
Sepeninggal Daniel, Joshua meraih ponselnya. Ia segera menelepon Jonathan yamg ada di Jakarta itu.
Tuttt....tuttt....
Suara nada telpon berbunyi. Jonathan segera mengangkat telpon dari adik semata wayangnya.
"Ya, Josh..."
"Kak, kakak ngapain bawa salah satu pekerja ke apartemenku? Membuatku kesal saja!" kata Joshua di sambungan telponnya.
"Perkenalan aja. Itu Abangnya Erica." kata Jonathan.
"What? Kok bisa-bisanya abangnya Erica mau kerja di proyek kayak gini? Ini kan buat kuli, Kak!" kata Joshua tidak percaya.
"Biarkan. Berikan saja sedikit pelajaran buat dia. Jangan melemah atau lembek ketika memimpin pekerjaan. Dia sudah membuat susah hidup Erica maka harus diberikan sedikit pelajaran supaya bisa tahu diri kan?" kata Jonathan. Joshua mulai mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Jonathan.
"Jadi maksudnya.....Walaupun dia Abangnya Erica, tetap perlakukan sama dengan yang lain?"
"Betul sekali. Oh ya dan Kakak minta Daniel untuk terus mengawasi Eshan."
"Untuk?"
"Dia aset kakak, yang berharga. Kamu juga harus jaga dia."
Aset? Ah kalau yang ini Joshua tidak mengerti.
"Oh, uhmm.. Okay."
"Nah gitu dong. Itu baru namanya Joshua Johnson!" kata Jonathan dengan bangga.
"uhm,yeah.."
Joshua menutup telponnya. Sesungguhnya ia sudah menyadari sedikit banyak kepemimpinan Jonathan yang dimaksud. Gayanya harus bisa tarik ulur dan pandai membuat negoisasi. Bernada tenang tetapi tajam. Seperti itulah Jonathan. Backingan Jonathanpun ada dimana-mana. Joshua tidak heran kenapa kakaknya itu sangat dipatuhi oleh orang banyak. Karena sekali salah melangkah, bisa dilibas hidupnya.
Joshua mengambil handuk dan ingin segera mandi. Tubuhnya lengket karena keringat dan ingin segera membenamkan diri di dalam bath tub yang sangat nyaman.
...****************...
Jakarta...
__ADS_1
"Siapa,sayang?" tanya Erica yang mendengar Jonathan bertelepon sambil berbisik.
"Joshua. Dia ngabarin kalau Abang kamu sudah sampai di Kalimantan dan ketemu sama Joshua." jawab Jonathan.
"Semoga Abang betah disana. Walau sebenernya khawatir juga." kata Erica.
"Erica,Abang kan laki-laki. Laki-laki harus kuat menghadapi semua ini, Er. " kata Jonathan. Erica menyetujui perkataan Jonathan.
"Iya. Pasti bisa lah ya..."
"Yuk sekarang makan." kata Jonathan memberikan potongan daging kepada Erica. Daging sapi tipis yang baru saja di panggang terasa sangat lezat dan nikmat. Jonathan mengecup pipi Erica dengan singkat. Walau sebenarnya malu dilihat banyak orang lain, tapi ia juga merasa senang. Tidak ada orang lain yang memperlakukan dirinya semanis Jonathan.
"Habis ini aku mau ke rumah Arista ya. Boleh?"
"Ngapain?"
"Arista ada pesenan gitu. Dan aku juga udah lama nggak ketemu dia. Pengen ketemu dia."
"Oke deh. Nanti pulangnya di jemput Pak Herman ya."
"Aku naik taksol aja deh."
"Ya nggak apa-apa. Aku nggak enak kalo ditungguin Pak Herman."
"Kenapa nggak enaknya?"
"Ya nggak enak,masa aku ini kan baru jadi pacar kamu aja udah pake supir kamu terus. Aku kan nggak jadi nggak enak hati." kata Erica.
"Sayang, Pak Herman itu aku gaji setiap bulan buat melayani aku. Dan kalau aku minta Pak Herman buat antar jemput kamu juga ya nggak masalah lah. Kan aku yang nyuruh."
"Tapi..."
"Kalau kamu merasa nggak enak terus, apa aku harus nikahin kamu aja ya biar kamu nggak ngomong kayak gitu terus?"
"Hah?! Nikah??"
"Ya abisan kamu ngomongnya tuh ya, sedikit sedikit nggak enak, sedikit-sedikit mahal. Apaan sih!"
"Hmm ya, Maaf deh maaf."
__ADS_1
"Pokoknya kemana-mana sama Pak Herman. Nggak ada alasan. Titik!" kata Jonathan.
"Oke,oke, sayang..Oke.." Akhirnya Erica pasrah dan hanya bisa mengikuti apa yang menjadi keinginan Jonathan.
Sorenya, Erica diantarkan oleh Pak Herman ke rumah Arista. Arista menyambutnya dengan senang hati dan menghambur ke pelukan Erica dengan sangat bahagia.
"Ericaaaaaaa long time no seeee!" seru Arista dengan senang. Ia tidak menyangka bahwa Erica akan menghampirinya ditengah kesibukannya.
"Ga nyangka gue kalo lo dateng pas gue lagi sibuk. Gue kira lo nggak mau kesini lagi." kata Arista. Erica tersenyum dengan ulasan senyum yang manis di wajahnya.
"Gimana bisa sih gue nggak kesini. Lo kan sahabat gue. Eh iya gue bantuin apa nih?" tanya Erica.
"Packing aja, Er. Gue belom sempet packing." kata Arista. Erica langsung mengambil plastik penutup alumunium foilnya dan memberikan sticker pada kemasan itu.
"Lo naik apa kesini?" tanya Arista
"Sama supirnya Jonathan." jawab Erica.
"Gila ya, hidup lo tuh berubah seratus delapan puluh derajat semenjak pacaran sama boss properti. Apa aja ada, supir disediain, apartemen dibeliin." kata Arista sedikit iri pada Erica. Tidak sepenuhnya iri karena memang gaya bicara Erica yang blak-blakkan membuat Erica sedikit nyaman karena tidak ada yang disembunyikan darinya.
"Gue sih udah bilang nggak mau. Tapi Jonathan yang ngasih."
"Ya iya lah mana mau dia ngeliat pacarnya susah sedangkan dia sendiri bergelimangan harta. Aneh-aneh aja deh lo ah." kata Arista.
"Ini mau dianter kemana?" taya Erica
"Ke Tendean."
"Naik apa?"
"Taksol sih.."
"Sama Pak Herman aja, yuk?" ajak Erica.
"Boleh?"
"Nggak apa-apa. Aman. Yang penting gue kemana-mana sama Pak Herman " kata Erica.
"BENER NIH? Gaskeun lah!" seru Arista senang. Ia akhirnya tidak perlu mengeluarkan ongkos. Dia hanya akan meminta ongkos kirim pada pelanggannya. Karena sudah hal biasa jika mengantar sesuatu , ongkos kirim harus tetap dihitung.
__ADS_1