
Erica keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Jonathan yang sedang memainkan ponselnya, meletakkan kembali ponsel itu dan melihat kecantikan Erica seluruhnya. Tubuhnya ramping dan putih dengan rambut hitam dan sedikit ikal.
Kecantikkannya semakin nyata ketika ia menyunggingkan senyum di wajahnya.
"Lihat apa?" tanya Erica sambil tersenyum malu. Jonathan bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Erica dengan mengenakan celana pendeknya.
Jonathan meraih pundak Erica dan menatap mata Erica dengan dalam. Ia menyunggingkan senyumnya dan Erica juga membalas senyuman Jonathan.
"Istriku cantik sekali." kata Jonathan memegangi wajah Erica yang bersemu merah. Ketika Jonathan melihatnya seperti ini, jujur saja hatinya sangat meleleh. Dan entah bagaimana harus mengatakannya.
Erica menyunggingkan senyumannya dan menatap kembali Jonathan.
"Kamu mau sarapan pagi ini atau..."
"Atau apa?" goda Jonathan.
"Atau tetap ada disini?" tanya Erica..
"Oh aku kira kamu lagi mau bermalas-malasan."
"Mau sih... Tapi...Aku tuh laper " kata Erica
"Mau? Mau apa?" tanya Jonathan pura-pura tidak mengerti.
"Mau mager-mageran. Tapi kita harus isi energi dulu. Masa udah jahh jauh kesini, kita cuma tiduran aja?" tanya Erica.
Jonathan mengangguk.
"Oke. Kita sarapan."
"Oke. Ayuk."
"Aku pakai baju dulu ya."
"Oke aku tunggu diluar ya sambil lihat lihat."
Jonathan mengangguk.
"Jangan lama-lama ya. Laper!"
"Iyaa...iya sayang..."
Erica kembali menyunggingkan senyumannya. aia kemudian keluar dari kamarnya dan mulai menikmati matahari pagi di depan kamar sambil menunggu Jonathan keluar dari kamarnya .
Yess nih aku kasih ilustrasi lagii buat Erica.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Jonathan keluar dari kamar dan meraih pinggul Erica. Ia menuju restoran dan bersiap untuk sarapan.
__ADS_1
Ketika sudah ada di restoran, Erica dan Jonathan mengambil makanan bersama. Erica mengambil daging dan juga sayur. Sedangkan Jonathan mengambil roti dan juga smoked beef.
Mereka memilih meja makan yang tidak terlalu jauh dari area buffet.
"Ah ya, aku akan ambilkan buah dan puding." kata Jonathan. "Tunggu sayang."
Jonathan meletakkan ponselnya diatas meja. Erica hanya tersenyum melihat Jonathan yang kini sudah leluasa meninggalkan ponselnya. Dulu kemana-kemana ia selalu membawa ponselnya dan sering sekali menerima telpon.
Disaat Erica sedang menyuap dagingnya pada suapan pertama, ponsel Jonathan berbunyi. Ada telpon masuk.
"Baru ditinggal sebentar udah ada aja yang nelpon." kata Erica.. Ia kemudian melihat nama yang tertera di ponsel itu.
Dokter Willem.
Dokter? batin Erica. Apa Jonathan sakit sampai dokter harus meneleponnya? Erica belum tahu pasti. Tapi kalau dilihat, Jonathan segar bugar sab sehat wal afiat... Kalaupun sakit, apa yang sakit? Ah tidak mungkin. Tak lama ponsel itu bergetar, kemudian mati.
Jonathan kembali dari buffet dan membawa buah serta pudding. Jonathan meletakkan buah dan puding itu diatas meja kemudian mengambil tempat duduknya.
"Waah!! Makasihhh!!" seru Erica senang.
"You're welcome...Honeyy...."
Mereka mulai memakan hidangan yang ada disana. Lahap karena perut mereka sudah terasa sangat lapar. Menghabiskan malam yang indah karena mereka sudah menjadi suami istri yang sah.
"Kamu sakit?" tanya Erica
"Iya. Kayaknya kamu sehat aja deh. Kenapa tadi ada doktet nelpon kamu?"
"Dokter?" Jonathan langsung berpikir cepat siala dokter yang telah menelponnya. Ah..jangan-jangan Willem!
"Aku nggak apa-apa kok. Aku cuma sempat konsul tentang kehamilan." kata Jonathan sambil menyunggingkan senyumnya. Padahal hatinya sudah cukup was-was.
"Kamu yakin?"
"Yakin sayang..."
"Ok." Erica melanjutkan makannya tanpa menghiraukan apapun lagi. Ia menganggap Jonathan telah jujur kepadanya.
Sementara itu di Jakarta...
"Gimana, Dok? Diangkat nggak?" tanya ajudan.
"Nggak nih. Padahal ada yang lagi butuh donor." kata dokter itu.
"Terus gimana ya? Saya nggak berani ambil keputusan. Tunggu bos." kata ajudan.
"Iya nggak apa-apa. Yaudah nanti saya telpon lagi." kata dokter Willem. "Sekarang saya balik lagi ke rumah sakit."
"Baik, Dok.."
__ADS_1
Dokter yang dipanggil dengam Dokter Willem itu pun pergi meninggalkan Baron. Ajudan kembali mengirimkan pesan untuk Jonathan setelah Dokter Willem pergi dari Baron.
"Masih belom ada tanggepan dari Bos?" tanya rekanan ajudan yang lain.
"Belum nih."
"Sabar aja, nanti juga di respon. Sama istrinya kali."
"Iya kali ya."
"Iya kan baru nikah. Kayak nggak tau aja. Dia juga mau lah wikwik. Masa iya ngurusin kerjaannya terus."
"Lah kalo wikwik gue juga mau cuma emang belum dikasih jatah libur aja ini."
"Wikwik tuh enakan yang sah. Jangan open bo terus. Gaji ga seberapa open bo terus kan kerjaannya."
"Hehe.. Kan modal sedikit itu kalo open bo daripada harus manfaatin pacar."
"Udah sama sama salah. Wikwik enakan kalo nikah. Dapet pahala. Dosanya berkurang udah. Makanya kalo mau wikwik, cari dulu calonnta sana."
"Belom ada. Belooom.."
"Kerja mulu sih,nggak kaya-kaya.."
"Lah kan sama."
Mendengar ucapan itu, salah satu tahanan mereka mulai pusing. Ada satu orang yang ingin cepat-cepat mendonorkan organnya karena ia ingin cepat keluar dari ruangan yang pengap ini.
"Bang." panggil salah seorang yang ada disana. Ajudan itu menengok dan melihat lelaki yang memanggilnya.
"Itu dokter ya tadi yang dateng?" tanyanya.
"Iya emang kenapa?"
"Saya mau cepat-cepat dioperasi aja bang." katanya.
"Eh jangan sekata-kata. Emangnya yang nentuin dioperasinya kapan elu?"
"Ya makanya abang tanya sama Bos."
"Jangan macem-macem ye. Lu kata dari tadi gw kaga nelponin si bos apa ya. Pake nyuruh-nyuruh segala."
"Iya bang, pokoknya saya bersedia."
"Kaga usah nyuruh-nyuruh, gw paham apa yang harus gw kerjain. Gw hajar juga lu nanti kalo banyak omong."
Kemudian lelaki itu diam.
Tak berkata apapun lagi dan menunggu kabar selanjutnya. Ia ingin cepat keluar dari ruangan itu. Harapannya dibebaskan oleh Jonathan sangatlah kecil sehingga ia harus siap di operasi kapanpun.
__ADS_1