Rahasia Erica

Rahasia Erica
Khawatirnya Ibu


__ADS_3

Erica menghampiri Jonathan yang sedang bermain ponsel di salah satu titik sudut. Erica menepuk pundaknya dengan pelan dan memanggil dengan panggilan sayangnya.


"Sayang... Kamu lagi telponan?" tanya Erica yang melihat Jonathan sibuk sendiri dengan ponselnya.


"Enggak, sayang. Aku cuma cek pesan aja kok. Soalnya tadi ada yang kirim pesan."


"Oh, yaudah ayo bayar yuk..." kata Erica mengajak ke kasir. Jonathan langsung meraih pinggul Erica dan berjalan ke kasir. Jonathan membayar semua belanjaan Erica dan membawanya ke apartemen Erica. Selama perjalanan, Jonathan menggenggam tangan Erica dan mencium Erica tepat di bibirnya.


"Aku nggak mau terlalu sering mampir, Sayang... Aku takut nanti ibu mengira aku lelaki yang suka berlama-lama di rumah pacarnya. Weekend aja aku mampir ya, Sayang...."


Erica mengangguk dan mencubit kecil lengan Jonathan yang terasa kekar itu. Padahal ia sudah menyentuh tubuh Jonathan. Tapi entah mengapa hati Erica masih bergetar mengingat kejadian mereka bersama di hotel.


"Iya, Sayang...Nggak apa-apa kok. Aku ngerti. Makasih ya, Sayang..." kata Erica.. Ia mengecup pipi Jonathan dan Jonathan berbalik mengecup dahi Erica.


"I love you..." ucap Erica.


"I love you more.."


Erica keluar dari mobilnya. Dan Pak Herman mengantarkan Erica sampai di depan lift. Selepas mengantar Erica, Jonathan menelpon salah satu ajudannya.


"Gimana? Sudah datang?" tanya Jonathan melalui ponselnya.


"Masih dalam perjalanan, Boss. Nanti kalau sudah sampai saya kabari."


"Oke. Kasih tau saya, jangan lupa ikuti terus ya." kata Jonathan kemudian menutup telponnya.


"Ke rumah aja, Pak."


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Jonathan sedang menunggu kedatangan seseorang. Seseorang yang telah membuat hidup Erica menderita karena perbuatan dan sikapnya.


Kini Jonathan akan memberikan sedikit pelajaran untuk orang itu. Siapa lagi kalau bukan Eshan. Kakak Erica.


...****************...


Erica membuka pintu apartemennya dan melihat ibu yang sedang duduk menonton televisi.


"Ibuuuu...."


"Erica....Sudah pulang sayang?"


Erica meletakkan belanjaannya di dapur dan duduk di sebelah ibu dan juga memeluknya dengan erat.


"Erica kangen sama Ibu..."


"Ibu juga sayang."


"Iya, Erica... ibu kepengen masak dari tadi. Ibu nggak tau belanja dimana. Ibu cuma liat makanan yang ada dikulkas... Kok cuma buah sama coklat dan minuman kaleng? Erica nggak masak ya?" tanya Ibu.


"Erica capek, bu, kalau masak. Erica pesen makanan sama Arista, temen Erica. Kan Arista buka katering. Erica pesen aja deh. Lagipula cuma Erica doang yang makan. Nggak perlu masak." jawab Erica.


"Kalo gitu, karena ibu udah disini, ibu yang masak ya."


"Iya bu, kalau ibu butuh sesuatu, ibu bilang Erica nanti Erica beliin ya..."


"Ibu nggak tau kalau Erica sekarang sudah hidup berkecukupan disini, Nak. Ibu bangga banget sama Erica.."


"Iya, Bu...Setelah Ayah nggak ada, Erica mau bahagiain Ibu. Erica mau bikin ibu bangga. Dan Erica mau beliin apa aja yang selama ini nggak pernah kesampaian. Ibu mau apa? Tas? Sepatu? Baju? Ibu bilang semua sama Erica. Pasti Erica belikan!"

__ADS_1


Mendengar apa yang diucapkan Erica sedikit membuat hati ibu sedih. Seketika ia teringat dengan Eshan, anak lelakinya yang selama ini selalu membuat masalah di Sukabumi. Ibu senang melihat keceriaan Erica. Tetapi kenapa, anak lelakinya selalu membuat hatinya sedih karena ulahnya.


"Kakakmu membuat masalah kemarin, Erica..." ucap Ibu. Hal itu membuat Erica berhenti beraktivitas.


"Iya, Erica tahu, Bu..."


"Ibu ga menyangka kalau masalah yang ditimbulkan cukup membuat Ibu shock..."


"Ibu...Ibu tahu kan, Bu, kalau Erica khawatir sama Ibu? Erica cuma nggak mau kalau Ibu sakit dan Erica nggak tahu. Erica merasa bersalah bu. Jadi Ibu lebih baik disini sama Erica. Erica bisa ngerawat ibu." kata Erica.


Ibu mengangguk lemah.


"Tapi Ibu khawatir dengan Eshan. Bagaimanapun juga, Eshan itu kakak kamu."


"Erica tahu bu. Tapi menghabiskan uang bulanan yang aku kirimkan untuj bertaruh balap motor apakah benar, Bu? Erica kerja bu, dari pagi sampai malam. Untuk memperbaiki ekonomi kita. Tapi bukan berarti hasil yang Erica berikan pada ibu digunakan untuk bertaruh seperti itu, Bu." Erica mengungkapkan betapa kecewa hatinya setelah tahu uang bulanan yang diberikan untuk bertaruh balap liar.


"Ibu tahu,Nak... Ibu hanya mengkhawatirkannya saja...."


"Bu, Abang udah besar. Abang kalau memang butuh uang, kerja, Bu. Kerja. Bukannya ngandelin Erica dan menyusahkan Ibu."


"Iya, Erica..."


Erica merasa kesal jika harus membahas Eshan. Pasalnya, Eshan hanya bisa menyusahkan dirinya dan juga ibunya.


"Bu, mari kita nggak bicarakan Abang malam ini, Bu. Erica terlalu capek. Karena Erica sudah nggak habis pikir dengan sikap Abang." pinta Erica.


"Iya, Erica. Ibu nggak akan membahasnya. "


"Kita masak besok pagi aja, Bu. Malam ini Ibu makan dulu aja ya makanan yang Erica belikan tadi.."

__ADS_1


"Makasih, ya, Nak."


"Erica yang makasih ya, Bu. Ibu udah mau ikut Erica kesini." Erica memeluk Ibunya. Ia merasa bahagia sekali karena bisa bertemu dengan putrinya yang ia sayangi. Erica termasuk anak yang penurut. Ibu senang dengan hal itu.


__ADS_2