Rahasia Erica

Rahasia Erica
Baju sama?


__ADS_3

Wanita yang juga ingin mengisi air minum itu terpana melihat kehadiran Erica disampingnya. Pasalnya, baju yang dikenakan mirip dengan miliknya.


"Wow, it's so amazing. You are wearing the same dress with me. Just different colors!" seru wanita itu sangat terkejut. Erica sebenarnya tidak ingin membahasnya. Tetapi wanita itu lebih dulu berbicara mengenai bajunya.


"Ah i think so."


"Darimana kamu dapatkan baju desain ini?" tanya wanita itu kemudian berbicara dengan bahasa Indonesia.


"Dari pacarku."


"Your boyfriend must be a romantic person. Because this dress is so expensive." kata wanita itu lagi.


"Oh ya? How could you know about that?" tanya Erica lagi. Wanita itu mencampur bahasanya. Beruntunglah Erica bisa membalasnya.


"Because this is my design. I make this design. And it's available in three colors. Pacar kamu pasti sangat mengetahui fashion ya. I'm so glad you are wearing my design. Thank you so much."


"You are welcome." kata Erica kemudian. Setelah wanita itu pergi lebih dulu dengan senyum di wajahnya, Erica masih dengan tatapan wajah yang bingung. Ia menghampiri Jonathan yang sedang asyik mengobrol dengannya.


"Hai, Sayang, kok lama?" tanya Jonathan langsung meraih pinggul Erica. Erica kemudian duduk di samping Jonathan. Erica hanya membalasnya dengan senyuman.


"Bapak silakan makan dulu, nanti kalau sudah selesai makan, saya akan kembali dengan membawa teh dan kopi." kata Prasetya mengundurkan diri. Ia tidak ingin mengganggu acara makan malam sepasang kekasih itu.


"Oke. Nanti saya telpon kalau sudah selesai makan."


"Baik, Pak." Prasetya lalu meninggalkan meja makan mereka berdua. Jonathan ternyata masih penasaran kenapa Erica lama sekali mengambil minum saja.


"Kamu kok lama ambil minumnya?" tanya Jonathan menyuap potongan steaknya.


"Aku ketemu wanita yang memakai baju sama denganku." kata Erica..


Jonathan langsung berhenti mengunyah ketika mendengar ucapan Erica.

__ADS_1


"Oh ya? Lalu dia bilang apa?"


"Dia bilang ini baju desain miliknya. Dan baju ini hanya ada tiga warna. Baju ini juga mahal." kata Erica. Tenggorokan Jonathan tercekat mendengar perkataan Erica.


"Jo, kenapa diam?" tanya Erica.


"Itu Vanessa."


"Vanessa? Vanessa mantan pacarmu?" tanya Erica tidak percaya.


"Iya."


"Baju ini desain miliknya dan kamu memesankannya untukku?" tanya Erica tidak percaya. Ada sebersit rasa kecewa di dal hatinya. Entah apa itu.


"Bukan itu maksudku. Aku nggak tahu kalau itu desain baju punya Vanessa!"


"Terus darimana kamu tahu itu Vanessa hanya dari ceritaku saja?" tanya Erica.


"Vanessa selalu berkata hal seperti itu jika baju desainnya dipakai oleh orang lain. Dia merasa bangga jika desainnya dipakai oleh orang lain. Artinya dia berhasil menjual baju dengan desainnya." kata Jonathan.


"Okey, okey,kalau kamu nggak suka, kamu bisa berikan baju ini ke orang lain dan aku akan belikan baju yang baru. Kamu bisa membeli baju yang kamu inginkan dengan pilihanmu." kata Jonathan


"Ini rancangan Vanessa. Vanessa suka memakai baju seperti ini. Apa kamu belum benar-benar bisa melupakan Vanessa sampai-sampai aku harus berdandan seperti Vanessa?" tanya Erica. Ia ingin menangis mengetahui hal ini.


"Nggak, Sayang..Enggak. Sama sekali enggak."


Disela-sela pembicaraan mereka, datanglah seorang wanita yang memakai dress yang sama dengan Erica. Menyapa mereka dengan senyum yang ramah.


"Wow, i'm so surprised meet you in here, Jonathan!" sapa wanita itu dengan ceria. Lalu pandangannya beralih ke arah Erica, wanita yang memakai gaun yang sama dengannya.


"Is she your girlfriend?" tanya wanita itu yang kemudian ia kenal sebagai Vanessa.

__ADS_1


"Yes. She is." jawab Jonathan.


"How dare you are! Aku ke Milan dan kamu sudah mengalihkan perasaanmu ke wanita lain?" tanya Vanessa dengan nada tidak senang.


Erica melihat wajah Jonathan yang kebingungan. Ia tidak ingin memperumit keadaan. Karena Vanessa sudah lama tidak bertemu dengan Jonathan, ia mempersilakan mereka bicara berdua.


"Silahkan bicara berdua. Saya akan ke kamar lebih dulu!" kata Erica. Ia langsung pergi tanpa menghiraukan panggilan Jonathan..


Kini ia berhadapan dengan Vanessa. Wanita yang meninggalkannya ke Milan demi mengejar karirnya.


"Kamu menduakan aku dengan wanita itu?" tanya Vanessa tidak percaya.


"Namanya bukan Wanita Itu. Namanya Erica." jawab Jonathan dengan tatapan yang tajam


"Oh okey, whatever and i don't care. Dia nggak lebih cantik dari aku kenapa kamu bisa-bisanya menduakan aku seperti itu?" tanya Vanessa.


"Look your self. Kamu ninggalin aku ke Milan demi pekerjaan dan karir kamu. Did you care about my feeling?" tanya Jonathan kesal. Ia tidak suka jika ada seseorang yang membicarakan Erica dengan buruk.


"I did! Aku balik ke Indo karena aku mau menemui kamu. Aku kerja, aku mau membuktikan talentaku, Jonathan! Jadi aku ke Milan!"


"Then what you said before you go to Milan?" tanya Jonathan.


"I said i will comeback."


"Then?"


"Then....then what?"


"Kamu bilang terserah aku masih mau melanjutkan hubungan ini atau tidak. Kamu meninggalkan aku dengan cepat. Tidak ada kabar atau apapun darimu. Kamu pikir mudah bagi aku menjalani semua ini dengan patah hatiku kamu meninggalkan aku? Kerjaan aku berantakan! Beruntung ada Erica yang bisa menyelamatkan suasana hatiku!" kata Jonathan.


"Jonathan... Bukan ini yang aku mau."

__ADS_1


"Lalu? Kamu bisa bebas mengatur perasaanku sekarang? Erica, wanita baik yang aku kenal. Aku tidak sanggup menyakiti hatinya dan jangan sekali-kali kamu menyakiti hatinya! Atau kamu akan mendapatkan balasannya!" kata Jonathan. Ia lalu meninggalkan Vanessa.


Vanessa tidak sanggup berkata-kata lagi. Jonathanpun tidak memedulikan itu. Ia akan kembali pada Erica dan meminta maaf padanya.


__ADS_2