
Setelah Vanessa datang ke rumah, Christy jadi suka marah-marah sendiri. Karena emosinya tersulut dengan kedatangan wanita itu. Wanita yang hampir saja membuat kehidupan Jonathan hancur karena kepergiannya. Erica yang mengetahui hal iti dari Jonathan-pun merasa kaget dengan cerita Jonathan.
"Jadi, kemarin Mama bentak-bentak Vanessa?" tanya Erica tidak percaya.
"Iya. Dan...Oh ya..Kata Mama kamu sudah setuju ya buat tunangan?" tanya Jonathan tidak percaya. Erica hanya tersenyum.
"Mama sudah cerita ya?"
"Sudah. Kalau gitu gimana kalau kita ke toko perhiasan aja? Kita beli cincin bareng untuk pertunangan kita." kata Jonathan bahagia.
Erica tersenyum malu walau di hatinya juga merasa bahagia.
...****************...
...Orang-orang yang telah dipilih oleh Jonathan untuk mengerjakan proyek di Kalimantan telah diterbangkan ke Kalimantan semuanya. Semuanya akan tinggal di mess yang disediakan oleh Jonathan. Beberapa dari mereka saling berkenalan. Menanyakan tempat asal mereka dan bagaimana bisa melamar pekerjaan dan diterbangkan ke Kalimantan....
Eshan yang baru saja pulang dari jam kerjanya, melihat para pekerja yang baru datang ke mess itu.
Eshan menyalami mereka dan memperkenalkan dirinya masing-masing.
"Sudah lama kerja disini?" tanya salah seseorang pekerja baru itu pada Eshan.
"Kurang lebih dua minggu."
"Kami baru datang dari Jakarta. Mohon bantuannya biar kita bisa bekerja sama." kata salah seorang pekerja itu. Eshan tersenyum tipis sambil mendengus kesal. Apa yang mereka harapkan? Sama-sama berasal dari tanah pulau Jawa, terbang ke Kalimantan dan ingin bekerja sama.
"Saya datang kemarin dua minggu saja sudah diinjak-injak . Bantuan apanya? Saya cuma bisa mempertahankan harga diri saya disini." kata Eshan kesal. Kebetulan, tadi sebelum pulang, Joshua sempat memarahinya.
"Maksud Abang kek mana ini, Bang? Kita cuma mau menjaga persaudaraan kita saja karena sama-sama kerja di tempat orang lain. Apalagi jauh dari keluarga. Tapi kenapa Abang nggak setuju dan marah-marah?" tanya salah satu pekerja itu yang menyadari ucapan Eshan tidak terdengar tulus.
"Kita realistis aja lah. Kerja di tempat orang lain nggak selalu enak. Bagaimana bisa saling bantu kalau hidup kita di intimidasi sama atasan?"
Pekerja yang lain mulai berpikir. Apakah tidak nyaman bekerja disini? Sampai Eshan bicara begitu?
"Kita diminta datang kemarin. Gajian kita juga dibayar dimuka..Kalau kita nggak kerja,mau ganti uang mereka darimana? Sudahlah , kita tidak perlu mikir macam-macam. Kita kerja saja." kata yang lain berusaha menenangkan mereka agar tidak terhasut oleh ucapan Eshan
"Ya terserah kalian. Aku hanya memberitahu pada kalian kenyataannya seperti apa dan jangan pernah merasa menyesal ya."
Eshan masuk ke dalam kamar messnya. Dan pekerja yang lain kasak kusuk dengan sikap Eshan yang tidak sopan itu.
__ADS_1
Joshua duduk di balkon apartemennya. Ia menghisap sebatang rokok dan menghembuskan asapnya ke udara bebas. Ia mengingat kejadian tadi siang di lokasi proyek dimana ia melihat Eshan sedang tidur siang di salah satu sudut pembangunan.
"Kamu ngapain?" tanya Joshua melihat Eshan yang menikmati tidur siangnya.
Eshan yang ditanya masih belum bangun.
"Hey, Eshan. Hoi. Bangun. Hoi."
Bukannya terbangun, Eshan malah menggeliat dan merubah posisi tidurnya.
Merasa kesal karyawannya tidur dengan nikmat di jam kerja, Joshua membentaknya.
"ESHAN!! BANGUN!!" Eshan sontak terkejut dengan suara itu. Ia langsung terduduk dan melihat siapa yang datang membangunkannya.
Betapa terkejut dirinya ketika melihat Joshua berdiri di hadapannya..
Eshan langsung bangun dan merapikan pakaiannya.
"Sudah berapa lama kamu tidur?" tanya Joshua.
"Baru kayaknya, Pak."
"Baru??! Saya bayar orang bukan buat tidur di proyek. Kalau kamu nggak mau kerja lebih baik pulang ke Jakarta! Tapi saya jamin saya nggak akan bayar kamu bulan ini!" seru Joshua kesal.
"Saya sudah lihat kamu hampir setiap hari tidur ya di proyek. Kalau nggak niat kerja saya telpon Jonathan buat mulangin kamu!"
Mendengar nama Jonathan, Eshan langsung bereaksi.
"Jangan, Pak, saya mohon. Jangan telpon Pak Jonathan." kata Eshan memohon.
"Kenapa emang? Saya udah diem selama ini kamu tidur pas kerja. Terserah saya dong mau telpon apa nggak!"
"Jangan, Pak, saya mohon, jangan! Saya akan giat kerja. Saya janji, Pak."
"Oh ya? Daniel mana ya? Seharusnya sih dia pasti sudah laporan sama Jonathan mengenai hal ini. Jadi saya nggak perlu repot-repot lapor Jonathan." kata Joshua dengan tenang.
"Iya , Pak, saya janji akan merubah sikap saya."
"Heh, emangnya ada apa sih? Kok kamu takut banget sama Jonathan? Baru saya sebut namanya aja kamu udah ketakutan gitu." tanya Joshua penasaran. Ia tidak menyangka , hanya menyebutkan namanya membuat Eshan ketakutan.
__ADS_1
"Nggak, Pak. Nggak ada apa-apa."
"Baiklah. Gaji kamu akan saya potong karena sering tidur di proyek. Saya nggak main-main soal gaji loh!" kata Joshua pada akhirnya. Ia memancing lagi agar Eshan mau membuka suaranya.
"Jangan, Pak. Bagaimana saya mau bayar hutang kalau gajinya Bapak potong." kata Eshan dengan nada memohon.
"Nah terus kalau gak mau dipotong, kerja yang bener dong!! Masa kerja tidur mulu!"
"Ya , Pak, maaf. Saya nggak akan ulangi."
"Jadi kamu punya utang sama Jonathan?" tanya Joshua langsung pada intinya.
Eshan menatap Joshua tapi tidak menjawab pertanyaan Joshua.
"Berapa?"
"Banyak, Pak."
"Angkanya?"
"Enam puluh juta..." jawab Eshan pelan.
"Hah?! Buat apa kamu uang sebanyak itu!"
"Saya butuh buat bayar hutang-hutang saya juga, Pak. Makanya saya minta bantuan pada Pak Jonathan."
Joshua ingin bicara tapi nggak jadi. Ia memijat keningnya sebagai gantinya.
"Kenapa kamu berpikir minjam uang sama Jonathan?"
"Karena Pak Jonathan bilang kalau ada peminjaman uang yang pasti cepat cair, Pak."
"Kamu dalam masalah Eshan! Maka dari itu Daniel mengawasi kamu!" kata Joshua.
"Iya, Pak! Bapak tahu juga soal Pak Jonathan?" tanya Eshan.
"Bagaimana saya nggak tahu, dia itu kakak saya!"
Eshan terdiam.
__ADS_1
"Kerja lah dengan baik atau Jonathan akan kirim orang lagi buat menghajar kamu disini. Paham kamu!"
Joshua meninggalkan Eshan di proyek. Eshan hanya terdiam melihat kepergian Joshua dengan menaiki mobilnya. Ia tahu semua terasa sulit. Bahkan adiknya sendiri mungkin tidak habis pikir dengan sikap kakaknya.