Rahasia Erica

Rahasia Erica
Misterius!!


__ADS_3

Joshua tersenyum melihat kepanikan yang kini Jonathan lakukan. Ia menyilangkan tangannya di dada dan menikmati pemandangan malam hari di Kalimantan. Pulau besar di Indonesia itu kini cukup membuatnya candu. Paling tidak sampai pada saat dimana pembangunan proyek ini sudah selesai.


"Pak Joshua." kata Eshan memanggilnya. Joshua membalikkan tubuhnya dan menyeringai senyum pada Eshan.


"Ya. Kenapa?"


"Terima kasih ya. Saya sudah dibantu selama berada disini."


"Nggak masalah." kata Joshua.


"Saya janji akan membayar hutang saya satu per satu." kata Eshan.


"Iya santai saja. Akan saya potong tiap bulan dari gajian kamu. Dan kamu harus tetap bekerja dibawah saya."


"Baik, Pak. Pasti."


"Saya ingin menjadikan kamu orang kepercayaan saya."


"Apa mungkin, Pak?"


"Kenapa nggak? Kamu kan juga kakak ipar saya. Tapi dalam pekerjaan kita memang harus profesional bukan?"


"Iya."


"Malam ini pekerjaan kamu sudah selesai. Silakan pulang." kata Joshua.


"Baik, Pak. Terima kasih."


Joshua membiarkan Eshan pergi dari apartemennya dan kembali menikmati gelapnya malam dari balkon apartemennya.


...****************...


Erica pulang bersama Andrea. Ia meletakkan tasnya di atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya.


"Jonathan belum pulang, ya?" tanya Erica pada Andrea.


"Belum, Bu."


"Biar saya saja yang telpon. Kamu pulang aja."


"Baik, Bu." kata Andrea sambil berpamitan.


Erica menelpon Jonathan. Lama sekali nada itu tersambung tapi tidak di angkat. Akhirnya karena lelah, Erica mematikan sambungan telponnya. Tidak lama kemudian ada telpon masuk dari Jonathan.


"Sayang."


"Iya, kenapa Sayang?"

__ADS_1


"Kenapa belum pulang?"


"Aku lagi otw kok. Ini lagi sama supir kantor. Bentar lagi sampe rumah." kata Jonathan.


"Oke aku tunggu ya."


"Oke sayang..."


Erica kembali meletakkan ponselnya dan duduk di ruang tamu. Ia menyalakan televisi dan mengganti chanel. Lama ia menunggu kedatangan Jonathan, akhirnya suara gerbang terbuka dan suara decit ban terdengar hingga ke dalam rumah. Jonathan pulang masih mengenakan pakaian kerjanya. Erica bangun dari duduknya dan menyapa kedatangan Jonathan dengan manis. Jonathan mengecup pipi Erica dengan lembut.


"Hai sayang. Maaf ya aku telat." kata Jonathan.


"Its okay nggak apa apa kok. Gimana makan malam?"


"Kamu udah makan belum sayang?"


"Aku nungguin kamu sih sebenernya."


"Berarti belum makan? Okay kita makan aja deh ya yuk...." kata Jonathan.


"Kemana?"


"Di deket sini, ada steak kan, kita kesana aja ya?"


Erica mengangguk...


"Pak Herman, ke steak yang ada di ujung jalan, Pak.." kata Jonathan pada Pak Herman yang sedang jalan membawa barang bawaan Jonathan.


Erica langsung menuruni tangga sambil membawa ponselnya. Ia tidak perlu mengganti baju lagi. Karena dengan memakai dress motif bunga sudah membuatnya tampak cantik walau tanpa riasan make up. Jonathan meraih pinggul Erica dan berjalan menuju mobil yang baru saja diparkir.


Sepuluh menit kemudian, mobil telah sampai di tempat steak yang dimaksud. Baru saja keluar dari mobil, Jonathan tidak sengaja di tabrak oleh seorang penjual minuman.


"Maaf, Pak, maaf saya tidak sengaja...." ketika Jonathan melihat ke arah penjual itu, sontak ia langsung membuang wajahnya. Penjual minuman itu pun langsung berusaha pergi dari hadapan Jonathan. Ia tidak berkata apapun.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Erica.


"Nggak apa-apa. Sudah ayo masuk." kata Jonathan sedikit kesal.


Sesampainya di dalam, Erica memesan steak begitu pula dengan Jonathan.


"Besok kegiatan kamu apa?" tanya Jonathan


"Aku masih harus meninjau file yang ada di Pluit. Aku masih mempelajarinya dan rencananya mau ngecek ke lokasi langsung. Kenapa?"


"Apa Andrea nggak ngajak kamu makan? Sudah jam delapan lewat kamu belum makan malam."


"Ngajak kok. Cuma memang akunya aja yang nggak mau." jawab Erica.

__ADS_1


"Jangan begitu dong, Sayang. Makan itu penting loh. Kalau kamu sakit gimana?"


"Iya tapi aku emang maunya ketemu kamu dulu baru makan. Aku kan juga nggak tahu kamu sudah makan atau belum."


"Tapi kan sayang.."


"Sayang. Gini ya. Waktu pacaran, kamu selalu mau nyempetin makan malam sama aku. Tapi kenapa sudah menikah kamu malah udah nggak mau makan malam sama aku lagi? Apa karena sudah menikahi jadi nggak butuh ngejar-ngejar lagi?"


"Nggak gitu.."


"Yaudah,apapun itu aku tetep akan makan malam sama kamu. Titik. Selesai. Beres." kata Erica.


"Kalau aku lembur bagaimana?"


"Telpon aja. Aku nggak bisa pulang makan malam. Kamu makan duluan. Beres kan?"


"Oke sayang. Oke. Aku ngerti."


Erica mengangguk. Sebenarnya ia tidak mau berdebat seperti ini. Ia hanya mau semua baik - baik saja. Tapi tahu sendiri kan setiap orang pasti ada aja masalahnya. Apalagi berumah tangga.


Erica duduk sambil menunggu steaknya datang. Tetapi perasaannya tidak nyaman. Karena dari luar jendela ada seseorang yang melihat ke arah mereka sejak tadi.


"Sayang. Itu siapa sih? Kok ngelihatin kita terus?" tanya Erica sambil memberi kode ke arah jendela.


Jonathan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Erica.


"Coba sebentar aku cek."


"Kamu mau ngapain?"


"Mau nanya doang kok. Sebentar ya."


Jonathan langsung berdiri dan meninggalkan Erica di tempat duduknya. Ia keluar dan menghampiri orang yang sedang memperhatikannya sejak tadi.


"Dari tadi ngintip terus? Liat apa?" tanya Jonathan yang kemudian menyadari bahwa wajahnya tidak asing. ..


Orang itu pun terkejut ketika dirinya dihampiri oleh Jonathan.


"P-pak."


"Lihat apa kamu?" tanya Jonathan...


"Ng..Anu Pak..Saya..."


"Kamu orang yang kemarin tanda tangan perjanjian sama saya kan?" tanya Jonathan. Pemuda itu pun mengangguk.


"Bisa nggak kamu itu kerja aja nggak usah ganggu saya? Kita kan sudah tanda tangan perjanjian kalau kita akan bertemu di rumah sakit dua minggu lagi." kata Jonathan tidak terlihat ramah.

__ADS_1


"Saya permisi, Pak."


"Awas kamu ada di hadapan saya lagi!" kata Jonathan . Pemuda itu mengangguk dan meninggalkan Jonathan.


__ADS_2