidak menyangka bahwa Jonathan begitu pengertian dengan dirinya. Ia tidak tahu bagaimana harus mengucapkan terima kasih pada Jonathan.
"Terima kasih, Jonathan. Besok aku akan berangkat. Aku mau tahu kondisi ibuku secepatnya..."
"Baiklah, besok pagi aku dan Pak Herman akan menjemputmu di apartemen ya. Kamu bersiap-siaplah..."
"Terima kasih,Sayang..." kata Erica.
Jonathan mengangguk pelan.
"Kalau ada apa-apa, cerita saja ya seperti ini. Aku pasti nggak akan tinggal diam. Yaudah sekarang istirahat dulu ya. I love you, Erica."
"Ya, Jo...I love you more..."
__ADS_1
Mereka menutup telpon masing-masing dan akhirnya Erica merasa lega karena sudah meceritakan pada Jonathan. Besok Jonathan dan Pak Herman akan mengantarnya. Ah sungguh lrga sekali. Kalau selama ini ia harus menelepon travel, kini tidak lagi. Semuanya aman jika bersama dengan Jonathan.
...****************...
Keesokan harinya., Jonathan menjemput Erica tepat jam delapan pagi seperti yang sudah dijanjikan. Erica juga sudah siap dengan celana jeans dan blus floral yang indah.
Cantik, batin Jonathan.
Sudah lama sekali ia tidak melihat wanita cantik wajahnya dan juga hatinya seperti Erica. Terlalu banyak wanita cantik yang munafik dan itu menbuat Jonathan lelah. Bersama Erica, ia merasakan kenyamanan yang tidak pernah ia rasakan.
"Sayang..." kata Erica membuka pintu mobil.
Jonathan menyambutnya dengan kecupan singkat dibibirnya. Erica sedikit terkejut dengan kecupan manis yang diberikan Jonathan.
"Kalau sedang berdua, kamu harus terbiasa dengan hal itu ya, Sayang..." kata Jonathan
"Tapi aku malu ada Pak Herman..."
"Pak Herman sudah terbiasa melihat aku sama kamu. Apa lagi hayo?"
Erica mengulas senyum tipis di bibirnya.
"Iya deh..."
"Jalan sekarang ya?"
"Pak, jalan Pak. Nanti kita mampir resto buat makan ya..."
"Siap, Tuan."
Mobilpun dilajukan dengan perlahan oleh Pak Herman. Rasanya jantung Erica berdegup dengan kencang menelusuri jalan tol di pagi itu.
...****************...
Dok...Dok....Dok....
Pintu rumah Eshan diketuk dengan kecang oleh seseorang siang itu. Ibu sedang mencuci piring bekas makan siang. Terkejutlah Ibu ketika mendengar gedoran pintu yang keras itu.
Dok, dok, dok!!!
"Iya, iya sebentar!" kata Ibu sambil tergopoh menuju ruang depan. Ia segera membuka pintu dan melihat siapa yang menggedor pintu dengan kencang seperti itu..
"Siapa, ya?" tanya Ibu dengan wajah yang bingung.
"Siang, Bu."
"Iya, siang..."
"Betul, Eshan tinggal disini?"
__ADS_1
"Betul, dari siapa ya, Pak?"
Mereka datang dua orang. Dengan wajah tegap dan sangar. Wajar saja jika siang itu ibu menrinding melihat orang itu.
"Kami ingin menagih hutang pada Eshan. Dimana dia sekarang?" tanya pria kekar itu dengan nada tegas.
"Belum pulang. Tadi abis makan teh dia pergi. Nggak kemari lagi..." jawab Ibu merasa gemetar.
"Terus kapan mau bayar hutang?? Sudah sebulan menunggak! Kenapa masih belum bayar juga?" tanya pria itu dengan kasar.
"Maap,Pak..Punten. Eshan berhutang apa ya, Pak?"
"Jadi Ibu gak tau Eshan ngutang berapa dan buat apa aja? Kasian banget ibu, pasti dibohongi Eshan terus dong "
"Maap pak,saya nggak ngerti. Maksudnya inu Eshan ngutang? Ngutang berapa, Pak? Demi Tuhan saya nggak tau apa-apa."
Tak lama kemudian Eshan pulang dan melihat Ibunya ditagih hutang oleh dua pria berbadan kekar itu.
"Kalian...kenapa kalian kemari?" tanya Eshan bingung. Pria itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah Eshan dan melihat Eshan langsung menagih hutangnya.
"Hutangmu!! Bayar hutangmu Eshan!! Kamu bertaruh meminjam uang kami tapi tidak ada satu rupiahpun kamu bayar!"
"Kamu berhutang sama mereka, Eshan?? Ibu nggak nyangka kamu setega itu sama Ibu!"
"Saya belum ada uang sekarang, Pak. Besok saya bayar ya.."
"Udah dua bulan lebih dan kamu cuma janji-janji. Bayar!!"
"Saya belum ada sekarang uangnya, Pak..."
"Terus kapan? Besok besok besok... Kamu pikir uang itu terbuat dari daun apa!"
"Saya telpon adik saya di Jakarta duli,nanti dia akan transfer uang ke saya." kata Eshan.
Eshan mencoba menelepon Erica. Tapi tidak ada respon. Eshan sudah mulai gemetar dengan adanya dua orang dengan tubuh besar itu.
Mereka menunggu tapi Erica tidak menjawab telponnya. Eshan sudah mulai keluar keringat dingin. Kesabaran penagih hutang itu setipis kertas. Ia tidak menyangka bahwa mereka akan meninju dirinya.
"BUAKKK!!!!"
"ESHAN!!" teriak ibu histeris.
"Bang,ampun bang! Kasih saya waktu,saya akan bayar hutang saya!"
"Penipu tengik! Berani-beraninya pinjam uang tapi nggak kembalikan!! Ingat ya!! Kami akan kemari lagi sampai kamu bayar hutang!!!"
"Iya bang..."
Dua orang penagih hutang itu pergi dari rumah mereka. Eshan menepis tangan Ibu yang berusaha menolongnya.
__ADS_1