
Status Erica berubah hanya dalam semalam. Yang tadinya hanya wanita biasa dengan menjadi sekretaris, kini ia berubah menjadi kekasih resmi Jonathan yang mana Jonathan adalah pemilik perusahaan dengan posisi tertinggi. Tapi, Erica tidak mau meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Ia masih tetap ingin berkontribusi pada perusahaan dan bekerja.
Perubahan drastis posisi Erica tentu saja banyak yang membicarakannya. Tapi nereka tidak bisa menghentikan apa yang sudah ditetapkan oleh Jonathan.
"Aku sudah nggak bisa membiarkan kamu bekerja dibawahku lagi, Sayang, sudah ada sekretaris baru, sementara kamu hanya fokus pada pernikahan kita saja. Oke? Pernikahan kita akan dilaksanakan dua minggu lagi." kata Jonathan
"Sayang, lalu aku, aku akan bekerja dimana? Aku masih mau kerja, Sayang."
"Terus yang bantu buat acara pernikahan kalau bukan kamu siapa lagi, sayang.. aku sudah menyewa WO. Tapi kamu tahu sendiri aku nggak percaya sama pilihan mereka. Kamu harus tetap mengambil keputusan dan selama memilih baju atau apapun yang berhubungan dengan pernikahan. Selama itu kamu cuti saja dulu ya. Kamu nggak usah kerja dulu."
"Tapi...."
Jonathan tahu kekhawatiran Erica. Selama ini ia sudah terbiasa bekerja keras sehari-harinya. Harga dirinya hanya pada pekerjaannya. Ia tidak mau direndahkan hanya karena telah menjadi istri Jonathan yang hanya diam di rumah.
Jonathan memajukan langkahnya ke arah Erica. Menyentuh bahunya dan merapikan rambut di dahinya. Ia menatap dengan senyum yang menghiasi wajahnya kemudian memeluknya agar Erica menjadi lebih tenang.
"Sabar, Sayang. Aku akan mengurusinya satu persatu. Sekarang tolong fokus dengan pernikahan dulu. Setelah itu akan aku bicarakan dengan Papa, kamu akan memegang perusahaan yang mana. Aku juga akan selalu berusaha membuat kamu nyaman dengan pilihan ini." kata Jonathan.
Erica merasa hatinya tersentuh dengan ucapan Jonathan. Tidak pernah ia bertemu dengan pria sebaik Jonathan. Jarak antara lamaran dan pernikahan tidak berbeda jauh. Jadi memang semua akan dipersiapkan.
Erica tidak sendiri. Akan ada WO dan Christy yang akan membantunya. Dengan begini,semua akan selesai tepat pada waktunya dan Jonathan berharap ia akan segera menjadi pelindung bagi Erica.
Erica mengangguk dan menatap dalam irisan mata Jonathan. Sangat teduh dan menenangkan. Ia yakin bisa menjalani semua ini dengan Jonathan.
"Tetap disisiku saja dulu ya, Sayang. Aku ingin menyelesaikannya satu persatu."
Erica tersenyum dan mengecup pipi Jonathan dengan perlahan.
"Baiklah, Sayang.."
******
Joshua kembali ke Kalimantan. Ia tidak bisa meninggalkan proyek terlalu lama. Suasana di proyek kembali hikmat sejak kembalinya Joshua. Karena kemarin selama Joshua di Jakarta, banyak pekerja yang bekerja dengan santai lantaran bosnya tidak datang mengecek lokasi.
__ADS_1
Dari bandara, Joshua langsung datang ke lokasi proyek. Ia melihat progress pembanguna yang ada disana. Ia melihat Eshan yang sedang mengangkat semen. Joshua menghampirinya. Sebelum menghampirinya , ia teringat apa yang Jonathan katakan pada saat di bandara.
Jonathan memeluk Joshua sebagai salam perpisahannya. Sebelum melepaskannya kembali, Jonathan membisikkan sesuatu.
"Jaga Eshan dengan baik. Tahu kan maksudnya? Dia berhutang padaku. Entah dia bisa membayarnya atau tidak. Kita lihat saja." kata Jonathan. Joshua mengangguk mengerti dan melihat Jonathan yang melepas pelukannya dan kembali bersikap seperti biasa. Jonathan kembali tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Joshua yang mulai memasuki boarding passnya.
Joshua melanjutkan langkahnya dan tetap menghampiri Eshan. Selama berjalan ke arah Eshan, Joshua melihat Daniel yang berdiri di parkiran mobil yang mengawasi Eshan tentu saja.
"Eshan." panggil Joshua begitu sampai di depan Eshan yang sedang meletakkan karung semen.
Eshan yang merasa terpanggil langsung berdiri melihat kedatangan Joshua.
"Iya, Bos."
"Setelah kerja, datang ke apartemen saya."
"Ada apa, ya, Bos?" tanya Eshan tidak mengerti.
"Datang saja. Ada yang mau saya bicarakan." kata Joshua membalikkan badannya. Kemudian pergi dari daerah proyek. Karena perjalanan cukup melelahkan, ia ingin istirahat di apartemen hari ini.
Ia hanya ingin dipesankan oleh makanan cepat saji untuk makan malamnya.
Joshua menghembuskan asap rokoknya ke udara bebas. Ia menengadahkan kepalanya keatas. Memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan dengan hutang Eshan agar bisa terbayar. Joshua baru kali ini merasa harus peduli dengan seseorang. Apalagi Eshan akan menjadi keluarganya kelak.
Bel rumah Joshua berbunyi. Ia segera menuju pintu apartemennya dan membukakan pintu. Setelah membukakan pintu, ia melihat Eshan sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah yang lelah.
"Malam, Pak." kata Eshan.
Joshua menyuruhnya masuk ke dalam apartemennya.
"Haus nggak? Saya ambilkan minum." kata Joshua. Ia berusaha bersikap sopan. Bagaimanapun, malam itu Joshua mengundangnya sebagai tamu.
Joshua membuka kulkas dan memberikan sebotol air minum pada Eshan.
__ADS_1
"Malam ini ada yang mau saya bicarakan." kata Joshua sambil mempersilakan Eshan duduk. Eshanpun duduk di kursi yang ditunjuk oleh Joshua.
"Ada apa, Pak?"
"Kamu itu Abangnya Erica kan, ya?" tanya Joshua.
"Iya, Pak."
"Berapa lama kamu mau bayar hutangmu itu ke Jonathan?" tanya Joshua.
"Saya belum tahu. Saya akan langsung membayarnya setelah gajian ini, Pak."
Joshua mengeluarkan sebuah kartu dari dalam kantungnya. Ia meletakkan kartu itu di atas meja.
"Saya akan bantu kamu bayar hutang ke Jonathan. Saya akan transfer sebulan sekali setelah gajian, pakai uang saya." kata Joshua.
Eshan terkejut dengan apa yang Joshua katakan.
"Ini serius, Pak? Tapi kenapa, Pak?" tanya Eshan tidak mempercayai kalau Joshua akan membantu dirinya.
"Saya ingin menjaga nama baik kamu dan Erica. Saya nggak mau kamu melukai harga diri keluargamu sendiri nantinya hanya karena hutangmu."
"Tapi saya tidak mau berhutang lagi, Pak."
"Setidaknya saya nggak akan mengambil ginjal kamu."
Eshan terdiam. Ia mengerti maksud Joshua.
"Kalau hutangmu pada saya belum lunas,kamu hanya perlu bekerja sampai hutangmu lunas." kata Joshua lagi. Eshan sedikit merinding mendengar ucapan Joshua yang terdengar lebih manusiawi dibanding Jonathan.
"Erica sudah bertunangan dengan Jonathan."
Deg. Hati Eshan seketika merasa sakit ketika tahu adiknya bertunangan dengan orang seperti Jonathan.
"Saya....tahu..."
__ADS_1
"Tidakkah kamu berpikir kalau Erica tahu semua ini apa yang akan dia lakukan?" tanya Joshua. Eshan menggeleng dengan perlahan. Ia sungguh tidak berpikir jauh seperti itu.
"Jangan buat malu dirimu sendiri dengan hutang pada rentenir." kata Joshua. Joshua sadar betul apa yang kakaknya lakukan salah. Ia hanya tidak memiliki bukti mengungkapkan kejahatan kakaknya ini. Ia hanya bisa diam dan bungkam.