
Beberapa hari berlalu...Erica pulang dari kantor dan semakin meragukan suaminya sendiri. Karena pesan misterius yang terus berdatangan. Erica tidak menceritakan itu kepada Jonathan. Ia takut semua itu akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
Awalnya, Erica mencurigai Andrea. Maka dari itu ia mencoba memancing Andrea melalui pembicaraan yang selama ini ia lakukan padanya. Tetapi Andrea jujur. Ia tidak menyembunyikan apapun yang mencurigakan. Tetapi dirinya masih ragu apakah ia bisa mempercayai Andrea atau tidak.
"Sayang." panggil Jonathan ketika membuka pintu kamarnya. Karena malam ini Erica tumben sekali tidak keluar kamar untuk makan malam.
"Ya?"
"Kamu nggak makan?
" Aku nggak lapar."
"Bibi udah masak daging teriyaki enak loh, Sayang."
Erica meletakkan ponselnya dan mengambil posisi tidurnya.
"Aku mau tidur."
"Sayang? Kamu beneran mau kayak gini? Yakin?"
Erica diam saja. Ia tidak mau menanggapi ucapan Jonathan.
"Okay. Take your time. We talk later."
Erica memejamkan matanya. Walaupun ia tidak bisa tidur dan kepikiran dengan pesan misterius itu, ia berusaha tidur. Jonathan tidak mengganggunya malam ini. Tidak untuk malam ini.
Keesokan harinya, Erica ingin memeluk Jonathan seperti biasa. Tapi karena pesan misterius itu, hatinya jadi tidak tergugah sama sekali. Ia menelpon Andrea agar berangkat tiga puluh menit lebih awal. Ia pun tidak bertemu dengan Jonathan.
"Bu, nggak pamitan sama Bapak dulu, Bu?"
"Kita sarapan di jalan." kata Erica memasuki mobil. Andrea tidak bertanya lagi. Erica sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan. Entah apa itu.
Erica meminta supir agar berhenti di McDonalds dan memesan sarapan pagi disana.
"Dea." panggil Erica.
"Iya, Bu."
"Kamu punya pacar?"
__ADS_1
"Punya, Bu."
"Seberapa percaya kamu sama pacarmu?" tanya Erica.
"Ya saya percaya, Bu. Setiap ada apa-apa, kita pasti membicarakannya. Dan dia selalu terbuka sama saya, Bu." kata Andrea.
"Akhir-akhir ini ada yang mengirimi saya pesan seperti ini." kata Erica menunjukkan isi pesan singkat itu pada Andrea. Ia menunjukkannya karena ia sudah tidak tahu harus bertanya pada siapa lagi.
"Ini...apa, Bu?"
"Ini pesan yang hampir setiap hari saya terima. Pesan ini membuat saya ragu pada suami saya sendiri." kata Erica.
"Ibu harus tanya Bapak, Bu. Siapa tahu saja ada orang yang mau merusak rumah tangga Ibu."
Erica berpikir sejenak.
"Benarkah?"
"Kita nggak pernah tahu hati seseorang, Bu. Mungkin di depan baik, tapi di belakangnya nusuk kita." kata Andrea menjelaskan.
Erica mengangguk mengerti dengan perkataan Andrea.
"Saya khawatir beberapa hari ini. Karena Ibu tidak seperti biasanya. Ibu harus membicarakan masalah ini dengan Pak Jonathan."
Andrea mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan Erica. Mungkin selama ini Erica butuh teman cerita tapi tidak tahu cerita ke siapa. Sedangkan dirinya hanyalah orang baru yang tentu saja belum mendapatkan kepercayaan dari Erica seutuhnya.
Pulang dari kantor, Erica sudah mendapati Jonathan di ruanh tamu. Ini tidak seperti biasanya. Biasanya, dirinya lah yang menunggu Jonathan di ruang tamu.
"Kamu pulang cepet?" tanya Erica.
"Whats happen actually? Why you didn't tell me, Erica?" tanya Jonathan begitu melihat Erica pulang.
Erica tidak menjawabnya. Ia hanya mengeluarkan ponselnya dan memberi tahu isi chat yang selama ini mengiriminya pesan.
Jonathan terkesiap dan tidak tahu harus menjawab apa. Karena ini pertama kalinya Erica mendiamkannya seperti itu.
"Aku mendapat pesan itu beberapa hari ini. Dan aku nggak tahu apa yang aku pikirkan. Pikiranku kemana-mana setelah membaca pesan itu." kata Erica.
"Apa yang kamu pikirkan, Erica?"
__ADS_1
"I don't know! Aku cuma nggak tahu kenapa setelah kita menikah ada hal seperti itu. Sesuatu yang membuat kita adu domba dan akhirnya kita berantem. Walau aku tahu ini adalah sesuatu yang harus aku abaikan bukan? Tapi aku nggak bisa mengabaikan itu!" kata Erica. Ia mulai memberikan penjelasan. Selama kenal Jonathan, baru sekali ini ia merasa kesal dengan dirinya karena tidak memercayai Jonathan.
"Lalu kamu percaya dengan pesan - pesan ini?"
"Tentu aja nggak! Tapi semua pesan itu telah membentuk keraguan di dalam hati aku Jonathan!"
"Keraguan? Keraguan seperti apa? Aku cinta sama kami Erica! Kamu nggak perlu ragu akan semua itu!"
"You are really love me?"
"Yes of course."
"Tell me your bad side."
"My bad?"
"Kamu tau semua orang punya sisi baik dan buruk. Dan selama ini aku hanya tahu sisi baik kamu aja."
"Wait. No! Aku nggak punya sisi semacam itu?"
"So, why they always text me? It's make me doubt!"
"Siapa orang sialan yang sudah kirim pesan seperti itu i don't know, Erica!"
"Okay. Anggap aja kita memang nggak tahu siapa orang ini. Tapi kita akan cari tahu alasan kenapa dan mengapa dia ganggu aku terus setiap hari!" kata Erica.
"Just ignore this!"
"Nggak bisa, Jonathan. Kamu suamiku. Aku nggak mau ada sedikit keraguan di dalam hatiku pada suamiku sendiri. Dan kalau ada sedikit aja keraguan entah bagaimana jadinya hidup yang aku banggakan selama ini, Jonathan!"
"Maksud kamu?"
"Kamu tahu Jonathan, aku tulus mencintai kamu."
"Aku juga sangat tulus mencintai kamu Erica! Kamu pikir aku nggak?"
"Dan kalau aku menemukan bukti yang selama ini merupakan jati diri kamu yang sebenernya, aku nggak tau. Mungkin aku harus meninggalkan semua ini." kata Erica.
"Nggak, Erica, nggak. Aku yakin ada kesalahpahaman dari ini semua. Dia hanya mau mengadu domba kita! Kenapa kamu bisa percaya semua itu?"
__ADS_1
"Kita lihat permainan apa yang sedang dia buat!" kata Erica dengan tatapan mata yang tajam dan menusuk hati Jonathan.
Tidak pernah sebelumnya Erica menatap dengan tatapan yang marah seperti itu. Biasanya tatapan mata dan juga intonasi suaranya terdengar indah dan lembut. Kenapa malam ini terasa berbeda?