
DOK..DOK...DOK...DOKKK!!!
Ajudan Jonathan telah melakukan penagihan dengan caranya. Mereka menagih dengan beramai-ramai dan mendatangi rumah si peminjam. Caranya tidak sopan memang. Tapi begitulah mereka menagihnya.
"Misi! Pak! Pak! Misi!"
Dok...dok..dok...dok!!!
Suara itu cukup mengganggu. Hingga keluarlah seorang wanita dari dalam sana. Wanita itu terlihat takut pada sekelompok orang yang datang dengan kemeja warna hitam.
"Cari siapa ya, Pak?" tanya wanita itu dengan nada yang pelan.
"Benar kan ini rumah Pak Adwit?" tanya salah satu dari kelompok yang menyeramkan itu.
"Iya benar, Pak...."
"Mana dia? Kami ingin bertemu."
"Pak Adwit sedang kerja , Pak."
Tidak memercayai begitu saja. Salah satu dari mereka masuk menerobos rumah peminjam yang bernama Adwit itu.
"Adwit! Dimana kamu! Keluar!" teriak salah satu orang berkemeja hitam itu.
"Gusti! Nggak ada di dalam! Pak Adwit sedang kerja! Dan siapa kalian main masuk ke rumah saya!" wanita itu mulai merasa ketakutan dan suaranya cukup histeris.
"Tenang aja, Bu. Urusan kami sama Adwit. Bukan sama Ibu. Oke? Jadi Ibu tenang aja ya." kata salah satu kemeja hitam yang menunggu diluar sedangkan yang lainnya mencari keberadaan Adwit di dalam rumah.
"Tapi kalian siapa? Kenapa datang mencari Adwit? Adwit sedang kerja dan belum pulang!"
"Anda siapanya Adwit? Istrinya?" tanya salah satu sekelompok orang itu. Wanita itu terlihat seperti di pertengahan usia tiga puluhan. Menatap takut dengan mereka yang bersikap arogan.
"I...iya..."
__ADS_1
"Sampaikan pada Adwit. Bayar hutang tepat waktu!!" teriak salah satu orang yang berkemeja hitam itu.
"Hutang? Hutang apa?? Saya tidak tahu menahu tentang hutang itu!" jawab Wanita itu dengan penuh keberanian walau sebenarnya ia merasa gemetar karena ketakutan.
"Suami kau itu ya, Bu. Kemarin datang pada kami. Pinjam uang. Katanya buat benerin mobil . Sudah benar kah itu mobilnya? Buat dipakai kerja?" tanya orang kemeja hitam itu dengan tatapan yang tajam.
"Mobil? Kami nggak punya mobil! Sehari-hari Adwit kerja jadi ojol dan belum pulang sampai sekarang."
"Lalu mobil siapa yang dia bawa ke kantor kita itu lah ya Bu? Dia pinjam uang kami dengan jumlah yang besar. Tujuh puluh juta. Kapan bisa dia cicil itu punya hutang, Bu?"
"Astaga!! Saya benar-benar tidak tahu, Pak! Sungguh. Saya baru tahu sejak bapak memberitahu saya ini!" ujar wanita itu dengan nada memohon agar mereka cepat pergi dari rumahnya.
"Begini sajalah, Bu. Jika suami ibu tidak mau bertemu dengan kami, sampaikan pada suami Ibu. Si Adwit itu untuk datang ke kantor kami. Kalau tidak, saya akan cari dia di jalanan. Sampai dia jadi mayatpun akan kami cari!" ujar salah satu kemeja hitam itu dan wanita itupun sudah mengeluarkan keringat di dahinya.
"Baik, Pak. Baik. Saya akan sampaikan jika dia sudah pulang."
"Bagus. Kalau dia tidak bisa bayar hutang..." salah satu laki-laki itu pun memandang tubuh indah si wanita yang mengaku sebagai istrinya Adwit.
"Kau saja bayar dengan tubuhmu ini!"
"Jangan, pak! Ampun! Kasihani saya, Pak!!" wanita itu berlutut dan memohon ampun agar tidak diperlakukan macam-macam.
"Kalai begitu..." salah satu dari mereka menarik rambut wanita itu. Sehingga wanita itu menengadahkan kepalanya.
"Katakan pada Adwit. Bayar hutangnya atau tubuhmu akan kami gunakan untuk membayar hutang! Ingat itu baik-baik!" kemudian ia melepaskan genggamannya di rambut wanita itu.
Wanita itu menangis tersedu-sedu. Rumahnya berantakan karena penagih hutang yang tidak memiliki akhlak itu.
Mereka meninggalkan rumah Adwit. Dan wanita itu merasa sangat stress menghadapi perlakuan yang ia terima dari komplotan orang yang menagih hutang pada suaminya.
Malamnya.....
Jonathan datang ke Baron. Ia melihat ke sekeliling ruangan. Ajudan yang sejak tadi menunggunya, berdiri dengan rapi di depan Jonathan.
__ADS_1
"Mana duit saya?" tanya Jonathan pada salah satu ajudan yang tadi datang dan meneleponnya.
"Siap,Pak, belum bisa dikembalikan. Berdasarkan informasi, peminjam bernama Adwit, sedang bekerja dan belum kembali ke rumahnya."
"Udah geledah rumah?"
"Siap, sudah."
Jonathan mengangguk mengerti. Tapi sepersekian detik kemudian, ia melayangkan tangannya ke udara dan meninjukan tangannya ke ajudan yang baru saja menjawabnya.
Ajudan itu hampir saja mengaduh. Tetapi ia lupa berada dimana. Ini di Baron. Ia tidak bisa melakukan apapun tanpa ijin dari Jonathan..
"Nggak becus! Nggak guna kalian!" teriak Jonathan.
"Nagih satu orang aja kalian bisa kalah. Bodoh!"
Mereka terdiam. Tak ada yang berani menjawab perkataannya.
"Besok, bawa dia ke hadapan saya. Meskipun hanya kepalanya, bawa ke saya!! Mengerti kalian??"
"Siap mengerti bos!!"
Jonathan ingin pergi hendak meninggalkan kantor.
"Sampai kalian tidak bisa membawanya besok ke depan mata saya, Saya hajar kalian!!" seru Jonathan dengan tatapan yang super sadis. Dan tak ada satupun yang menjawab kecuali diminta. Jonathan keluar kantor. Ia kembali ke mobilnya. Tak lama kemudian, mobil itu jalan meninggalkan kantor.
"Ga apa-apa , Bang?" tanya salah satu rekan kerjanya. Melihat anggota lain yang telah ditinju oleh Jonathan.
"Gapapa. Its okey. yang jelas kita temukan besok si adwit!"
"Oke, bang!"
"Kalian boleh bubar ya "
__ADS_1
Salah satu dari mereka mulai pergi meninggalkan tempat itu.