Rahasia Erica

Rahasia Erica
Bawa Ibu ke Jakarta


__ADS_3

Erica telah sampai di rumahnya di Sukabumi. Perumahan kecil dan sangat asri. Lingkungannya terlihat nyaman. Tetapi ada yang tidak beres disana. Barang-barang berantakan. Dan semua terlihat kacau.


Erica segera mencari dimana Ibunya.


"Ibu...ibu...." panggil Erica. Tanpa disangka, ia melihat ibu menangis di sudut rumah. Menelungkupkan wajahnya dan bahunya bergoyang.


"Ibu..." panggil Erica


Ibu menengadahkan wajahnya. Dan melihat putri kesayangannya ada dihadapannya.


"Erica, Nak..Kamu disini?" tanya Ibu tidak percaya


"Iya, Bu, ini Erica..."


Ibu langsung menghambur ke pelukan Erica. Rasanya ia sudah lemah tidak berdaya..


"Maafin, Ibu, ya, Nak...Sudah membuat Erica khawatir... Ibu benar-benar nggak menyangka kamu akan datang kemari secepat ini."


"Feeling Erica udah nggak enak, Bu, sejak kemarin Ibu menangis. Dan Abang minta ditransfer uang secepatnya. Gimana Erica nggak khawatir, Bu. Bu, udah gini aja ya, Ibu ikut Erica ke Jakarta aja. Erica tinggal disuatu tempat dan tempat itu cukup kalau ibu tinggal disana."


"Tapi bagaimana rumah ini, Erica? Rumah ini peninggalan Bapak..."


"Ibu tenang saja. Rumah ini akan saya jaga dan saya pastikan rumah ini aman." kata Jonathan yang tiba-tiba ikut dalam pembicaraan Ibu dan juga Erica


"Kamu siapa..."


"Ah iya, Bu, perkenalkan ini pacar Erica. Namanya Jonathan. Erica kesini sama Jonathan, Bu..."


Ibu mengangguk. Melihat ketampanan Jonathan, seketika Ibu terkesima. .


"Saya Jonathan, Bu. Kekasih Erica.."


"Saya ibunya Erica."

__ADS_1


"Jadi,rumah ini berantakan karena..."


"Itu ada orang datang menagih hutang Abangnya Erica. Ibu nggak tahu kalau Abangnya Erica punya hutang dan penagihnya datang sampai mengacak-acak rumah..."


Jonathan mengangguk mengerti.


"Saya rasa ibu lebih baik ikut Erica ke Jakarta bersama saya. Agar Erica bisa tenang dan tidak khawatir karena ibu jauh dari Erica. Rumah Erica ada beberapa kamar kok, Bu. Jadi jangan khawatir..."


Mereka sedang mengobrol bersama. Ibu sudah mulai tenang dari kegelisahannya. Ibu setuju ikut Erica ke Jakarta dan akan mengemasi barangnya.


Disaat Erica menunggu, Eshan datang dengan terburu-buru. Ia melihat Erica dengan seorang pria tinggi bersamanya. Dan ternyata Erica datang dengan mobil mewah yang terparkir di depan rumah.


"Kamu datang, Erica." kata Eshan.


"Iya,Bang." jawab Erica dingin. Ia tidak menyangka bahwa Abangnya akan menyebabkan ulah seperti ini.


"Lalu kamu? Kamu siapa?" tanya Eshan.


"Saya? Saya pacarnya Erica." jawab Jonathan dengan senyum. Ia melihat abangnya Erica berbeda jauh sekali dari Erica. Melihat masalah yang ia sebabkan, rasanya ia ingin meninju wajah abangnya ini.


"Lagi? Bang,semalam Erica udah transfer Abang. Erica kira itu uangnya buat Ibu. Ternyata apa? Ibu nggak nerima uangnya. Uangnya abang pake kan? Dan ini? Rumah ini berantakan. Penagih hutang datang dan apa yang Abang lakukan?" Erica langsung menyembur Eshan dengan bicara ini dan itu. Membuat Eshan tidak nyaman diceramahi seperti itu oleh adiknya sendiri.


"Itu abang lakuin buat menghasilkan duit, Erica!"


"Dengan apa? Taruhan balap motor? Bang, kalo mau dapat duit itu kerja! Bukan taruhan!"


"Diam kamu! Kerja di Jakarta membuat kamu menjadi sok ya!"


"Kalau uang yang aku kirim dipakai bertaruh terus, lebih baik aku nggak akan kirim uang ke Abang lagi!"


"Oh jadi kamu mau sombong ya? Kerja di Jakarta, punya pacar dan sekarang apa? Nggak mau kirim uang kesini lagi? Memang sekaya apa pacarmu ini? Jangan-jangan mobil yang di depan rumah itu mobil sewaan!" balas Eshan..


"Jaga bicara Abang ya!"

__ADS_1


Melihat dua kakak beradik itu beradu mulut, Jonathan ingin menengahinya. Jujur saja, Jonathan tidak begitu suka dengan gaya bicara Eshan yang seperti itu.


"Erica,lebih baik aku yang bantu bicara dengan Abang kamu ya..." kata Jonathan meredamkan emosi Erica.


"Kamu siapa? Kamu orang luar, kamu nggak berhak ikut campur dengan urusan keluarga kita!" kata Eshan menolak dengan bentakan yang membuat harga diri Jonathan terluka. Ia akan mengingat hal ini hingga nanti Eshan berlutut meminta uang darinya.


"Begitu ya? Tapi saya punya sesuatu yang bisa menyelesaikan masalah Abang." kata Jonathan memberikan tawaran yang menarik.


"Paling-paling juga uang pinjaman juga.


" Oh ya?"


Jonathan mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan segepok uang keluar dari dompetnya. Melihat uang yang dikeluarkan oleh Jonathan, membuat Eshan lupa diri dari ucapan yang baru saja ia ucapkan.


Jonathan tidak memberikan begitu saja. Ia memberikan syarat untuk Eshan.


"Saya akan berikan uang ini. Anggap saja ini uang muka. Tapi, jauhi Erica dan Ibu. Jika sesuatu terjadi pada mereka, Abang akan berhadapan dengan saya."


"Iya, iya! Setuju." jawab Eshan dengan cepat. Jonathan tersenyum menyeringai. Jika Abangnya Erica ada di gudang Baron, maka habislah dia. Sayangnya, ini bukan Baron.


Jonathan memberikan uang itu pada Eshan. Dan Eshan menerimanya dengan senang hati. Sedangkan Erica merasa jijik dengan Abangnya yang bersikap seperti itu.


"Setelah ibu siap, kita langsung ke Jakarta aja, Sayang..." kata Jonathan


"Iya, Sayang.."


Dua puluh menit kemudian, ibu sudah siap dengan tas kopernya. Erica membantu ibu membawa tas kopernya.


"Bu, ibu bawa yang penting-penting aja kan, Bu? Surat-surat?"


"Iya, ibu sudah membawa semuanya... Ibu hanya membawa yang penting. Baju juga ibu nggak bawa banyak...."


"Nggak apa-apa, Bu, kita bisa beli baju di Jakarta."

__ADS_1


Jonathan berdiri dari duduknya dan membantu Ibu menaikkan kopernya ke dalam mobil. Mereka masuk ke mobil satu persatu. Sore itu juga, Erica, Jonathan dan Ibu berangkat ke Jakarta tanpa berpamitan dengan Eshan.


__ADS_2