
Pagi ini, Erica bangun dari tidurnya. Kepalanya sedikit pusing dan merasa tidak enak pada tubuhnya. Apakah ia terlalu lelah semalam? Ah tidak. Semalam dia langsung tidur setelah pulang dari kantor. Apakah ia sakit? Kenapa tubuhnya merasa tidak enak ya?
Erica turun ke lantai bawah dan menemui Ibunya yang sedang membuat sarapan di dapur.
"Bu."
"Sudah bangun? Ayo sarapan. Jonathan sudah berangkat barusan."
"Kok Jonathan nggak bangunin Erica ya, Bu?"
"Katanya biar Erica istirahat lebih lama." kata Ibu sambil menyodorkan piring denga telur ceplok setengah matang dan juga roti yang diletakkan dibawah telur.
Erica sangat suka dengan telur ceplok setengah matang buatan Ibu. Tapi pagi ini terasa berbeda. Rasanya Erica ingin muntah. Erica langsung ke wastafel dan mengeluarkan isi perutnya. Tapi tidak ada apapun. Hanya ada air yang keluar dari mulutnya.
"Kamu kenapa, Erica?"
"Nggak tau, Bu. Erica nggak enak badan."
"Ibu kerokin ya?"
"Bu, Erica nggak mau telor ceplok. Erica enek liatnya."
"Kalau gitu mau makan apa?"
"Bubur aja, Bu. Nanti minta bibi anterin ke kamar Erica ya. Erica lemes banget." kata Erica. Kemudian Andrea datang ke rumah dan siap menjemput Erica. Tapi setelah Andrea melihat wajah Erica yang pucat, Andrea langsung menghampirinya dengan khawatir.
"Bu, Ibu kenapa?"
Erica membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Andrea yang sedang menghampirinya.
"Saya nggak enak badan."
"Ya ampun, Bu. Ibu istirahat aja, Bu. Biar saya ke kantor dan menghandle kerjaan hari ini."
"Iya, Dea, saya minta tolong ya. Saya pusing banget, saya perlu istirahat." kata Erica.
"Baik, Bu."
Andrea pergi meninggalkan rumah dan menelpon Jonathan..Ia memberitahu Jonathan bahwa Erica tidak bisa masuk kerja hari ini karena sedang sakit.
Jonathan yang diberitahu begitu merasa terkejut. Karena pagi tadi saat ia meninggalkan rumah, Erica terlihat baik-baik saja.
Jonathan segera menelpon Erica. Dengan lemas, Erica mengangkat telponnya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Jonathan dengan nada khawatirnya.
"Nggak,aku cuma nggak enak badan aja."
__ADS_1
"Sudah makan?"
"Aku minta ibu buatin bubur..."
Saat bicara dengan Jonathan, tiba-tiba perut Erica kembali mual. Erica langsung bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Erica muntah-muntah. Jonathan mendengar suara Erica yang berusaha mengeluarkan muntahannya di kamar mandi. Setelah mendengar Erica muntah seperti itu, Jonathan menutup telponnya dan langsung pulang ke rumah. Padahal, ia baru saja masuk ke lobby kantornya.
Di rumah, Ibu memberikan bubur yang telah dibuatnya pada Erica. Baru saja Erica menyuap, tapi sudah memuntahkannya lagi.
"Erica nggak bisa makan, Bu."
"Nak..kamu kenapa ya, Nak..Apa kamu harus ke dokter?"
"Erica lemes, Bu."
"Ibu harus telpon Jonathan."
"Nggak usah, Bu."
"Tapi kondisi kamu kayak gini, Erica."
"Nanti juga baikan."
"Baikan apanya? Muntah-muntah terus gitu."
Ibu semakin khawatir dengan keadaan Erica saat ini.
Tidak lama kemudian, Jonathan membuka pintu kamarnya melihat Erica yang sedang menyandarkan tubuhnya pada dipan tempat tidur dan ibu didepannya yang sedang memegang mangkuk bubur.
"Nggak apa-apa kok."
"Nggak apa-apa gimana sih, kamu itu harus diperiksa! Sejak tadi kamu memuntahkan makanan terus Erica!" omel Ibu. Ibu sangat kesal kenapa Erica harus berbohong seperti itu.
"Muntah? Muntah kenapa, Bu?"
"Nggak tahu Ibu juga. Kamu harus segera membawanya ke dokter, Jonathan. Karena sejak tadi Erica terus memuntahkan makanan yang ia makan."
"Iya, Bu." Jonathan langsung membuka lemari pakaian Erica dan mencari cardigan disana. Setelah mendapatkan cardigannya, Jonathan memakaikannya pada Erica. Kini Erica siap berangkat dan Ibu sudah merasa lebih tenang karena Jonathan membantu mengurusi Erica.
"Kami ke dokter dulu ya , Bu"
"Hati-hati ya, Jonathan."
Jonathan memapah tubuh Erica yang lemas. Wajahnya pucat dan juga tidak bersemangat.
Jonathan langsung meminta Pak Herman membukakan pintunya. Setelah pintu terbuka, Erica masuk mobil dengan perlahan.
Herman langsung menjalankan mobilnya dengan perlahan menuju rumah sakit.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian, Erica sudah berada di dalam ruangan dokter untuk di periksa. Sang dokter memberikan gel diatas perut Erica dan menempelkan benda dengan kabel diatas perut Erica. Setelah hasilnya terlihat di layar dengan warna hitam putih, barulah dokter mengerti mengapa Erica mengalami hal yang tadi di sebutkan oleh Jonathan .
Setelah selesai pemeriksaan, Erica dan Jonathan duduk tepat di depan meja dokter.
"Jadi gimana, Dok? Istri saya sakit apa?"
"Nggak sakit, kok, Pak."
"Terus kenapa muntah-muntah?"
"Itu disebut morning sickness. Gejala dipagi hari yang dialami wanita hamil di trisemester pertama." kata dokter dengan senyumnya. Mendengar perkataan Dokter, Erica terkejut bukan main.
"Hamil?"
"Iya, Ibu. Ibu hamil. Selamat ya, Bu. Kehamilannya sudah berjalan empat minggu."
Jonathan menatap arah Erica. Ia memeluknya begitu saja di depan dokter tanpa permisi sehingga dokter menjadi tersenyum kembali.
"Terima kasih, Sayang...."
"Saya akan resepkan vitaminnya ya. Kalau ada apa-apa, bisa langsung hubungi saya saja, ya, Pak."
"Baik, dokter. Terima kasih banyak."
Setelah menerima resep dari dokter, Erica dan Jonathan keluar dari ruang dokter itu. Jonathan menggenggam erat tangan Erica. Meskipun banyak yang melihat, Jonathan tidak akan melepasnya.
Erica juga sesekali tersenyum melihat Jonathan yang tidak berhenti tersenyum.
Setelah sudah selesai mengambil obat di apoteker, handphone Erica berbunyi. Ada telpon dari mertuanya, Christy.
"Erica sayang, kamu kenapa? Tadi Ibumu telpon Mama, katanya kamu muntah-muntah. Kenapa sayang? Ada apa?" tanya Christy dengan khawatir.
Erica tersenyum dan melirik ke arah Jonathan. Jonathan bertanya tanpa suara, siapa yang menelpon. Erica juga menjawab tanpa suara. Dan mengatakan bahwa Mamanya lah yang menelpon.
"Iya, Ma. Tadi muntah-muntah tapi sekarang udah nggak apa-apa kok. Jo udah bawa Erica ke dokter."
"Udah ke dokter? Terus apa kata dokter?"
"Erica hamil satu bulan, Ma..."
"Aaaaaaaa.....Pah papaaaahhh paaaaah Erica hamil Paaaaaa!!!! Kita akan punya cucuuuuu!!!! Kalau gitu kamu jaga kesehatan ya Sayang...Harus diperhatikan makannya juga jangan capek-capek. Tenang aja nggak usah khawatir, nanti Mama bantu semua keperluan kamu kalau perlu nambah pembantu lagi. Pokoknya nggak boleh ada yang capek disana. Okey!" kata Christy dengan antusiasnya. Erica tersenyum mendengar perhatiannya dari mertua yang begitu penuh kasih terhadap dirinya.
Jonathan mengelus dan juga mengecup kening Erica.
Kini perjalanan pernikahan mereka akan semakin panjang dan sibuk. Erica juga masih akan tetap bekerja meski kehamilannya berjalan. Ia tetap memerlukan Andrea disisinya. Kini kepercayaan Erica sudah sepenuhnya pada Andrea. Andrea juga tidak mungkin mengecewakan Erica karena Andrea termasuk orang yang dipercaya juga oleh Christy.
Dengan tangan yang saling menggenggam, Erica percaya dan yakin bahwa keluarga yang dia bangun dengan hati yang tulus juga akan berakhir dengan tulus. Ia juga berusaha mempercayai Jonathan kembali. Ia percaya bahwa Jonathan adalah orang yang baik dan Erica adalah wanita tersabar yang pernah dimiliki oleh Jonathan. Jonathan tidak sampai hati menyakiti perasaannya lagi.
__ADS_1
Kini mereka tinggal menunggu Jonathan Junior lahir di keluarga Johnson. Bulan demi bulan berlalu... Jonathan mengusap perut Erica yang semakin membesar, mengecupnya dengan kasih dan sayangnya dan menatap Erica dengan penuh cinta yang tak akan pernah luntur dari hatinya. Kehadiran buah hati ini melengkapi kehidupan cinta Jonathan dengan Erica.
...******TAMAT********...