
Jonathan merapikan Baron selama Erica pergi ke Sukabumi. Tentu saja ia merasa takut jika masih ada sesuatu yang tertinggal. Namun ia berjanji pada dirinya sendiri akan mengakhiri tempat ini. Dan rumah ini akan ia rapikan dan akan ia sewakan untuk orang lain.
Setelah mengeluarkan para peminjam uang dari gudang bawah, Jonathan merasa tenang karena ia bisa kembali ke kehidupan lamanya.
Ia ingin menunjukkan pada Erica bahwa ia telah memusnahkan segala yang berkaitan dengan hutang piutang.
Erica melihat rumah bagus milik Jonathan itu dari dalam mobil. Melihat suasana rumah yang indah dan asri itu.
"Mau turun?" tanya Jonathan pada Erica yang masih diam di dalam mobil.
Erica mengangguk dan mulai turun dari mobil diikuti dengan Jonathan. Erica menyapu halaman rumah itu dengan matanya sedikit demi sedikit. Kemudian melihat rumah dengan sedikit furnitur disana dengan banyak patung kuda yang terlihat mahal di pajang di bufet ruang tamu itu.
Walau rumah itu bagus, tetapi rumah itu terlihat hampa dan hawanya tidak bersahabat untuk Erica.
Erica menyentuh furnitur yang ada disana. Membayangkan suaminya berkuasa di ruangan itu karena ada orang yang membutuhkan pinjaman uang.
"Awalnya aku tidak pernag berniat melakukan hal ini."
"Namun pada akhirnya kamu melakukannya."
"Aku hanya iba pada mereka."
"Dari rasa iba, kamu merubahnya menjadi kesempatan yang lain."
Jonathan tidak bisa menjawab perkataan Erica lagi. Ia hanya diam.
"Aku mau menebus kesalahan yang sudah aku perbuat, Erica. Tolong beri aku kesempatan dan aku harap masih ada kesempatan itu."
"Bagaimana caranya?"
"Kamu bisa memiliki rumah ini. Aku akan menyerahkannya atas namamu." kata Jonathan.
Erica berpikir sejenak.
"Menyerahkan rumah ini tidak mengubah apapun kecuali kamu mengubahnya dari hatimu sendiri." kata Erica.
__ADS_1
"Aku mengerti, Erica."
"Lepaskan semua yang berkaitan dengan ini, Jo. Dan itu hanya bisa kamu lakukan dengan hati dan pikiranmu. Jika kamu tidak bisa melakukannya, aku yang akan pergi. Aku tidak bisa melihat suamiku bersikap kejam pada orang lain." kata Erica.
"Pergi?"
"Iya, aku akan meninggalkan semua yang telah menjadi milikku selama aku bersamamu. Aku tidak mau semua kekayaan itu. Aku bekerja keras menghidupi keluargaku. Aku tidak masalah memulainya lagi dari nol. Tapi aku tidak ingin suamiku menjadi seorang pembunuh." kata Erica menatap Jonathan. Jonathan kehabisan kata-kata. Ia tidak bisa mendengar lebih jauh lagi jika Erica akan meninggalkannya.
Jonathan tidak bisa membayangkan jika Erica pergi dari hidupnya. Entahlah, kurang bersyukur apa Jonathan memiliki wanita baik dan sabar seperti Erica yang tidak haus akan harta milik dirinya.
Erica membalikkan tubuhnya dan keluar meninggalkan rumah itu. Ia menatap pekarangan rumah yang rapi dengan tanaman disana. Rumah yang indah ini harus menjadi mimpi buruk orang lain. Ia tidak bisa membayangkan betapa pedihnya orang-orang yang pernah berurusan dengan Jonathan dulu.
Jonathan bersyukur Erica masih memberi kesempatannya untuk berubah. Jonathan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan membohongi apalagi berkhianat pada Erica.
**********
Joshua memainkan pemantik yang sejak tadi ada di tangannya. Ia menunggu telpon dari Jonathan dan mengatakan bahwa Erica telah mengetahui rahasianya. Sudah lama Joshua ingin mengakhiri ulah kakaknya. Tapi tidak pernah tahu bagaimana caranya.
Setelah yang menunggu cukup lama, akhirnya ia tahu bahwa kelemahan Jonathan adalah orang yang paling ia cintai dan itu adalah Erica.
"Josh." panggil Jonathan dari seberang telpon.
"Iya, Kak?" jawab Joshua. Ia berusaha bersikap senormal mungkin.
"Aku akan menutup Baron dan menyelesaikannya." kata Jonathan. Joshua bernapas lega. Tentu saja ia berusaha agar Jonathan tidak mendengaran suara napasnya.
"Kenapa tiba-tiba menutupnya?"
"Aku ingin mengakhirinya karena aku nggak mau menjadi Jonathan yang jahat seperti kemarin." kata Jonathan membuat pengakuannya sendiri dengan anggukan setuju dari Joshua.
"Akhirnya Kakak sadar bahwa itu salah. Kenapa sekian lama baru sadar, Kak?"
"Aku harusnya mengakhiri sejak lama. Karena kemarin masih ada orang yang mau berusaha membayar hutang padaku."
"Hal itu hanya membuat orang lain sengsara, Kak. Kamu tahu itu."
__ADS_1
"Ya, aku tahu. Sepertinya ada orang yang menyadarkanku melalui Erica." kata Jonathan.
"Melalui Erica? Bagaimana bisa?"
"Entahlah. Sepertinya ada yang mengancam Erica dengan segala kata-katanya hingga Erica sempat pergi meninggalkan rumah."
"Meninggalkan rumah? Kapan?"
"Dua hari yang lalu."
"Apa mungkin Erica shock mengetahui semua itu?"
"Ya, bisa jadi. Intinya aku menyesal dan ingin mengakhiri semuanya. Aku tidak mau mengulangi kesalahanku yang ini lagi sampai kapanpun."
"Aku sangat bersyukur dengan perubahan ini. Aku juga bersyukur kedatangan Erica membawa pengaruh baik untukmu."
"Ya. Aku kira juga begitu. Aku sangat bersyukur dengan kedatangan Erica."
"Jaga perasaannya, Kak. Kakak harus lebih baik dari yang kemarin. Bagaimana kalau Erica hamil dan punya anak? Apa kakak nggak malu kalau masih harus bersikap jahat kepada orang lain itu, Kak?"
"Iya, iya, bawel. Makanya aku mau berhenti. Dan rumahku itu sudah kubersikan semua dari pinjam meminjamnya."
"Baguslah, Kak."
"Kapan kamu balik ke Jakarta?"
"Bulan depan, Kak."
"Jangan lupa makan malam di rumah."
"Iya kak, pasti."
Setelah menutup telponnya, Joshua tersenyum dengan bahagia.
Ternyata usahanya tidak sia-sia. Maaf, Erica. Aku harus menjadi provokator. Semua itu demi kebaikan kalian berdua.
__ADS_1