Rahasia Erica

Rahasia Erica
Ingin kembali tetapi...


__ADS_3

Erica memandangi pemandangan di dekat rumahnya. Pemandangan pegunungan yang indah, yang jarang ia lihat di daerah Jakarta. Ingin sekali dia tinggal disana untuk beberapa saat dengan kedamaian yang ada di Sukabumi. Tapi ia tahu ia tidak akan bisa. Banyak yang harus di selesaikan terutama di Jakarta.


Selagi Erica memandangi pegunungan yang ada disana, Andrea datang dan menanyakan apakah ada sesuatu yang ingin dimakan oleh Erica karena udara disini cukup dingin, berbeda dengan Jakarta.


"Maaf, Bu. Apa ada sesuatu yang ingin Ibu makan? Saya akan coba berkeliling dengan Supir dan mencarikan makan siang." kata Andrea.


"Disini makanan asli sini aja yang enak. Kalau kamu nggak cocok, kamu bisa beli Mcd." kata Erica.


"Saya akan menyesuaikan dengan makanan disini saja, Bu." kata Andrea.


"Kalau begitu kita cari sama-sama. Setelah itu kita ke makam ayah saya."


"Baik Bu."


Erica sangat bahagia hari itu. Dimana ia tidak bertemu dengan Jonathan. Dimana ia tidak harus memikirkan sesuatu yang rumit. Erica mengajak mereka makan di salah satu warung Sunda yang dulu menjadi langganannya. Warung ini memiliki masakan yang enak dan khas membuat Erica rindu dengan suasana disini.


Erica memesan makanan sayur asem, ikan bakar dan juga sambal. Andrea juga memesan menu paket begitu pula dengan supir. Erica merasa bahwa ia bisa melepas beban selama berada di Sukabumi. Canda dan tawanya terlihat lepas. Tidak pernah Andrea lihat sebelumnya.


Malam telah tiba. Andrea membuatkan segelas teh hangat untuk Erica dan udara juga semakin terasa dinginnya.


"Tehnya, Bu."


"Makasih, Dea." kata Erica sambil mengambil gelas dari tangan Andrea.


"Udara disini semakin malam semakin dingin ya Bu."


"Iya. Begitulah. Saya betah disini sebenarnya." kata Erica.


"Suasananya enak dan juga nyaman."


"Tapi tetangga disini sama saja kayak tetangga kebanyakan yang suka gibah."


Andrea tersenyum.


"Maaf, Bu. Besok kita kembali ke Jakarta kan."


Erica melihat ke arah Andrea. Wajahnya sedikit cemas.


"Iya. Besok kita balik."

__ADS_1


"Maaf ya Bu. Saya benar-benar khawatir karena kita tiba-tiba pergi ke Sukabumi."


"Saya cuma mau melepas penat aja sebentar. Besok kita kerja lagi seperti biasa."


"Baik, Bu "


"Oh ya, Dea." panggil Erica.


"Iya , Bu "


"Seberapa kenal kamu sama Pak Jonathan?" tanya Erica.


"Saya hanya sekedar tahu Pak Jonathan anaknya Ibu Christy. Dan pemilik perusahaan properti. Dan juga memiliki istri yang cantik seperti Ibu Erica." kata Andrea dengan senyumnya. Dibilang cantik, Erica menjadi tersipu malu.


"Apa dia orang yang baik?"


Andrea tampak berpikir sejenak kemudian mengangguk.


"Saya rasa Pak Jonathan orang yang baik. Memperlakukan karyawannya dengan baik. Cuma ya tegas aja sih, Bu." kata Andrea.


"Kalau nggak tegas mana mungkin bisa jadi pemimpin ya." kata Erica melanjutkan.


"Kamu boleh masuk kalau mau istirahat. Saya masih mau disini dulu."


Andrea mengangguk dan masuk ke dalam rumah Berada di dalam rumah rasanya lebih hangat daripada di luar rumah.


Keesokan harinya, Erica kembali ke Jakarta bersama Andrea dan juga supir. Ia langsung pergi ke kantor.


Merasa tidak dipedulikan oleh Erica, Jonathan datang langsung ke kantor Erica dan menutup pintu ruangannya. Menutup tirai jendela juga dan Jonathan langsung memeluk Erica.


"Syukurlah kamu baik-baik saja!" kata Jonathan dengan nada yang sangat cemas. Ia memeluk erat tubuh Erica dan menciumi rambutnya dengan wangi sampo yang berbeda seperti biasa.


"Kamu kemana kemarin? Sampai sekarang baru balik ke kantor?" tanya Jonathan.


"Aku ke Sukabumi " jawab Erica.


"Ngapain?"


"Aku menemui Ayahku."

__ADS_1


"A...ayah?"


"Aku ke makamnya."


"Oke. Nggak apa-apa, yang penting kamu..."


"Aku merasa dikhianati Jo."


"Mengkhianati? Mengkhianati apa? Aku nggak mengkhianati kamu." kata Jonathan.


"Aku pikir selama ini kamu orang yang bisa bersikap baik sama orang lain , lalu apa yang aku liat kemarin? Di rumah sakit? Itu membuat aku sakit, Jo. Ada sisi lain yang aku nggak tahu tentang kamu." kata Erica merasa kecewa.


"Kamu masih marah tentang itu?"


"Bagaimana aku nggak marah, Jo? Bagaimana aku harus menunjukkan rasa marahku saat aku tahu apa yang terjadi du rumah sakit? Bagaimana aku bisa pura-pura baik-baik aja padahal sebenernya engga." kata Erica. Melihat Erica yang hampir ingin menangis, lalu Jonathan memegang bahunya dsn menatap mata Erica.


"Iti perbuatan terakhirku. Aku nggak mengulanginga lagi. Lagipula aku nggak akan melakukannya kalau dia nggak memaksa. Aku mohon Erica, kembalilah ke rumah, aku nggak sanggup melihat kamu kesana kemari mencari tempat tidur malam ini padahal kamu bisa tidur di rumah kamu sendiri. Pintu terbuka lebar untuk kamu, Erica!"


"Jangan omong kosong, Jonathan.'


" Aku nggak ngomong kosong Erica! Ini sungguhan."


Erica diam saja.


"Pulang ke rumah ya Sayang. Aku nggak mau kamu pergi lagi. Aku nggak tahu apa yang bisa aku lakukan kalau nggak ada kamu, Erica."


Mendengar ucapan Jonathan, Erica sedikit ragu.


Benarkah ia sudah melepas semua orang yang berhubungan dengannya melalui hutang?


Bagaimana jika belum?


"Bawa aku ke tempat kamu meminjamkan uang." kata Erica


"Apa? Kamu serius?"


"Kamu lihat aku sedang bercanda?"


"Tapi kan"

__ADS_1


"Aku akan percaya kalau kau membawaku ke tempat rahasiamu." kata Erica. Jonathan terdiam tidak tahu harus menjawab apa.


__ADS_2