Rahasia Erica

Rahasia Erica
Rumah Sukabumi


__ADS_3

"Aku hari ini nggak ke kantor." kata Erica pada Andrea.


"Kenapa, Bu?"


"Aku mau pergi ke suatu tempat."


"Tapi, Bu, hari ini kita ada meeting..."


"Aku mau di reschedule aja."


"Tapi Bu, kalau Pak Jonathan nanyain saya harus jawab apa?"


"Bilang aja saya pergi ke suatu tempat."


"Bu, Ibu mau kemana? Biar saya ikut Ibu."


"Nggak perlu."


"Tapi, Bu, itu sudah tugas saya menemani Ibu." kata Andrea dengan yakin.


Erica terdiam menatap Andrea.


"Terserah. Jangan sampai Jonathan tahu aku pergi kemana." kata Erica pada Andrea.


"Baik, Bu."


Erica meminta supir putar balik arah karena ia tidak jadi ke lantor. Supirnya kini sudah bukan Pak Herman lagi. Tapi supir hang baru. Jadi tentu saja tidak akan laporan pada Jonathan.


Erica meminta supir agar menyetir ke arah Sukabumi. Baru sekali ini Erica rasanya ingin menjauh dari Jonathan. Mengetahui Jonathan membuatnya tidak bisa berpikir lagi. Ia hanya bisa menghela napas tanpa banyak mengatakan apa-apa. Apakah semua ini nyata? Ia tidak pernah habis pikir kenapa hal itu terjadi pada dirinya. Ia kira, ia telah menikahi orang yang benar-benar baik dan tepat. Tapi ternyata, semua itu hangalah ilusinya saja. Ia tidak benar-benar mengetahui isi hati seseorang walaupun orang itu sudah menjadi miliknya.


"Bu, apakah ada rencana menginap?" tanya Andrea.


"Mungkin semalam. Pastikan Jonathan tidak mengetahui hal ini ya." kata Erica lagi.


"Baik, Bu." Andrea meminta supor agar diam dan menuruti apa yang menjadi kemauan Erica. Ia mengangguk dan tidak banyak bicara lagi.


"Aku cuma mau libur satu hari saja, De. Aku cuma mau nenangin pikiran sebentar."

__ADS_1


"Baik, Bu."


Supir langsung menancap gasnya di jalan tol. Erica tidak memberi kabar sedikitpun pada Jonathan. Karena rasa kecewanya sudah pada Jonathan. Sampai pada akhirnya, Pak Herman memberi kabar bahwa Erica tidak datang ke kantor hari ini.


"Kemana Erica?" tanya Jonathan terdengar sedikit khawatir.


"Maaf, Pak. Kata Pak Ridwan, manager marketing, tidak datang hari ini dan tidak memberikan kabar juga.


"Coba telpon Dea." kata Jonathan mencoba tenang.


Pak Herman segera mengeluarkan ponselnya dan menelpon Andrea. Tetapi nihil. Ponsel Andrea mati. Tidak bisa dihubungi.


"Maaf, Tuan. Dea tidak bisa dihubungi."


"Coba Pak Surya!" Jonathan mulai terdengar panik. Hingga ia menelpon Pak Surya juga, supir Erica. Tetapi tidak ada respon juga. Ponselnya sama-sama dimatikan.


"Tidak bisa juga, Tuan." kata Pak Herman.


Jonathan mulai menebak-nebak kenapa tidak ada satupun yang bisa dihubungi. Apa ini permintaan Erica? Tapi kenapa?


Apa ada kaitannya dengan kejadian semalam? Ah. Jonathan bodoh terlalu polos menilai Erica. Tentu saja Erica akan sangat sakit hati dan kecewa ketika mengetahui seperti apa dirinya berbisnis di belakang Erica dengan cara yang ilegal.


Jonathan tidak mengetahuinya. Ada yang ingin bermain- main dengan dirinya akan hal ini. Ia akan mencari tahu setelah urusan Erica selesai. Ini tidak bisa dibiarkan.


Sementara itu, Andrea sedikit merasa cemas. Karena ia harus mematikan ponselnya.


"Bu, apa nggak apa-apa kalau kita mematikan ponsel seperti ini?"


"Kamu takut sekali, Dea. Kalau kamu takut, kembali saja ke Jakarta! Aku bisa sendiri."


"Nggak, Bu. Saya nggak takut. Saya akan mendampingi Ibu "


"Kalau begitu, diamlah. Tidak usah banyak tanya. Aku cuma mau ke makan ayahku hari ini. Kalau kalian tidak mau menemaniku, turunkan aku di halte depan."


"Baik, Bu. Kami ikut Ibu." kata Andrea kemudian. Ia tidak mau membuat atasannya menjadi marah karena pertanyaannya. Walau sebenarnya ia sangat khawatir jika Jonathan menelpon dan menanyakan keberadaan istrinya.


Perjalanan sudah berlalu selama dua jam. Tidak ada kemacetan yang berarti selama perjalanan ke Sukabumi. Tidak seperti Jakarta yang selalu macet setiap harinya.

__ADS_1


Setelah sampai di kediamannya, Erica terkejut karena rumah kecil peninggalan Ayahnya sudah rapi kembali. Padahal seingat Erica, terakhir kali ia datangi sudah berantakan karena penagih hutang yang merusak semua perabotan di rumah.


Tapi kini, perabotan yang rusak dan piring pecah tidak lagi berserakan di lantai. Lantai bersih. Perabotan yang lama diganti dengan yang baru. Bahkan ia mencoba menelisik debu yang ada disana. Hampir tidak ada debu.


Kalaupun ada , itu hanya sedikit. Perabotan dapur juga tertata rapi. Dan kamar Erica juga masih rapi seperti dulu.


Erica selalu ingin datang kemari dan merapikan semuanya. Tapi karena kesibukannya, ia tidak sempat datang kemari.


"Apa ini rumah Ibu?" tanya Andrea dengan senyum. Membuat Erica ingin menitikkan air matanya. Awalnya, ia bisa menahan hati dan perasaannya. Tapi, ia ingat bahwa ia juga manusia. Sangat wajar jika ia merasakan sakit di dalam hatinya ketika melihat rumah ini kembali rapi dan bersih. Terlebih kaca jendela. Kaca yang semula pecah, kini sudah diganti dengan yang baru.


Tak disangka, Erica memeluk Andrea dan memecahkan tangisannya. Ia tidak sanggup menahan dirinya lagi.


"Terakhir kali rumah ini berantakan. Sungguh berantakan. Tapi kenapa sekarang jadi rapi dan terawat?"


"Mungkin Pak Jonathan yang melakukannya, Bu."


Erica jadi teringat. Apa iya Jonathan yang melakukannya?


Kemudian, Erica merasakan kelelahan dalam dirinya . Ia mengajak Andrea duduk di sofa yang baru dan empuk.


"Kamu benar. Hanya Jonathan yang bisa melakukan ini semua dengan cepat. Apalagi perabotan yang ada disini. Semua bermerk dan baru. Bahkan aku sendiri saja tidak tahu kapan ini diganti."


Andrea mengangguk.


"Rumah ini adalah peninggalan dari Ayahku. Hanya rumah ini yang mendekatkan aku dengan keluargaku. Keluargaku sederhana dan kamu lihat sendiri. Tidak ada apa-apanya dibanding Jonathan."


"Pak Jonathan pernah bilang sama saya bahwa beliau sangat beruntung memiliki Ibu Erica sebagai istrinya."


"Oh ya. Apa katanya?"


"Bu Erica sederhana dan tidak memiliki ambisi apapun terhadap apa yang dimiliki oleh keluarga Pak Jonathan. Maka dari itu Ibu Christy juga sangat setuju ketika Pak Jonathan membawa Obu Erica ke rumah." kata Andrea. Erica mengerutkan dahinya.


"Kamu tahu darimana semua itu?"


"Saya adalah kerabat Ibu Christy. Saya dipilih Pak Jonathan karena Ibu Christy yang merekomendasikannya. Pak Jonathan selalu percaya dengan apa yang dipilih Ibu Christy. Jadi tidak banyak mempertanyakan tentang saya."


Erica mengangguk pelan.

__ADS_1


"Kita ke makam Ayahku setelah ini." kata Erica


"Baik, Bu." jawab Andrea dengan senyum. Ia senang bahwa akhirnya Erica bisa mempercayakan dirinya sebagai asistennya.


__ADS_2