Rahasia Erica

Rahasia Erica
Telpon Jonathan


__ADS_3

Erica baru saja selesai membersihkan diri sepulang dari kerja. Setelah selesai mengeringkan badannya, Jonathan meneleponnya. Ah pas sekali waktunya. Untung baru selesai mandi. Diangkatnya telpon itu dan Erica mendapati suara Jonathan yang sedikit bete alias bosan.


"Kenapa baru angkat?" tanya Jonathan pelan.


"Lho, ini aku angkat..." sahut Erica tanpa merasa bersalah. Ia berpikir bahwa Jonathan baru saja meneleponnya.


"Aku sudah telpon lebih dari tiga kali dan kamu baru angkat telpon."


"Ah masa sih? Aku nggak tahu Jo. Beneran. Ini aku baru keluar dari kamar mandi. Aku baru selesai mandi dan hmm..."


Erica mencari alasan. Entah kenapa dirinya merasa bersalah karena mengabaikan telpon Jonathan ketika dirinya sedang mandi.


"Ah iya iya yasudah. Nggak apa-apa. Aku bercanda aja kok. Nggak ada maksud bikin kamu jadi merasa bersalah begitu." kata Jonathan.


"Jo... Nggak lucu tau."


Erica merajuk dan itu membuat Jonathan semakin gemas dengan Erica.


"Besok siap ya ketemu sama keluarga aku. Aku minggu depan ke Pontianak. Aku titip perusahaan sama kamu." kata Jonathan.


"Iya, Jo. Kalau ada apa-apa, aku bakal kontak kamu kok." sahut Erica.


"Oh ya. Aku mah nanya sesuatu. Tapi kalau nggak dibolehin sih ya nggak apa-apa ya..."


Erica merasa berdebar dengan apa yang akan dikatakan oleh Jonathan. Sejujurnya sekarang perasaan Erica sering berdebar karena Jonathan. Entah lah. Rasanya sulit nggak merasa berdebar karena Jonathan itu tampan, muda dan kaya raya. Siapapun pasti akan suka sama Jonathan.


"Kamu dulu itu dikhianati oleh mantan kamu ya? Sudah berapa lama kamu tau dia selingkuh?" tanya Jonathan.


Erica terdiam mendengar pertanyaan Jonathan. Yah sebenarnya antara malu dan tidak kalau membicarakan itu. Tapi mau bagaimana lagi. Memang itu kenyataannya. Tapi tunggu dulu, apakah dia harus menceritakan masalah pribadinya pada Jonathan??


"Apa menceritakan masalah pribadi juga ada dalam kontrak kita, Jo?" tanya Erica,


"Ehmm..ya nggak sih. Cuma waktu itu aku nggak tega aja lihat kamu dipermainkan sama laki-laki. Apalagi aku lihat kamu bukan tipe perempuan yang suka menyakiti hati laki-laki." kata Jonathan membuat hati Erica meleyot.


"Jadi menurutmu aku tipe yang bagaimana?" tanya Erica mengulas senyum diwajahnya.


"Kamu itu wanita yang perlu dijaga dan dilindungi. Aku sangat menghargai wanita seperti kamu. Apalagi kamu tipe orang yang nggak mau menyusahkan orang lain."

__ADS_1


Semua yang dikatakan Jonathan benar. Ia memang tidak mau menyusahkan orang lain...


"Dia selingkuh dan aku tahu siapa yang jadi selingkuhannya. Aku pernah ketemu sama wanita itu waktu mergokin Geo. Tapi nggak tau namanya."


"Suatu hari dia pasti menyesal ninggalin kamu, Ca."


"Aku pengen buat dia menyesal. Aku nggak tau caranya gimana."


Tiba-tiba Jonathan mendapatkan ide bagaimana membuat mantan Erica menyesal karena telah meninggalkannya.


"Bagaimana kalau kamu memanfaatkan aku untuk membuktikan ke mantan kamu kalau kamu sudah dapat yang lebih baik dari dia? Jadi kita impas. Aku akan tunjukkan ke Mama kalau aku sudah punya pacar. Begitu pula dengan kamu."


Erica menelan salivanyam Ia tidak percaya dengan ide gila yang dilontarkan oleh Jonathan.


"Itu ide gila, Jo. Dan aku nggak akan melakukan itu." kata Erica.


"Kenapa?"


"Kamu boss aku! Mana mungkin bawahan meminta hal seperti itu kepada atasannya?" Erica tidak percaya bahwa atasannya menawarkan hal seperti itu kepada dirinya.


"Yasudah. Kalau kamu berubah pikiran, jangam ragu. Aku siap kapanpun."


"Kamu beda loh dari yang di kantor."


"Maksudnya?"


"Kalau di kantor, kamu tegas dan disegani. Kalau dibelakang layar, kenapa jadi beda gini? Beda maksudnya tuh beda nggak kayak boss aja gitu."


"Terus kayak apa?" tanya Jonathan. Ia mulai tersenyum mendengar Erica bicara. Sepertinya, ia jatuh cinta pada gadis itu.


"Kayak orang lagi kasmaran ga sih?" tanya Erica. Jonathanpun meledakkan tawa.


"Aku ini sudah tiga puluh tahun! Masa iya aku lagi kayak orang kasmaran gitu sih?" tanya Jonathan tidak percaya pada dirinya sendiri.


"Ya liat aja besok di kantor. Aku yakin kamu orang yang berbeda."


"Okey. Kalau aku orang yang berbeda di kantor. Tegas. Mungkin galak. Atau nggak ramah. Kalau aku bersikap lemah lembut dan suka tertawa nanti karyawan aku bisa menertawai aku dong." jelas Jonathan

__ADS_1


"Terus, kenapa kalau sama aku kamu berbeda?"


Deg...harus menjawab apa Jonathan. Ya sih. Kalau sama Erica, dia paling lemah hatinya. Lembut bicaranya. Karena pikiran dan hati Jonathan sudah terhipnotis penuh oleh kecantikan dan keceriaan Erica.


"Kalau kamu ya... Kita.. Ehmm ada bisnis lain selain kerjaan kan. Jadi ya mau nggak mau selain sebagai atasa di kantor, kamu juga berperan sebagai kekasihku dong..."


"Terus?" lanjut Erica lagi. Ia sungguh penasaran dengan kelanjutan ucapan Jonathan.


"Terus apa?"


"Ya terus apa lagi, lanjutkan aja..."


"Terus ya mau nggak mau aku memperlakukan kamu sebagai kekasihku. Masa iya sesama pasangan aku harus tegas juga?"


"Ya nggak sih.."


"Nah..iya kan begitu..."


"Terus, Jo... Kalau diantara kita salah satunya ada yang jatuh cinta bagaimana?" tanya Erica langsung menembak tanpa ba bi bu lagi.


"Hah?" Jonathan sedikit bingung bagaimana harus menjawabnya.


"Coba kamu pikirin. Kita pura-pura pacaran. Tapi salah satu diantara kita jatuh cinta. Itu bagaimana?"


"Kalau kamu sendiri bagaimana maunya?"


"Aku belum tahu."


"Sama."


"Kalau gitu kita cari tahu bareng-bareng."


"Oke."


"Deal."


Pembicaraan di telpon sudah berlangsung lama. Dan tidak ada satupun yang membuat mereka menyudahi percakapannya. Selalu ada pertanyaan baru dan baru lagi. Seolah mereka tidak rela melepas malam ini begitu saja tanpa mendengar suara satu sama lain. Semua ini terasa menyenangkan bagi Erica. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan bersama Geo. Begitu pula dengan Jonathan. Tidak pernah seintens ini dengan Vivian. Hanya bertemu. Makan. Mengantar ke pekerjaan masing-masing. Sudah selesai.

__ADS_1


Berbeda dengan Erica yang selalu melempar pertanyaan pada Jonathan.


__ADS_2