
Erica memikirkan tawaran yang diberikan oleh Jonathan. Disatu sisi, ia memang tulang punggung keluarganya, maka dari itu Erica mau pergi ke Jakarta untuk menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Disisi lain, bukankah harga dirinya akan turun jika menerima tawaran itu? Belum lagi masalah yang akan muncul jika ketahuan berbohong. Apa yang akan terjadi? Terlebih lagi akan bersangkutan dengan petinggi di perusahaan.
Pikiran Erica berkecamuk. Logikanya serasa tidak berjalan dengan sempurna. Tapi bukankah terlalu sulit menolak permintaan dari CEO yang tampan dengan body yang diimpikan oleh banyak wanita itu?
Ah, melihat ketampanannya saja sudah membuat perasaan Erica meleyot, menolaknya tidak mampu, menerimanya Erica takut terjebak dengan perasaannya sendiri.
Kriiinggggg !! Suara ponsel Erica berbunyi mengejutkan sang pemilik. Diantara gelutan pikiran yang tiada henti, suara dering ponselnya mengagetkan jantung Erica. Siapa sih yang nelpon diantara jam istirahat ini? Sungguh membuat pikiran menjadi kacau. Dibacanya layar ponsel itu : ARISTA ZHEYENK.
Segera diangkatnya ponsel itu dan Erica menyambutnya dengan nada malas.
"Halooo Riiis." sapa Erica
"Haaiiii pasti lo lagi istirahat kan balik kerja kaaaan?" tanya Arista dengan semangat
"Iya, capek nih. Lo lagi jam segini semangat banget. Ada apa sih?" tanya Erica sebal.
"Lo harus tau yaa, kalau hari ini jualan gue sold out jadinya gue sangat sangat bahagia dan karena kebahagiaan gue, gue pengeeen banget traktir temen gue ini." ujar Arista dengan gembira.
"Udah jam setengah sepuluh, mager."
"Ya besok aja kali, gue juga capek abis bebenah."
"Eh, by the way. Kalo ada orang yang nawarin lo side job nih, jadi pacar bohongan, tapi lo dibayar. Lo mau apa nggak?" tanya Erica pada Arista.
"Tergantung bayaran."
"Tergantung bayaran gimana maksudnya?"
"Ya tergantung lah. Kita dibayar berapa? Seratus atay dua ratus ribu gue tolak. Diatas satu juta gue mikir-mikir. Diatas dua juta fix gue terima."
"Kalo dibayar tujuh juta?" Ya, tujuh juta adalah gajinya satu bulan. Jika Jonathan mau membayar dua kali lipat dari gajiannya perbulan maka Jonathan akan membayar tujuh juta sesuai gajinya yang biasa ia terima.
"GILA! Emang ada yang mau bayar segitu mahal buat jadi pacar boongan? Siapa sih? Gue jadi penasaran!"
"Hmmm jadi atasan gue itu suka dijodoh-jodohin sama nyokapnya, tapi dia nggak mau. Dia tuh maunya pacar atas keinginannya sendiri, bukan karena dijodohin gitu...Daann...." belum selesai Erica bicara sudah langsung dipotong oleh Arista
"Dia nawarin lo buat jadi pacar boongannya biar nggak dijodohin lagi sama nyokapnya. Fix bener pasti tebakan gue."
"Ya begitulah. Gue bingung harus terima apa nggak ya...."
__ADS_1
"Pake banyak mikir. Yang namanya cuan lo harus terima apalagi tawaran bayarannya nggak main-main loh itu. Lo mikirin apaan lagi sih? Lagian jalan sama bos lo itu bukannya bisa bikin Geo jadi menciut ya gegara udah selingkuh sama wanita lain? Tunjukkin dong lo bisa move on dari Geo!"
"Yee, gue juga ogah kali mikirin Geo. Nggak ada gunanya juga sekarang. Lebih baik tuh gue mikirin karir gue."
"Yaudah fix deh lo terima tuh tawaran bos lo."
"Serius nih?"
"Iya serius."
"Yakin?"
"Yakin."
"Beneran?"
"Apaan sih lo nggak jelas. Ragu lo ya? Jangan-jangan lo takut jatuh cinta nantinya sama bos sendiri."
Arista emang paling tahu apa yang menjadi pikiran Erica.
"Nah lo tau..."
"Kalo ternyata bos lo juga jatuh cinta sama lo, gimana? Lo nggak mikir apa ke arah sana?"
"Jalanin aja dulu, siapa tahu ada jalan. Galak nggak sih bos lo?"
"Nggak sih, dia baik. Baik banget malah. Cuma ya gitu. Kalo soal perjodohan dia itu agak ngeselin gitu deh."
"Fix terima. Terimaaa!!"
"Hahaha. Yaudah besok deh kalo bos gue nanya lagi baru gue jawab."
"Sip, gitu dong. Oke deh. Gue istirahat dulu ya. Inget besok gue mau traktir sahabat gue yang sedang galau hatinya pasca putus karena diselingkuhin. HAHAHHAHAHA!!"
"Lo tuh manusia paling rese yang pernah ada ya, Ris!"
"Tapi lo sayang kan sama gue hahahaha"
"Udah lah bye!" Erica langsung memutus saluran teleponnya.
__ADS_1
Ah, apa benar dia harus menerima tawaran Jonathan? Hem. Agak canggung gitu nggak sih antara karyawan dengan bosnya? Ya pastilah!
Keesokan harinya di kantor, Erica menyerahkan laporan seperti biasa. Ia mengetuk ruangan Jonathan dan memberikan berkas laporan yang diminta.
"Ini, Pak. Laporan yang kemarin Bapak minta." kata Erica menyerahkan berkas itu diatas meja Jonathan.
"Oke. Makasih ya. Oh ya, gimana tawaran saya kemarin? Sudah kamu pikirkan?" tanya Jonathan menatap Erica.
"Sudah, Pak."
"Lalu gimana? Kamu mau atau nggak?" tanya Jonathan sedikit berharap pada Erica.
"Setelah saya pikir-pikir, Pak, saya perlu menanyakan sesuatu dulu sama Bapak sebelum saya menjawab pertanyaan Bapak."
"Apa itu?"
"Ada efek sampingnya nggak, Pak, kalau saya pura-pura jadi pacar Bapak?"
"Pasti ada. Makanya saya berani bayar kamu mahal. Setidaknya efek sampingnya itu terbayar oleh bayaran kamu. Nggak perlu merasa sakit hati karena yang kamu lakukan adalah sebuah pekerjaan yang sama-sama menguntungkan."
Erica mengangguk mengerti dengan perkataan Jonathan.
"Jadi bagaimana? Kamu mau?"
"Oke, Pak. Saya mau. Saya terima tawaran Bapak."
Jonathan mengulas senyum di wajah tampannya.
"Oke, nanti kalau ada yang perlu saya sampaikan mengenai menjadi 'pacar' saya, saya akan hubungi kamu langsung."
"Baik, Pak."
"Oke, kamu kembali bekerja. Thanks ya..."
Erica kembali bekerja dan menghela napas dengan panjang. Hatinya merasa berdebar ketika harus menerima tawaran Jonathan.
Berbicara seperti itu saja sudah membuat jantungnya berdegup sangat kencang. Hatinya tidak menentu.
Erica mengatur pernapasannya kembali dan kembali fokus kepada pekerjaannya.
__ADS_1
...****************...
Yeayy!! Terima kasih buat kalian yang selalu menanti updatean novelku! Kirim bunga utk Erica jangan lupa ya ⚘ biar semangat updatenya 😚😚