Rahasia Erica

Rahasia Erica
Menuju keseriusan


__ADS_3

Jonathan terdiam dan memandang jauh ke depan. Di halaman belakangnya, Jonathan berjemur di bawah sinar matahari sore dan ia akan masuk ke dalam kolam renang sebentar lagi.


Ia tersenyum sendiri melihat tingkah laku Erica yang tidak ingin segera dilamar oleh dirinya. Padahal, wanita manapun pasti akan langsung mengatakan setuju jika dilamar olehnya. Tapi kenapa Erica tidak mau? Yah, Jonathan mengerti. Semua karena lelaki bernama Geo itu. Dia telah menorehkan luka yang terdalam dihati Erica. Dan membutuhkan waktu yang lama untuk Jonathan dapat menyembuhkan luka hati Erica.


Jonathan berdiri dan menyelam di kolam renang. Ia meluruskan tangannya dan meluncur dengan cepat. Jonathan suka berolahraga. Maka dari itu staminanya cukup tinggi. Tubuhnya yang bidang menampilkan pesona tersendiri dan Erica suka sekali mengelus dada bidang milik Jonathan.


Setelah meluncur dua kali lap, Christy datang menghampiri Jonathan. Ia menunggu di pinggiran kolam renang menunggu putera sulungnya selesai berenang.


"Joooo!" panggil Christy.


Jonathan kembali ke titik awal . Ia menyudahi kegiatan renangnya dan memunculkan kepalanya di permukaan kolam renang. Jonathan mengatur pernapasannya dan kini napasnya kembali stabil.


"Ya, Ma."


"Kemarin Mama sudah ngomong sama Erica."


"Tentang?"


"Pertunangan kalian."


Jonathan mengulas senyum yang lebar di wajahnya.


"Serius, Ma? Terus apa katanya?"


"And she said yes. Kita harus prepare buat minggu depan."


"Akhirnya dia mau ya dibujuk Mama. Kemarin sama Jonathan nggak mau terus." kata Jonathan dengan sedih.


"Kalau kamu nggak bisa harusnya kamu bilang Mama dong. Tenang aja. Pasti Mama bantu kok. Apalagi Erica anaknya baik. Mama suka." kata Christy dengan semangat.

__ADS_1


"Serius Mama udah oke sama Erica? Mama nggak ngeliat latar belakang Erica kan?"


"Nggak. Mama yakin wanita pilihan kamu itu pasti baik. Of course harus lebih baik dari Vanessa ya! Jangan sampai dia menginjakkan kakinya kesini lagi!!" kata Christy.


"Tenang, Ma. Nggak akan. Jonathan jamin."


Ting...nong...ting...nong....


"Siapa tuh, Ma?" tanya Jonathan. Christy hanya mengedikkan bahunya.


Mama dan Jonathan masih asik bercanda mengenai Erica yang polos. Mama tidak menyangka bahwa Erica mudah diluluhkan oleh dirinya. Disamping itu, Christy sangat senang. Karena Jonathan bisa mendapatkan Erica yang polos dan juga cantik. Tentunya hatinya juga sangat baik.


Tak lama kemudian, bibi datang kepada Christy dan memberitahu bahwa ada tamu yang ingin menemui Jonathan.


"Maaf, Tuan. Ada tamu."


"Vanessa?!!" seru Jonathan kaget. Christy ikut menengok kebelakang dan melihat sosok Vanessa dengan baju dress yang cantik. Christy sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri, dress rancangannya memang bagus tapi tidak dengan hatinya.


"Mau apa kamu kesini?" tanya Christy yang langsung berdiri maju menghadapi Vanessa. Ingin rasanya ia menggulung baju di lengannya dan beradu otot dengan Vanessa.


"Maaf kalau Vanessa mengganggu, Tante." kata Vanessa pelan. Ia sedikit menundukkan pandangan matanya. Jonathan juga segera naik ke atas kolam renang, menyudahi kegiatan renangnya. Ia mengambil handuk dan menutupi tubuhnya.


"Ya, mengganggu. Mau apa kamu datang kemari?" tanya Christy dengan nada tidak senang.


"Saya mau bicara dengan Jonathan, Tante."


"Tentang apa?" tanya Jonathan dengan rambut basahnya.


"Jo,aku mau jelasin kalau kemarin aku benar-benar minta maaf. Aku nggak tahu kalau itu kekasih kamu yang baru. Aku menyesal dan..." Vanessa mulai menjelaskan. Tapi Christy enggan mendengarkan apa yang ingin Vanessa sampaikan.

__ADS_1


"Jadi kamu datang kesini hanya mau mengucapkan itu?" tanya Christy tidak mengerti.


"Nggak, Tante. Selain itu, Vanessa juga mau minta maaf atas kepergian Vanessa yang terburu-buru kemarin."


"Nggak apa-apa. Sudah Tante maafin. Nggak perlu khawatir lagi soal itu ya." kata Christy.


"Beneran, Tante?" Wajah Vanessa langsung berubah menjadi cerah.


"Tapi...Ada tapinya..."


"Apa itu Tante?"


"Minggu depan datang kesini lagi ya. Karena Jonathan dan Erica akan bertunangan." kata Christy dengan pandangan mata yang tegas dan tidak mengulas senyum sedikitpun.


"Apa? Nggak salah? Jo, kamu mau tunagan sama Erica? Kamu becanda kan? Kamu cuma jadiin Erica sementara aja kan? Aku lebih segalanya dari Erica. Aku kira kamu cuma main-main aja dan bisa balik lagi sama aku. Tapi, ini apa, Jo?" tanya Vanessa dengan tidak percaya.


"Kamu jangan menyalahkan Jonathan dan menjadikan diri kamu korban dari semua ini ya, Vanessa. Kamu sudah meninggalkan Jonathan. Dan Jonathan nggak bisa kerja sampai Jonathan disuruh keluar dari perusahaannya gara-gara mikirin kamu. Wajar dong kalau Jonathan sekarang mendapatkan yang lebih baik? Yang bisa mengerti Jonathan selain kamu? Kamu memang lebih baik secara karir dan pekerjaan. Tapi tidak lebih baik dari mendampingi Jonathan." kata Christy. Pedas dan cukup menusuk hati Vanessa.


Tanpa Vanessa sadari, air matanya menetes dan ia tidak dapat berkata-kata.


"Pulanglah, Vanessa. Aku sudah tidak bisa bicara denganmu lagi." kata Jonathan.


Vanessa menatap Jonathan, berharap dirinya akan menolong Vanessa yang rapuh seperti ini. Tapi nyatanya tidak. Jonathan kali ini tidak akan membelanya. Sedikitpun.


"Baiklah. Aku pulang. Aku salah datang kemari yang aku pikir bisa menjelaskan semuanya."


"Ya. Lebih baik kamu kembali ke Milan dan kejar karirmu itu!" kata Christy. Matanya memastikan Vanessa keluar dari rumahnya detik itu juga. Vanessa memutar balikkan badannya. Menghapus air matanya dan tidak berani menoleh lagi kebelakang. Ia tidak bisa apa-apa lagi. Jonathan tidak membantunya sedikitpun. Berakhirnya Vanessa dengan kehidupannya yang seperti ini. Seperti memelas cinta pada Jonathan.


Jonathan menatap dengan belas kasihnya. Tapi ia tidak bisa melakukan apapun. Ia tidak akan membantah apa yang Christy katakan. Ia tahu, ia harus mendengarkan apa yang Ibunya katakan.

__ADS_1


__ADS_2