Rahasia Erica

Rahasia Erica
Strategi Baron


__ADS_3

"MASA NGGAK BISA HUBUNGI SEMUANYA SIH!!" teriak Jonathan di dalam ruangannya. Pak Herman siang itu memberikan kabar bahwa mereka tidak bisa dihubungi dan Jonathan sudah merasakan panik dalam dirinya. Kemana Erica?


"Maaf, Tuan. Apa ada kaitannya dengan kejadian di rumah sakit semalam sehingga membuat Nona marah seperti itu?" kata Pak Herman. Biasanya, Erica meminta Pak Herman mengantarkannya kemanapun ia pergi. Tapi hari ini tidak. Erica menyuruh orang lain untuk menyupirinya.


Jonathan terdiam. Ia berpikir sejenak walau pikirannya kacau.


"Iya! Saya sudah kepikiran buat membubarkan Baron! Tapi nggak sekarang!" kata Jonathan.


"Lebih baik dibubarkan dulu saja Baron, Tuan. Karena itu membuat Nona marah."


"Tapi bagaimana dengan hutang mereka pada saya? Saya harus membiarkan begitu saja?"


"Tuan, jika Tuan bersikeras ingin melakukan penagihan di Baron, silakan Tuan. Tapi Tuan sudah lihat Nona sangat marah ketika mengetahui ini semua."


"Lalu saya harus bagaimana Pak Herman!!!" kata Jonathan mulai meninggikan intonasi suaranya.


Ia mulai tidak sabar dan merasa kesal karena Erica tiba-tiba menghilang dan tidak bisa dibubungi.


"Hentikan Baron. Hanya itu salah satu cara agar Nona bisa kembali."


Jonathan mengambil ponselnya.


"Kita ke Baron sekarang!" kata Jonathan.


Pak Herman mengikuti langkah kaki Jonathan. Ia hanya bisa mengikuti kemana Jonathan akan pergi .


Pak Herman memberi info di grup whatsapp Baron bahwa Jonathan sedang dalam perjalanan meniju Baron sekarang. Agar ajudan bisa bersiap menyambut kedatangan Jonathan.


Setibanya di Baron, orang yang biasa menangani orang yang berhutang, berkumpul di satu ruangan bersama Jonathan. Mereka berbaris dan Jonathan duduk di bangku besar.


"Masih ada berapa orang lagi yang berhutang dan belum membayarnya?" tanya Jonathan menatap ajudannya satu persatu.


"Masih ada empat orang di bawah, Bos."


"Berapa total hutang mereka semua?" tanya Jonathan lagi.


"Sekitar tiga ratus juta, Bos." kata ajudan.


"Bubarkan mereka semua." kata Jonathan membuat Ajudan terkejut dengan keputusannya secara tiba-tiba.


"Tapi Bos, mereka belum menbayar hutang mereka. Kalau mggak bayar, Bos bisa rugi."

__ADS_1


"Yang rugi saya. Kenapa kamu pusing?"


"Nggak bisa begitu, Bos. Kesepakatan kita kan sampai mereka bisa membayar hutang mereka walaupun mereka harus menjual ginjal mereka. Kalau Bos melepaskannya, melanggar kesepakatan dong Bos." kata salah satu dari mereka yang sukses mendapat tatapan sinis dari Jonathan.


"Lalu, maunya bagaimana?"


"Kita selesaikan donor mereka dulu satu per satu lalu baru bisa kita bubarkan Baron."


Jonathan berdiri dan menghampiri salah satu ajudan yang berbicara itu.


"Jadi, yang mau ngatur disini itu kamu ya? Bukan saya?" tanya Jonathan.


"Maaf Bos, bukan begitu...." tetapi....BHUAKSSS!!! Jonathan meninju ajudan itu.


"Saya ingin bubarkan Baron karena operasi ini sudah diketahui keluarga saya. Dan mereka akan membeberkan ke media. Kalau mereka membeberkan ke media, kalian pikir kalian akan mendapatkan bagian kalian? JANGAN HARAP!"


Ajudan lainnya pun terdiam. Ketika berbicara media, tidak ada yang berani membantahnya.


"Saya ingin menyelamatkan kalian. Saya nggak mau kalian di penjara. Masalah donor ginjal, saya yakin kalian pasti takut nggak dapat bagian kalian kan?" tanya Jonathan. Tapi semuanya masih terdiam dan tidak bicara apa-apa.


"Maafkan kami Bos. Kami nggak bermaksud membantah."


"Biarkan kami membantu Bos sampau hutang mereka lunas."


"Bagaimana caranya?"


"Kita hubungi dokter Willem."


"Jadi kamu sudah tahu cara mainnya ya?" tanya Jonathan dengan tatapan tajam. Kemudian menampar pipi ajudan itu dengan cepat. Dengan wajah datar tanpa mengaduh kesakitan, ia tetap tegak berdiri menghadapi Jonathan.


"Hentikan operasi ini atau kalian akan berada di dalam penjara." kata Jonathan.


Ajudan masih terlihat ragu-ragu. Mereka ingin mengikuti kemauan Bosnya. Tetapi bisnis ini terlalu menjanjikan jika dilepas begitu saja.


"Lepaskan mereka. Biarkan mereka bekerja dan membayar hutang seumur hidup mereka." kata Jonathan. Ajudan pun bergerak dan menuju ruang bawah tanah dan melepas semua rantai yang mengikat kaki dan tangan mereka. Ruangan gelap dan lembab itu akhirnya sudah mulai di kosongkan. Jonathan melihat luka yang ada pada pergelangan tangan dan kaki mereka. Sungguh ia menyadari setelah mereka keluar dengan susah payah dari tempat itu. Betapa kejam dirinya.


"Jika kalian melakukan operasi diluar persetujuanku, makan itu semua sudah bukan tanggung jawabku lagi. Kalian akan menanggung akibatnya sendiri." kata Jonathan.


Banyak pergulatan pikiran diantara para ajudan.


"Saya akan membayar kalian dua kali lipat daripada biasanya. Nanti siang uang itu akan di transfer ke rekening kalian." kata Jonathan.

__ADS_1


"Baik Bos."


Jonathan melihat keempat orang tahanannya selama ini. . Keempat orang itu mulai merasakan lagi udara segar selain di ruang bawah tanah.


"Terima kasih Bos sudah membebaskan kami."


"Lalu bagaimana dengan sisa hutang kalian yang belum dibayarkan?" tanya Jonathan.


"Kami akan membayarkannya Bos."


Ketiga orang itu dengan wajah yang berbinar mengatakan bahwa mereka bisa sanggup membayarkannyam Tetapi tidak dengan satu orang yang memiliki hutang yang paling besar disana. Ia mengatakan rasa tidak setujunya pada Jonathan.


"Maaf, Bos. Hutang saya terlalu besar. Saya tidak sanggup membayarnya dengan seluruh hidup saya. Saya ingin mendonorkan saja ginjal saya agar hutang saya cepat lunas sama Bos. Dan saya bisa kembali bekerja seperti biasa." katanya pada Jonathan.


"Yakin? Saya memberikan kesempatan pada kalian loh." kata Jonathan.


Namun pria itu dengan yakin mengatakan bahwa ia tidak sanggup seumur hidup harus membayar hutangnya.


"Teman-teman, kalian coba berpikir realistis saja. Apakah kalian sanggup membayarkan hutang kalian ke Bos? Hutang kalian sangat besar. Tetapi penghasilan kita kecil. Apa kalian sanggup membayarkannya sedangkan kita harus memberi keluarga kita makan." katanya membuat yang lain berpikir.


Ketiga orang itu pun terdiam. Mereka menyetujui apa yang dikatakan lelaki yang memiliki hutang yang paling besar itu.


"Lalu bagaimana? Apa kalian tetap menjalankan operasi atau tidak?" tanya Jonathan.


"Saya akan menjalaninya." kata orang yang memiliki hutang paling besar itu.


"Yakin? Saya nggak memaksa loh. Kalian bisa bebas di luar sana." kata Jonathan.


"Dari hasil jual ginjal kami, kami akan mendapatkan bagian juga kan? Kami hanya akan membayar sesuai hutang kami?"


"Tentu saja. Ditambah admin sepuluh persen." kata Jonathan.


"Nggak apa-apa. Saya akan menandatanganinya."


"Baik. Buatkan surat perjanjian dan persetujuannya dan materai jangan lupa. Siapa lagi yang berubah pikiran. Saya masih menunggu jawaban dari kalian loh. Saya juga nggak maksa ya. Seperti yang saya bilang, saya sudah memberikan kesempatan kalian buat bebas dari sini." kata Jonathan.


Kemudian yang lainnya menyusul dengan mengangkat tangannya satu persatu. Dan kemudian Jonathan tersenyum lebar bahwa akhirnya ketiga orang sisanya juga ikut menunjuk tangannya.


"Buatkan surat perjanjian dan urus semua ini."


"Baik Bos."

__ADS_1


__ADS_2