Rahasia Erica

Rahasia Erica
Pulang Ke Jakarta


__ADS_3

Seminggu kemudian, Jonathan dan Erica pulang dari Maladewa. Ia sangat bahagia karena bisa melewati bulan madu di tempat yang indah seperti itu. Christy berharap agar Erica bisa cepat hamil. .


"Aku kayaknya besok udah harus kerja, Sayang." kata Jonathan.


"Iya nggak apa-apa. Aku bisa kok di rumah. Aku istirahat keesokannya baru mulai kerja."


"Nggak apa-apa? Mulai sekarang kamu kerjanya jauh dari aku loh. Aku jadi merasa khawatir." kata Jonathan.


"Kan ada Pak Herman dan asisten yang kamu kirim. Apa mereka nggaj cukup buatku?"


"Tapi tetap saja aku khawatir."


"Jangan khawatir ya. Semua pasti akan baik baik saja " kata Erica. Mendengar itu, Jonathan hanya bisa mengangguk dan tersenyum mengerti.


Perjalanan hari ini cukup melelahkan. Sampai di rumahnya, mereka hanya akan langsung istirahat.


***


"Bos udah pulang." kata seorang ajudan


"Jangan lupa kasih tau Dokter Willem." kata yang lainnya.


"Oke siyaaapppp...."


Baru saja ingin menelpon Jonathan, Jonathan sudah mengirimkan pesan.


"Besok saya ke Baron" katanya dalam sebuah pesan singkat.


Ajudan mengangguk mengerti bahwa ia tidak ingin di ganggu malam ini..


"Malam ini kita santai dulu. Besok Bos datang kesini." kata mereka seraya meninggalkan ruangan pengap itu.


"Bang, bilangin Bos, Bang! Saya bersedia! Bang! Baaangg!"


JDAR!! Pintu tertutup tanpa menghiraukan suara mereka. Mereka kini terkurung kembali di sebuah ruangan dengan penerangan cahaya lampu berwarna kuning itu.

__ADS_1


Jonathan fokus kembali pada pandangan yang ada di sekitarnya. Memperhatikan wajah Erica yang cantik dengan balutan kaus putih.


"Besok kita kembali ke Indonesia ya." kata Jonathan


Erica mengangguk sambil melingkarkan tangannya di pinggang Jonathan. Hari ini ia akan menikmati dengan sepuasnya karena besok akan kembali dengan rutinitas seperti biasa.


...****************...


Jonathan dan Erica menginjakkan kakinya di tanah air. Bulan madu mereka telah usai. Dan mereka segera pulang menuju rumahnya di daerah Dharmawangsa. Rumah itu sudah tersedia dengan pembantu dan juga asisten pribadi untuk Erica yang dipekerjakan oleh Jonathan.


Sedangkan Ibu, ikut tinggal bersama mereka di Dharmawangsa atas izin dari Jonathan.


Erica menghambur ke pelukan ibunya. Melihat bagaimana keadaannya setelah ditinggal beberapa hari keluar negeri.


"Ibuuuu, ibu apa kabar ibuuuu.... Gimana ibu keadaannyaa?" tanya Erica.


"Erica,jangan begini. Kamu sudah menikah. Malu kan sama suamimu." kata Ibu dengan suara lembut lalu tersenyum tersipu malu melihat kelakuan Erica seperti ini.


"Nggak apa-apa kok , Bu. Selama itu Ibu, Jo nggak masalah kok." kata Jonathan meminta Pak Herman membawakan barang bawaannya.


"Oh ya, ini Andrea. Dia akan jadi asisten pribadi kamu nanti. Dan kalau kemanapun kamu di temani oleh Andrea ya." kata Jonathan.


"Kenapa rapih banget pakai blazer?"


"Ya nggak apa-apa kan? Kan Andrea kerja."


"Jangan pakai blazer kalau di rumah. Aku nggak suka lihatnya. Pakai blazer kalau acara kantor aja." pinta Erica. Jonathan sedikit bingung menyesuaikan selera apa yang Erica mau. Tapi selama itu bukan sesuatu yang aneh, ia menurutinya.


"Oke Andrea, kamu boleh lepas blazernya. Pakai blazer kalau acara kantor saja ya."


"Baik Pak."


"Aku akan menyesuaikan jadwalku sendiri, kamu tahu kan aku orangnya disiplin?" kata Erica pada Jonathan


"Iya sayang,iya aku tahu kok."

__ADS_1


"Okay. Hari ini aku mau istirahat dulu, besok mulai kerja." kata Erica. "Andrea tetap disini atau pulang dulu?"


"Karena ini masih siang, kamu bisa istirahat dulu. Nanti malam kita baru bicarakan pekerjaan. Andrea, nanti malam kesini lagi ya." kata Jonathan


"Baik, Pak."


Erica tidak mempedulikan lagi. Ia langsung naik ke atas, ke kamar mereka dan ingin segera istirahat.


Jonathan mengikutinya dari belakang. Setelah istirahat, ia akan mereset kembali pikirannya agar bisa fokus pada pekerjaannya.


"Kok kamu nggak bilang kalau asisten itu datang hari ini?" tanya Erica begitu sampai di kamarnya.


Kamar yang luas dengan lemari yang besar dengan cermin di kanan dan kirinya. Ada juga ruang tas dan sepatu khusus milik Erica.


"Aku lupa bilang sayang kalau dia mau datang hari ini. Tapi kan sebelumnya aku sudah kasih tau kamu kalau aku akan mempekerjakan asisten. Iya kan?"


"Aku tuh maunya dikasih tau dulu Jooo...Jangan mendadak begitu. Tiba tiba ada ini tiba tiba ada itu. Kayaknya gimana gitu."


"Iya iya sayang maaf, besok kalau mau ada apa-apa aku akan kasih tau kamu dulu ya.".


Erica diam dengan kelembutan suara Jonathan. Kini ia tidak melanjutkan omelannya. Karena sentuhan tangan Jonathan ke daerah sensitifnya membuat dirinya tidak berkutik lagi.


" Ah, Jo!"


"Aku akan menuruti semua apa mau kamu termasuk akan memuaskan kamu dalam hal ini, Erica." kata Jonathan.


"Ah.. Kamu mau cepat punya anak?"


"Aku nggak masalah kalau itu. Yang masalah buatku adalah ketika aku membuat kamu marah ataupun sedih. Dan aku akan memuaskanmu malam ini." kata Jonathan.


Jonathan langsung menggendong tubuh Erica bagaikan pengantin baru ke arah tempat tidur. Dan mata mereka saling bertatapan. Suara Erica yang tertawa kecil mulai membuat telinga Jonathan terasa geli.



Setelah kepulangan mereka dari Maladewa, tak sekalipun lagi mereka keluar dari kamarnya. Andrea pun mengetahuinya juga terlambat. Ia menunggu kapan Bosnya bisa keluar dari kamarnya untuk membahas pekerjaan.

__ADS_1


__ADS_2