
"Jo...!" pamggil Erica membangunkan Jonathan.
Jonathan masih tertidur lelap karena kegiatan malamnya bersama Erica. Tapi, kenapa Erica pagi ini terasa bersemangat? Apa dia tidak merasa lelah?
"Jonathan Johnson! Bangun!" panggil Erica.
"Ada apa, Sayang...." Jonathan mulai bangun dari tidurnya,tapi belum semua nyawanya terkumpul. Ia mengerjapkan matanya dan melihat lekukan tubuh indah milik Erica dibalut dengan dress motif bunga yang indah. Ia tersenyum melihat kekasihnya tampil cantik seperti itu.
"Astaga Jonathan! Apa nggak ada model lain yang bisa kamu berikan padaku? Baju pilihanmu kenapa terbuka semua begini sih?" Erica mulai mengomel dan terkekeh.
"Aku nggak tahu kamu suka model apa. Jadi aku belikan berbagai macam baju. Lagipula setiap hari di kantor aku sering melihatmu pakai baju yang tertutup. Kenapa sih nggak sesekali aja pakai baju seperti itu? Kan cantik."
"Astaga!!! Sabar Erica, Sabaaaaar...." Erica mengelus dadanya.
"Sayang,ini di Bali. Nggak akan ada yang ngomongin kamu kalau kamu pakai baju seperti ini. Justru ini mempermudah aku untuk...." Jonathan memeluk pinggang Erica dan mulai menyentuh gundukan sintal disana.
"Apa, Jonathan? Apaa...?"
"Kenapa semalam kamu bersuara keras sekali? Membuat aku semangat saja. Aku sampai capek. Tapi pagi-pagi kamu malah mengomel."
Erica menjadi malu jika Jonathan membicarakan hal semalam yang terjadi diantara mereka.
"Ih, kamu tuh ya. Bisa nggak sih nggak ngomong gitu. kalau kamu merasa berisik, besok-besok aku nggak bersuara." kata Erica.
"Eh, jangan dong!"
"Loh, kenapa?"
"Kalau kamu nggak bersuara, aku seperti melakukan dengan pohon pisang!"
"Mbak Kunti dong."
"Iya, makanya bersuara saja."
"Baiklah. Kita akan sarapan sekarang atau...."
Erica memeluk Jonathan. Jonathan yang sudah mulai kemana-kemana pikirannya langsung ditampik dengan cepat oleh Erica.
"Kamu kembali tidur dan aku makan sendiri. Yang mana?"
"Kamu benar-benar ya! Suka sekali loh menggodaku!"
Jonathan mulai meraih tubuh Erica, mengelitikkinya sampai Erica tidak tahan. Jonathan menjadi senang menggoda Erica seperti itu. Setelah lelah, mereka akhirnya keluar untuk sarapan.
Di restoran, Prasteya sudah ada disana. Selama ada Jonathan, Prasteya akan selalu stand by dimanapun Jonathan akan berada.
__ADS_1
"Pagi, Pak."
"Sudah pergi belum Vanessa?" tanya Jonathan sambil mengambil makanannya.
"Sudah semalam, Pak."
"Jangan sampai dia disini lagi ya! Saya nggak mau ada dia. Saya nggak mau menyakiti hati Erica!" kata Jonathan tegas.
"Baik, Pak."
Jonathan meninggalkan Prasetya dan kembali ke meja makan menghampiri Erica yang sudah menunggu disana..
"Habis ini kita ke pantai ya." kata Jonathan. Mata Erica berbinar bahagia. Ia tidak menyangka bahwa ia akan pergi ke pantai yang ada di Bali. Erica mengangguk dan tersenyum bahagia.
Erica menghabiskan sisa hari itu dengan kebahagiaan. Tidak ada lagi Vanessa yang mengganggunya atau siapapun.
Keesokan harinya mereka kembali ke Jakarta dan Erica membawakan beberapa oleh-oleh untuk Ibunya. Tentu saja, dress yang diberikan oleh Jonathan. Ia tidak bisa memakainya didepan Ibunya. Ia akan memakainya di depan Jonathan.
"Sayang, ada beberapa bawaan yang nggak bisa kubawa. Kamu banyak banget sih beliin oleh-olehnya." kata Erica.
"Yaudah kamu naik duluan, nanti aku sama Pak Herman yang bawain barang-barang kamu." ucap Jonathan.
"Bareng aja."
"Duluan aja sayang..Nanti aku nyusul."
"Ibu...Erica belikan oleh-oleh untuk Ibu..." kata Erica memasuki ruang apartemen. Ibu yang sedang menonton televisi tertawa bersama seorang yang ada disana. Erica terkejut melihat Eshan duduk disebelah Ibu.
"Abang?" tanya Erica. Ia tidak percaya bahwa ada Eshan di apartemennya. Dan Ibunya tidak memberitahunya tentang kehadiran Eshan.
"Erica,kamu sudah pulang?" tanya Ibu. Ia langsung menyambut Erica dan menghampirinya.
"Abang ada disini, Bu?"
"Iya,tadi abangmu telpon katanya mau nengok ibu. Ibu kasih tau aja kalau Ibu ada di rumahmu." kata Ibu.
"Rumah apartemen kamu besar ya Erica. Abang nggak nyangka kalau kamu bisa punya uang banyak selama berada di Jakarta." kata Eshan melihat seisi ruangan apartemen Erica yang dipajang dengan barang-barang mahal. Termasuk ada salah satu pajangan yang berasal dari negara lain. Eshan rasanya tidak asing dengan benda itu.
"Bang,kan Erica sudah bilang kalau nanti Erica kasih tau kapan Abang berangkat." kata Erica.
"Iya,sebelum berangkat Abang boleh dong ketemu Ibu dulu. Kan Abang mau kerja jauh, berkat adik Abang ini..." entah kenapa suara Eshan terdengar seperti menyindir. tidak ada nada tulus dalam perkataan Eshan.
"Kenapa sih kamu tuh pelit banget sama Abang? Kamu udah kerja enak,sukses, punya apartemen mewah. Kenapa kamu nggak cariin abang kerjaan di Jakarta aja? Kenapa Abang harus jauh-jauh ke Kalimantan? Kamu mau buang Abang? Begitu?" terdengar nada marah dalam ucapan Eshan. Tapi Erica tidak bergeming. Ia tidak takut pada Abangnya seperti dulu. Kini Erica bisa melawan Abangnya . Ia tidak mau ditindas terus menerus hanya karena dialah Abangnya.
"Bang, Abang itu belum punya ijazah sekolah. Abang dulu sekolah selalu bolos. Sampai-sampai Abang nggak bisa dapat ijazah yang layak buat kerja di perusahaan. Abang pikir cariin Abang kerja gampang? Erica cari kerjaan kesana kemari buat Abang. Tapi nggak ada yang cocok!" kata Erica
"Jadi kamu mau menyombong sekarang mentang-mentang kamu udah kerja di perusahaan bagus dan bisa beli apartemen mewah kayak gini?"
__ADS_1
"Bukan itu maksud Erica, Bang!"
"Terus??"
"Maksud Erica, Erica minta bantuan Jonathan cariin Abang kerja. Karena kebetulan ada proyek di Kalimantan. Disana butuh orang. Erica juga lagi nyari orang juga buat kerja disana Bang! Proyek disana dipegang sama adiknya Jonathan!"
"Jonathan, Jonathan! Kenapa sih dia terus? Kamu nggak bisa apa nyariin aku kerja ditempat lain selain ditempatnya Jonathan??"
Erica terdiam. Ia merasa pening. Baru saja ia sampai dari Bali. Abangnya sudah membuat kekacauan seperti ini. Tidak lama,pintu apartemen Erica terbuka. Jonathan masuk bersama Pak Herman membawa barang-barang Erica. Eshan langsung terdiam ketika melihat Jonathan masuk ke dalam apartemen Erica.
"Loh, kenapa ada Jonathan disini?"
"Aku baru pulang dari Bali, Bang. Ada kerjaan disana. Dan Abang membuat keributan kayak gini." Erica kesal. Ia tidak tahu harus bicara apa lagi.
"Memang kenapa, Bang? Abang nggak mau kerja di Kalimantan? Itu proyek setengah saya yang handle loh. Saya yang masukin Abang." kata Jonathan menatap Eshan dengan tajam.
Seketika air wajah Eshan berubah. Dari yang menjadi keras kepala dan tidak ingin dibantah kini menjadi lembut dan menurunkan nada bicaranya.
"Nggak kok. Saya mau ke Kalimantan." kata Eshan. Erica bingung melihat Eshan yang tiba-tiba berubah menjadi penurut ketika ada Jonathan.
"Iya, Bang. Abang kan laki-laki. Nggak masalah kan kalau kerja jauh? Disana disediakan mess kok. Tenang saja. Saya juga pasti menjamin para pekerja disana." kata Jonathan.
"Iya." jawab Eshan pelan.
"Abang sudah bawa keperluan Abang buat di Kalimantan? Sudah siap kerja kan?" tanya Jonathan.
"Oh iya. Bawa kok. Saya sudah bawa tas isi baju."
"Bagus, Bang. Kalau gitu Abang berangkat besok aja ya, Bang. Biar Abang bisa cepet kerja." kata Jonathan.
"Tapi..."
"Kalau masalah uang Abang kurang selama ada disana, Abang bilang aja. Saya yang akan bertanggung jawab sama kehidupan Abang selama ada di Kalimantan. Oke Bang?" Jonathan melemparkan senyum pada Eshan. Ia tidak bisa membantah sepatah katapun kata-kata yang keluat dari mulut Jonathan.
"Sayang, pesankan Abang tiket ke Kalimantan besok sore."
"Iya, Jo.."
"Pak Herman, besok antar Abangnya Erica ke bandara besok ya. Jam satu siang."
"Baik, Tuan."
"Bu, maaf, saya pamit pulang dulu ya, Bu. Besok Erica kerja akan saya jemput."
"Oh iya iya Nak Jonathan..." kata Ibu. Ibu sejak tadi hanya bengong melihat Jonathan bercuap-cuap. Sedangkan Eshan hanya bisa mematuhi semua perkataan Jonathan.
Jonathan pamit pulang dengan mengecup dahi Erica. Erica melambaikan tangannya.
__ADS_1