Rahasia Erica

Rahasia Erica
Kesalahan kecil di proyek


__ADS_3

Keesokannya Joshua mulai bekerja di proyek pembangunan. Joshua memang tidak selalu hadir. Dia akan datang untuk mengontrol pekerjaan. Mandor yang dipercayanya adalah rekomendasi dari Jonathan.


Mandor itu datang menghampiri Joshua yang baru saja turun dari mobil.


"Pagi, Pak." sapa mandor itu.


"Pagi. Ada anak baru. Dan beberapa hari ke depan, Pak Jonathan akan mengirimkan beberapa orang lagi." kata Joshua


"Siap, Pak."


"Sudah sampai mana pengerjaan?"


"Sudah mulai membangun pondasi."


"Kalau udah ada tambahan orang, pekerjaan lebih cepat lagi ya. Perhatikan juga keselamatan mereka. Oh ya. Anak baru yang datang hari ini, kamu awasi pekerjaannya. Laporkan pada saya jika dia melakukan sesuatu." kata Joshua.


"Siap, Pak."


Tidak lama kemudian mobil Daniel, ajudan Jonathan, datang. Ia membawa Eshan di dalamnya.


"Ck. Kerja jadi kuli saja harus diantar pakai mobil. Manja banget." kata Joshua. Daniel baru turun dari mobilnya dan dihampiri oleh Joshua dengan cepat.


"Kamu antar siapa?"


"Siap, Pak, saya mengantar Eshan."


"Hei, bos kamu itu dia atau saya? Orang kerja kuli kayak gini aja kamu manja pakai antar-antar segala! Emang dia boss apa gimana?" kata Joshua kesal.


"Tapi, Pak..."


"Hei, kamu, sini." panggil Joshua pada Eshan. Eshan yang membaca suasana hari ini sedang tidak baik-baik saja, tidak ingin banyak bicara.


"Ya, Pak."


"Daniel belom kasih tau kamu? Berangkat jam berapa? Harus datang jam berapa? Ini udah mau jam sepuluh. Masa saya duluan yang datang?" kata Joshua.


"Maaf, Pak."


"Besok naik angkutan umum kamu kemari! Kalau bisa jalan kaki! Heran, kerja jadi kuli aja pake diantar-antar segala pakai mobil. Merasa bos besar kamu ya!" oceh Joshua. Eshan hanya bisa diam saja tak membalas.

__ADS_1


"Kamu, Daniel! Kalau saya lihat kejadian begini lagi, saya pulangin kamu ke Jakarta!"


"Siap, Pak."


"Nanti sore saya balik lagi. Saya ke tempat lain dulu!" Joshua membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan orang-orang itu. Sungguh tidak habis pikir Joshua dengan kakaknya itu. Ingin sekali dia mencak-mencak pada kakaknya saat itu juga.


Di Jakarta,


Jonathan sedang memagutkan ciumannya pada Erica. Ia tidak merasa bebas melakukan ciumannya di rumah karena ada Ibu di apartemen. Tentu saja ia harus menjaga sikapnya.


Jonathan mendaratkan ciumannya dengan mulus dan Erica melingkarkan tangannya di leher Jonathan. Tangan Jonathan leluasa menyentuh gundukan sintal yang ada disana. Sesekali Erica ingin melenguh dengan sentuhan Jonathan tetapi ia menahannya karena ia tidak ingin mengeluarkan suara disana. Ia tidak mau ketahuan orang lain jika memiliki affair di dalam kantor.


Seketika ciuman Jonathan semakin menjadi dan Erica mengendurkan lingkaran tangannya di leher Erica.


"Sayang...Kita di office..."


"Kamu membuatku tidak tahan..."


"Kita lanjut nanti saja ya. Aku harus mengajari sekretaris baru dulu hari ini." kata Erica.


"Kamu kan asistenku sekarang. Sudah sewajarnya kalau kamu ada disini terus." kata Jonathan mulai merajuk.


"Okay. Okay. Pulang kantor aku akan ke hotel sama kamu. Ya kan?" kata Jonathan menyerah. Erica menyunggingkan senyumnya.


"Kamu nakal."


Erica mencubit sedikit perut Jonathan dan disambut hangat oleh pelukan Jonathan.


"Bagaimana kalau kita bertunangan saja?"


"Hah? Tunangan?"


"Iya,kita umumkan hubungan kita ke orang lain agar aku bebas menciummu di depan karyawan lain." kata Jonathan


"Kamu gila..."


Tiba-tiba ponsel Jonathan berdering. Ada telpon masuk dari Joshua, adik satu-satunya.


"Joshua nelpon."

__ADS_1


"Oke aku keluar ya..."


Jonathan mengangguk sambil mengangkat telponnya.


"Halo Josh,," sapa Jonathan di sambungan telponnya.


"Kak, gimana sih, masa kuli itu dikasih naik mobil ke lokasi proyek. Ya ampun manja banget. Ini ide kakak apa gimana?" tanya Joshua dengan nada menggebu-gebu.


"Nggak kok."


"Lah itu apa? Selama ada disini, ini Joshua yang ngatur ya, kak. Terserah kakak mau pake Daniel buat ngawasin atau apa aku nggak peduli. Yang penting aku nggak mau ada yang diistimewakan kayak gini." kata Joshua dengan nada kesalnya. Jonathan hanya memaklumi apa yang menjadi ganjalan hati adiknya itu.


"Iya iya udah kamu atur aja baiknya gimana." kata Jonathan


"Oke. Bye, Kak."


Jonathan tertawa dalam hati. Adiknya itu tidak ia sangka. Tegas juga. Tak salah ia mengajarinya agar menjadi pemimpin yang disegani. Jonathan meletakkan ponselnya dan menghubungi Daniel dengan cepat.


Sementara Erica mengajari anak baru yang akan menjadi sekretaris menggantikan dirinya.


"Kak. Katanya bos disini tuh galak ya?" tanya anak baru itu.


Erica hanya tersenyum. Entah bagaimana menanggapinya.


"Ya begitulah. Kalau kamu bisa mengikuti alurnya bos, kamu juga nggak akan digalak-galakin banget kok." jawabnya dengan senyum


"Kakak pernah nggak digalakin? Atau dimarahin gitu?" tanya anak baru itu.


"Ya pernah. Orang-orang disini pasti pernah di galakin juga kok. Tapi ya itu, sebenarnya baik kok orangnya. Cuma pekerjaan aja dia tegas." kata Erica.


Anak baru itu mengangguk mengerti.


"Kalau ada yang aku nggak ngerti,aku boleh nanya kakak nggak?"


"Boleh, dong. Kamu kan menggantikan aku. Kamu tanggung jawabku. Jangan sampai ada yang salah di depan boss ya. Tanya aja ke aku."


"Makasih ya, Kak."


Erica mengulas senyum lagi. "Iya sama-sama."

__ADS_1


Anak baru itu melanjutkan pekerjaannya lagi. Ia menuruti semua apa yang dikatakan Erica. Erica senang karena anak baru itu seperti yang diharapkannya.


__ADS_2