
Jonathan menutup telpon dari Joshua. Setelah menerima telpon dari Joshua, perasannya terasa berbeda. Mata-mata? Siapa yang mata-mata? Ia sudah berusaha melakukannya jauh dari kerumunan orang lain dan masih ada yang memata-matainya? Sial! Rutuk Jonathan dalam hati.
"Lepasin dia dulu." kata Jonathan pelan.
"Tapi Bos... Dia kan..." baru saja ajudannya ingin menyanggah. Tetapi Jonathan sudah merasa tidak sabar.
"Lepasin gue bilang!!" teriak Jonathan.
"I..iya bos.." kata ajudan. Setelah ajudan melepas tangan pemuda itu, Jonathan menghampirinya.
"Lo ngutang berapa kemarin?" tanya Jonathan menurunkan nada suaranya.
Pemuda itu diam dan tidak membalas ucapan Jonathan. Tapi karena kesabarannya setipis tisu, Jonathan menepuk pipi kanan pemuda itu.
"Berapa? Jawab! Kalau ditanya tuh jawab!!" ujar Jonathan mulai tidak sabar.
"T..tu..tujuh puluh lima juta Bos." jawab pemuda itu dengan gemetar.
"Bagus. Terus, bagaimana? Udah bisa gantiinnya belum?" tanya Jonathan.
"B-belum Bos."
"Oh belum...Gini.. Saya punya solusi bagus. Sama-sama enak. Enak di kamu enak juga disaya. Setelah selesai menyetujuinya, urusan kita selesai. Paham?" tanya Jonathan dengan nada lembut. Kini ia harus mencari cara bagaimanapun itu agar uangnya bisa kembali.
"Ap-apa itu Bos?"
"Gini..." Jonathan mendekati pemuda itu dan merangkul tubuhnya.
"Saya punya teman...Lagi sakit kritis. Dia butuh donor ginjal. Nah biar hutang kamu cepat lunas, bagaimana kalau kamu bantu saya? Nanti pasti ada lebihannya. Justru lebih baik begini, nanti kamu juga bisa mendapatkan uang." kata Jonathan .
"M-maksud Bos, saya donorin ginjal saya dan itanh saya lunas?"
"Iya. Karena kalau nunggu lo kerja, kapan bisa lunas utangnya. Lo mau gue teror terus setiap hari biar hutang lo bisa lunas? Nggak kan? Yang ada lo nya keburu mati sebelum utang lo lunas." kata Jonathan kesal menahan amarahnya. Kini ia sadar bahwa dirinya sedang dimata-matai. Maka dari itu ia akan lebih berhati-hati atas tindakannya.
"S-saya pikir-pikir dulu B-bos."
"Pikir-pikir? Kamu pikir kamu bisa bilang gitu ke saya? Hah? NGGAK BISA! Kamu cuma perlu bilang, IYA BOS SAYA SETUJU! Pikir-pikir dulu? Lo kira utang lo ini kecil HAH!" Jonathan mulai terdengar marah dari nadanya. Ia menjadi kesal dan menampar wajah pemuda itu.
"Kalau utang lo belum lunas, bakalan gue ancurin rumah lo!" kata Jonathan kesal.
"Jangan Bang! Ampun Bang!!"
"Kita cabut hari ini. Biarin dia dulu. Ada yang mau gue bicarain di Baron sama kalian." kata Jonathan.
Ajudan yang lain tidak sempat membantah apapun lagi, ia pasrah dan hanya mengikuti apa kata bossnya saja.
__ADS_1
Sesampainya di Baron, Jonathan mengumpulkan semua ajudannya di dalam satu ruangan.
"Saya ingin merubah rencana." kata Jonathan.
"Rencana apa Boss?"
"Ada yang memata-matai kita."
Yang lain menampakkan wajah tegangnya satu sama lain di ruangan itu.
"Gue nggak tau siapa itu. Bisa dari dalam orangnya atau pun dari luar."
Ketika Jonathan menyebutkan ada orang dalam, mereka saling menatap satu sama lain dalam diam tanpa bicara.
"Jadi kalau diantara kalian ada mata-mata atas apa yang saya lakukan, berhenti sekarang juga atau akan saya robek nadi kalian." kata Jonathan.
Ajudan masih tetap diam. Tidak ada satupun yang bicara.
"Orang yang dibawah gudang akan kita keluarkan satu per satu. Sebelum keluar, mereka harus tanda tangan diatas materai atas donor organ yang akan mereka lakukan adalah atas kehendak mereka sendiri." kata Jonathan sambil melemparkan map di atas meja.
Ajudan masih belum bisa berkata apa-apa.
"Kita berusaha melakukan ini agar terlihat legal. Dan tidak ada unsur keterpaksaan." kata Jonathan.
"Baik Boss."
"Mulai dari orang yang paling lama ada di gudang."
"Baik Boss."
"Sekarang!!"
Tiga orang ajudan turun ke bawah menuju ruang gudang. Setelah sampai di ruang gudang, ajudan itu membuka ruangan yang kecil dan cukup pengan karena kurangnya udara.
"Siapa yang sudah lama disini?"
"Saya Bang!! Saya!!" kata salah satu lelaki yang sudah ingin sekali keluar dari ruangan ini.
"Ikut kami ke atas!!" kata ajudan. Ia bangkit dengan kaki yang rapuh karena jarang digerakkan. Disana ia terlalu banyak duduk dan hanya bisa duduk.
Ajudan membantunya berdiri agar langkahnya bisa dipercepat.
Setelah sampai di lantai atas, pemuda itu langsung duduk di sebuah kursi menghadap ke arah Jonathan.
"Sudah berapa lama kamu disini?" tanya Jonathan di kursi kerjanya.
__ADS_1
"Tujuh bulan "
"Kamu sudah tau konsekuensinya jika tidak bisa bayar hutang?"
"Sangat tahu Bos."
"Bagus. Sekarang tanda tangani ini." kata Jonathan Pemuda itu mengangguk mengerti
Pemuda itu membuka map yang ada diatas sana. Ia membaca perjanjian yang ada disana baris demi baris. Pemuda itu menelan salivanya . Tidak menyangka bahwa Bossnya akan sekejam seperti ini pada dirinya.
"Jangan coba-coba kabur ataupun lari. Karena diatas materai ini sudah sah di mata hukum. Saya berusaha objektif terhadap kamu. Urusan kita hanyalah hutang dan kamu memang harus membayarnya." kata Jonathan.
"Baik Bos."
Pria itu menandatangani surat yang ada di dalam map. Setelah menandatangani map itu, pemuda itu angkat bicara.
"Saya janji tidak akan kabur. Saya akan membayar hutang saya. Saya ingin hidup tenang. Saya rela jika harus membayarnya dengan ginjal saya." kata pemuda itu hampir saja menangis. Suaranya bergetar. Yang lain cukup merasa kasihan.
"Hmm...sesegera mungkin ya? Siapa nama kamu?"
"Septian, Boss."
"Oke. Saya duluin kamu. Tenang aja. Nanti kamu juga dapat bagian kok. Jangan pindah tempat. Siap-siap kamu saya hubungi. Kalau ketahuan kabur, saya akan habisi kamu!"
"Baik Boss. Saya tidak akan berani macam-macam"
"Antar dia pulang dan lacak tempatnya." kata Jonathan.
"Baik Bos.."
Ajudan mengantar pemuda bernama Septian itu keluar ruangan. Setelah berdiri di depan rumah itu, Septian menghirup napasnya dalam-dalam...Menikmati udara yang segar karena selama ini ia sudah cukup menderita .
Sepeninggal Septian, Jonathan mengecek kembali berkaa yang sudah di tanda tangani itu. Kemudian tangan kirinya meraih ponsel dan menguhubungi Dokter Willem . Suara Dokter Willem tersambung di seberang sana.
"Jonathan! Kemarin saya ke rumah! Nah tapi kamu sedang berbulan madu." kata Dokter Willem.
"aah iya tapi sekarang sudah balik."
"Bagaimana? Kemarin saya nanya anak buahmu tapi mereka bilang tunggu. Eh tahu-tahunya pulang besoknya!
Tak lama mereka mengobrol, Jonathan langsung bersemangat.
" Saya punya sukarelawan."
"Bagus itu."
__ADS_1