
Erica disuguhkan kemewahan bersama Jonathan. Toko baju eksklusif yang dipilihkan Jonathan begitu terlihat mewah dan elegan. Erica terkesima dengan karyawan yang melayani mereka penuh dengan keramahan.
Penasaran, Erica ingin melihat berapa harga baju yang dibanderol disana. Wow...Mahal sekali. Harga baju ini setara dengan gaji Erica sebulan. Walaupun menabung, rasanya akan sangat sayang jika membeli baju mahal seperti itu.
"Pak, apa kita nggak bisa ke tempat lain aja ya? Kayak toko baju yang ada di Bulan itu tuh, yang ada berbagai macam merk baju. Kayaknya lebih bagus dan cocok deh sama saya , Pak." kata Erica. Seketika rasa percaya dirinya menciut ketika melihat baju yang di jual di toko ini.
"Baju disini bagus. Impor semua." jawab Jonathan. Erica mengangguk mengerti.
"Tapi, Pak. Ini apa nggak kemahalan? Nggak mau cari yang lebih murah gitu?" tanya Erica masih berusaha merayu Jonathan agar keluar dari toko itu.
"Mbak, pilihkan satu baju buat dinner yang bagus dan kelihatan elegan ya." kata Jonathan bwrkata langsung pada pelayan toko disana. Ia tidak mau memedulikan perkataan Erica yang terus saja bernegoisasi.
"Baik, Pak." jawab pelayan itu mengerti. Ia segera mengeluarkan koleksi yang mereka miliki dan dihadapkan langsung kepada Jonathan.
Erica mencoba satu persatu gaun yang mewah itu dan bolak balik berkali-kali dari fitting room ke hadapan Jonathan.
Hingga akhirnya pilihan Jonathan jatuh kepada dress seperti ini
"Bungkuskan dua gaun itu ya. Saya langsung bayar." kata Jonathan tanpa berbasa-basi. Baru saja Erica ingib menginterupsinya. Tetapi rasanya Jonathan tidak suka di interupsi jika dia sudah memilih sesuatu. Maka, Erica akan diam saja mengikuti apa maunya Jonathan.
Baju yang tadi bagus sih. Tapi masa iya sih, makan malam aja harus pake baju sebagus itu? Nggak salah nih? Terus makan malam doang dia juga harus make up tipis-tipis dong ya? Erica jadi penasaran akan seperti apa makan malam dengan status pacar 'bohongan' Jonathan ini.
"Bajunya kamu pakai nanti ya malam minggu besok. Saya sudah siapkan jadwal Sabtu besok. Nanti saya jemput ya." ucap Jonathan
"Saya bisa datang sendiri kok, Pak....ke rumah Bapak.." kata Erica
"Mana pantas sih seperti itu? Ya saya jemput lah. Atau minimal supir yang akan jemput kamu. Liat aja besok. Pokoknya jangam datang sendiri! Ingat itu." kata Jonathan.
Erica hanya menyahut seadanya. Karena seperti dugaannya. Jonathan tidak mau dibantah jika sudah bertitah demikian.
Jonathan mengantarkan Erica pulang ke apartemennya. Ia melihat tempat yang dihuni oleh Erica itu.
"Coba saya mau lihat apartemen kamu. Kayak gimana sih." kata Jonathan
__ADS_1
"Pak, nggak usah lah, Pak, itu kan privacy saya. Masak sampai saya harus tinggal di apartemen aja Bapak mau tahu juga sih, Pak?" kata Erica tidak percaya dengan apa yang dilakukan Jonathan ini.
"Ya saya mau lihat aja. Kenapa sih? Takut ketahuan sama pacarnya?" tanya Jonathan
"Pacar apaan sih, Pak. Kan Bapak tahu kalau saya udah putus kemarin."
"Yaudah ayo liat."
Dengan enggan Erica mengajak Jonathan ke apartemennya. Apartemen yang dihuni Erica termasuk apartemen biasa. Dengan lingkungan yang cukup bersih. Ini adalah apartemen yang mampu Erica sewa selama berada di Jakarta. Jonathan melihat apartemen itu sedikit agak sempit.
"Minggu depan ganti ke apartemen baru ya." kata Jonathan.
"Loh, loh, Pak. Ngapain, Pak? Apartemen yang mampu saya sewa cuma yang ini. Saya nggak ada niatan pindah apartemen kok!" tolak Erica
"Kalau Mama saya datang ke apartemen pacar saya, nggak mungkin kan apartemen kayak gini yang mau saya kasih lihat? Nanti saya pilihkan tempat yang bagus. Nggak usah pusing sama biaya. Saya akan berikan apartemen itu buat kamu." kata Jonathan.
Erica yang masih bingung dengan Jonathan seperti ini ingin segera protes lagi.
"Loh, Pak...Pakk... Nggak perlu, Pak... Pak..."
Tapi terkadang Erica selalu melupakan siapa Jonathan sebenarnya
"Saya nggak mau dengar tawar menawar lagi." kata Jonathan. Erica sedikit memanyunkan mulutnya dan tidak percaya. Menjadi pacar bohongan saja hidupnya mulai berubah. Apalagi menjadi pacar sungguhan. Kenikmatan materi yang akan Erica dapat.
Tapi Erica tidak mau serakah .
Begini saja sudah cukup membuatnya bahagia. Bisa berada disamping Jonathan saja sudah merupakan hal yang langka. Jadi apapun itu harus disyukuri bukan?
"Saya pamit pulang. Barang kamu nggak banyak kan? Siap-siapim pindah minggu depan ya. Malam ini saya akan carikan apartemen baru." kata Jonathan
Ya tentu saja. Mencari unit apartemen baginya sangat mudah. Hanya tinggal menjentikkan jari saja sudah dapat yang bagus dengan harga yang terjangkau. Belum lagi bisa bernegoisasi. Susah sudah kalau punya pacar dengan segudang privilage. Erica bisa apa? Hanya diam dan melongo betapa kayanya Jonathan ini.
"Pak...."
"Ya?"
"Bapak nggak salah mau ngasih saya apartemen? Saya nggak harus bayar cicilan gitu, Pak? Ke Bapak misalnya?" tanya Erica.
__ADS_1
"Buat apa kamu nanyain hal kayak gitu? Kamu pikir saya lagi mau belajar berhitung sama kamu?" tanya Jonathan
"Ya saya kan nggak enak, Pak. Menerima sesuatu yang gratis dari Bapak kayak gini." kata Erica merasa tidak enak hati.
"Kata siapa gratis? Kan kamu jadi pacar bohongan saya dengan segala konsekuensinya."
"Iya, sih, Pak...."
"Nah yaudah. Terus apalagi yang kamu takutin?"
"Omongan orang, Pak....."
"Sumpel aja mulut yang suka gosip itu!" gerutu Jonathan kesal
Erica kembali tersenyum melihat Jonathan. Jonathan sudah bersiap kembali dibelakang kemudi mobilnya dan melambaikan tangan ke arah Erica
"See you at the office ya, Erica."
"Iya , Pak."
Jonathan menginjak gas mobilnya dengan pelan dan mengemudikannya juga dengan perlahan
Erica memperhatikan mobil Jonathan yang semakin lama semakin hilang dari pandangannya dan tersenyum sendiri mengingat Jonathan yang memperlakukan dirinya dengan istinewa.
Erica harus berterima kasih karena Jonathan telah mengubah hidupnya dari wanita biasa saja menjadi wanita luar biasa. Dirinya bersyukur kesempatan ini bisa datang kepada dirinya.
Erica mengambil ponselnya dan menekan tombol telepon milik Arista.
"Ris, sibuk nggak."
"Nggak. Kenapa? Oh ya kemarin lo nelpon gue ya tapi gue belom sempet nelpon lo balik. Sorry kemarin gue sibuk. Ada apa , Er?"
"Ih iya lo jahat banget belom nelpon. Gue mau kasih tau lo nih gue punya kerjaan sampingan." kata Erica
"Akhirnya. Kerjaan apaan?" tanya Arista.
"Jadi pacar bohongannya boss gue."
__ADS_1
"Uhuk uhuk... Apa? Jadi apa???"
Arista yang sedang makan sesuatu menjadi tersedak karena apa yang baru saja Erica katakan