
POV Erica.
Aku merasa beban kalau Jonathan mengumumkannya seperti itu. Tahu nggak kenapa? Nggak semua rekan kerja bisa menerima salah satu bawahannya bisa pacaran sama atasannya. Akan ada gunjingan dari rekan lain yang nggak ngenakin hati. Mungkin itu sesuatu hal yang biasa bagi Jonathan. Tapi nggak bagiku.
Lihat saja kejadian Lilie barusan. Aku menghela napasku dan keluar dari ruang meeting. Baru saja satu langkah keluar dari ruang meeting, semua mata tertuju padaku. Rasanya risih dan nggak nyaman dilihat seperti itu oleh rekan kerja sendiri.
Aku kembali ke meja kerjaku sebagai sekretaris. Aku duduk bersama sekretaris baru yang belum lama menggantikan diriku. Farah namanya. Ketika aku melihat ke arahnya, Farah langsung mengalihkan penglihatannya dariku. Terlihat jelas sekali jika dia menghindari kontak mata denganku.
"Kenapa, Far?" tanyaku membuka obrolan dengannya.
"Nggak apa-apa, Kak." jawab Farah masih tetap fokus dengan kertasnya.
"Kamu sudah tahu ya?" tanyaku menyelidiki.
"Tentang apa, Kak?"
"Gosip yang ada disini."
"Kakak pacaran sama Bos?" tanya Farah dengan hati-hati. Aku mengiyakannya dengan anggukan.
"Iya, Kak. Tadi pas keluar dari ruangan meeting langsung pada heboh." jawab Farah dengan sedikit rasa segan. Semuanya terasa berbeda ketika tahu bahwa aku adalah kekasih Jonathan. Rahasia yang aku tutup rapat-rapat kini sudah bukan rahasia lagi. Sedikit kesal karena Jonathan mengumumkan itu secara tiba-tiba tanpa persetujuan dariku. Tapi aku bisa apa. Jonathan hanya ingin mengumunkan pertunangannya yang selama ini sudah dinanti oleh Tante Christy.
Fiuh. Aku menghela napasku. Tak lama kemudian Lilie menghampiriku lagi di meja sekretaris dan menyerahkan sebuah berkas di dalam map..
"Nih berkas buat di tanda tangani sama Bos!" kata Lilie dengan nada kesal.
"Kamu bisa masuk dan kasih ke Bos seperti biasa." kataku. Tolonglah, aku nggak mau ribut dengan siapapun karena ini.
"Bagaimana aku bisa masuk ke dalam kalau tahu dia akan menikah dengan salah satu sekretaris disini!" kata Lilie dengan ketus. Astaga. Baru begini saja mentalku sudah lelah.
"Sepertinya ada yang mau kamu sampaikan ke aku, Lie." ucapku. Aku lelah melihat sikap Lilie yang ketus seperti ini sejak tadi di ruang meeting.
__ADS_1
"Nggak ada."
"Kita ke pantry. Kita ngobrol dulu." kataku mengajak Lilie. Aku nggak mau kami ribut perihal ini di depan Farah yang masih anak baru. Lilie mengikutiku ke pantry dengan wajah yang ditekuk.
Di pantry, aku menyeduhkan teh hangat untuk Lilie.
"Ada apa, Lie? Kamu marah sama aku?" tanyaku membuka pembicaraan.
"Apaan sih. Nggak kok. Nggak usah lebay deh, Er."
"Lalu apa? Sikapmu. Sejak tadi. Maaf, Lie. Aku bukannya nggak tahu perasaanmu sama Jonathan." kataku
"Terus, kamu tahu perasaanku sama Bos seperti apa kamu masih tetap menikungku? Demi apa? Demi jabatan? Demi harta Bos?" tanya Lilie dengan kesal. Aku memakluminya. Karena memang sejak awal Lilie menyukai Jonathan dan aku tahu persis itu.
"Apa aku terlihat begitu dimatamu, Lie?"
"Semua orang mengatakan hal yang sama!"
"Tapi ujungnya kamu juga mau kan bertunangan dengan Jonathan?"
"Astaga, Lie. Jujur aku sudah meminta Jonathan merahasiakan ini semua dari karyawan. Karena aku tahu banyak yang menganggap aku menjadikan Jonathan sebagai batu loncatan demi kemulusan karirku."
Lilie diam saja.
"Tapi di meeting Jonathan mengumumkan hal itu di depan kalian semua. Aku juga shock. Aku hanya ingin tetap hubungan ini menjadi rahasia."
Lilie berpikir, sepertinya ia memikirkan apa yang akan dikatakan selanjutnya.
"Sudahlah. Yang terjadi ya sudah. Memang begitu adanya. Mungkin Bos suka dengan kinerjamu atau apa. Aku juga nggak tahu. Aku cuma bisa ucapin selamat sama kamu nanti akan bertunangan sama Bos." kata Lilie dengan pelan. Tidak ada lagi nada perdebatan diantara kami.
"Maafkan aku, Lie."
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Er. Kita nggak akan pernah tahu takdir yang menghampiri kita bukan? Walau rasanya nggak rela, aku coba mengerti dengan pilihan kalian. Aku menghargai Bos. Aku juga akan menghargai pilihannya Bos." kata Lilie. Ah inikah yang disebut cinta bertepuk sebelah tangan?
"Kamu rekan kerja yang baik, Lie. Aku nggak mau kehilangan teman sebaik kamu." kataku sambil mengulas senyumku.
"Kapan-kapan kita hangout ya. Boleh kan sama Bos?" tanya Lilie yang juga sudah mulai mengulas senyum di wajahnya.
"Boleh banget dong. Aku nggak akan berubah meski sudah menikah nanti sama Bos." kataku.
Lilie mengangguk dengan hati yang lega. Tidak ada lagi sesuatu yang mengganjal dihatinya.
Sementara itu di ruangan Jonathan, aku malah jadi marah-marah sendiri karena Jonathan membuat pengumuman itu tanpa persetujuan dariku.
"Ngapain sih kamu bikin pengumuman begitu pas meeting?" tanyaku kesal di ruangan Jonathan
"Emang kenapa? Bagus dong. Kita jadi bebas pacaran di kantor tanpa harus sembunyi-sembunyi."
Ah. Pendek banget pikirannya. Kesal.
"Kamu bisa mengumumkannya nanti pada saat kita benar-benar akan menikah. Ini baru acara tunangan kan, Jonathan?"
"Sayang. Kamu itu pacar aku. Aku nggak mau ada satupun yang memandang kamu rendah. Makanya itu aku nggak mau merahasiakan hubungan kita lagi. Aku mau semua orang di kantor ini bisa menghormati kamu sebagai kekasih aku." jelas Jonathan.
"Lalu bagaimana dengan orang lain yang berpikir bahwa aku mendekati kamu karena keuntunganku sendiri?"
"Jangan pedulikan kata orang lain dong, Sayang. Kan yang menjalani hidup ini itu kamu. Bukan mereka. Biasanya orang memang akan suka berkomentar tanpa tahu kejadian yang sebenarnya. Lebih baik kamu nggak memikirkan ucapan orang lain. Kamu harus bisa lebih kebal dengan ucapan seperti itu karena nggak ada satupun tuh dari mereka yang membiayai hidup kamu. Mereka cuma bisa bicara dan bicara." kata Jonathan panjang. Walau kesal, tapi ucapannya kali ini ada benarnya juga ya. Haters gonna be hate. Bukan begitu?
"Oke deh. Aku akan coba mengabaikan mereka yang bicara buruk tentang aku."
"Nah gitu dong! Tanpa mereka yang nyinyir, hidup kamu juga nggak akan berubah. Kamu tetap calon istri keluarga Johnson yang sudah dipilih."
Jonathan melebarkan senyumnya. Hatiku terhibur dengan ucapannya barusan. Memang ya. Terkadang kita nggak perlu mendengarkan omongan orang lain. Kita yang menjalani, orang lain hanya bisa berkomentar. Akhirnya aku setuju dengan ucapan Jonathan.
__ADS_1