Rahasia Erica

Rahasia Erica
Taruhan Balap Motor


__ADS_3

Setelah selesai dengan urusan di kantor, Jonathan menuju ke gudang. Ia melihat beberapa orang yang tidak mampu membayar hutangnya disana.


"Sudah hubungi dokter Lee? Saya di konfirmasi bahwa dia membutuhkan ginjal." kata Jonathan.


"Sudah, Boss. Tapi kata dokter Lee masih menunggu informasi dari beliau, Boss."


"Bagus. Jangan sampai lepas." kata Jonathan.


"Baik, Boss."


Setelah memantau gudang, Jonathan pergi dari sana. Ia tidak bisa berlama-lama disana. Karena ia harus segera pulang agar Dion tidak menaruh curiga.


Jonathan memasuki mobilnya dan Pak Herman segera menancap gasnya.


.


.


.


Erica menelepon Arista, sahabatnya. Ia menceritakan kegelisahan hatinya tentang ibunya yang berada di Sukabumi..


"Serius? Ya ampun! Terus gimana?"


"Gue kepikiran terus sih. Rasanya gue mau balik ke Sukabumi. Udah nggak tau harus apa. Nggak kepikiran macem-macem lagi. Pikiran gue cuma je ibu." kata Erica.


"Oke. Oke. Lo tenang dulu. Gimana kalo lo bilang ke Jonathan? Gimana juga kan, Jo harus tau. Masalah kerja, gue yakin, bisa lah ijin sama dia." saran Arista.


"Tapi gue takut , Ris. Gue harus gimana, gue bingung."


"Ya kan lo nggak udah panik deh. Kalo lo panik, gue jadi nggak bisa mikir baiknya gimana."

__ADS_1


"Iya...iya.. Gue harus tenang dulu."


"Misalnya nih, lo emang harus kesana, lo bilang sama Jonathan. Jangan main pergi begitu aja ya, Er."


"Iya, Ris. Yaudah gue tutup dulu telponnya ya..." kata Erica menyudahi pembicaraannya. Arista mengiyakan kemudian ia kembali termenung memikirkan ibunya yang ada di Sukabumi.


...****************...


Malam itu, adalah malam yang ramai di salah satu daerah Sukabumi. Eshan datang dengan motornya dan menyalami teman-temannya dengan semangat.


"Hei, gimana kabar? Gimana gimana, malam ini jadi kan kita taruhan lagi?" tanya salah satu teman Eshan.


"Jadi dong, udah ada nih duitnya gue!" kata Eshan dengan semangat


"Yo, sekarang mau taruhan berapa?"


"Lima ratus ribu!" seru Eshan dengan semangat.


Eshan mengikuti taruhan balap motor. Disanalah ia menghabiskan uang bulanan yang dikirim oleh Erica setiap bulannya. Bahkan, Eshan seringkali membuat alasan agar Erica mengirimkan uangnya lebih dan lebih lagi.


Eshan tidak mencari pekerjaan yang layak. Bahkan ia cenderung menyimpan banyak hutang dan itu merepotkan ibunya. Erica bahkan tidak tahu akan hal ini.


Balap motor sebentar lagi akan dimulai. Eshan sudah memasang taruhannya. Ia yakin akan segera menang malam ini. Eshan sudah menyerahkan lima ratus ribu rupiah pada orang yang akan balap motor malam itu.


Kedua motor yang akan balapan mulak berjejer. Mereka mulai bersiap dengan posisinya. Seseorang yang memegang bendera dan menghitung angka mundur berada ditengah pembalap motor jalanan itu.


Setelah hitungan selesai, mereka langsung melajukan motornya dengan cepat.


Para penonton mulai bersorak menantikan siapa yang akan jadi pemenangnya. Malam itu, jalanan diramaikan oleh orang-orang yang sedang taruhan balap motor


...****************...

__ADS_1


Jonathan baru saja sampai rumah. Ia melepaskan sepatunya dan memasang wajah lesu pada saat makan malam.


"Haaai, Sayang, anak Mama yang baru pulang kerja. Nggak ada istirahatnya abis dari Kalimantan. Tuh liat deh wajahnya lesu kayak gitu, Pa.." kata Christy dengan sedikit nada khawatir.


"Kalau Jo mau libur, libur aja dulu, Jo. Nggak usah dipaksa kerja." kata Dion.


"Iya, Pah." Jonathan mengambil posisi tempat duduk di meja makannya.


"Istirahat aja dulu, Jo. Masa iya nggak ada liburnya? Libur sehari kan nggak apa-apa. Kenapa? Kamu takut ya kalau nggak ketemu sama Erica?" tanya Christy sedikit meledek Jonathan.


"Mama bisa aja. Jo kerja karena emang mau ketemu Erica. Kalo Jo di rumah, Erica bakalan sungkan mau main kesini." kata Jonathan


"Bilang Erica, jangan sungkan. Main aja. Sini Mama masakin apa yang Erica suka."


"Kok masakin makanan kesukaan Erica sih, Ma?"


"Iya, kan Erica calon menantu Mama. Inget ya, jaga anak orang baik-baik. Jangan bikin nangis atau sakit hati." kata Christy.


"Iya, Ma, enggak. Jo janji nggak akan bikin sakit hati atau kecewa Erica."


Baru saja dibicarakan, Erica menelepon. Jonathan menunjukkan layar ponselnya dengan nama Erica memanggilnya di ponsel.


"Nih, Ma, Erica nelpon. Jo naik ke atas dulu mau telponan sama Erica, Ma. Byeee...." Jonathan langsung melesatkan kakinya naik ke atas kamarnya dan mengangkat telpon dari Erica.


"Tuh kan, Pah, Jo udah ketemu orang yang tepat, ketemu orang yang udah bisa bikin dia jatuh cinta." kata Christy dengan senyum yang lebar.


"Biarin aja, Ma, anak muda. Biarin dia bersenang-senang selagi masih bisa jatuh cinta."


"Iya dong, Pah, Mama setuju sama Papa."


Mereka melanjutkan makan malamnya. Dan tidak menghiraukan Jonathan yang sedang menerima telpon dari Erica.

__ADS_1


__ADS_2