
Jonathan memasukkan banyak peralatan yang sekiranya ia butuhkan ke dalam keranjang belanja. Erica sampai kebingungan karena Jonathan mengambil banyak sekali camilan. Erica tersenyum dan sedikit meledek Jonathan hingga akhirnya Jonathan merasa malu sendiri.
"Kamu yakin bisa menghabiskan itu semua?" tanya Erica.
"hmmm...karena nanti nggak ada Mama disana, aku mau puas-puasin makan apa yang aku suka." jawab Jonathan.
"Okey. Kalau ada apa-apa aku nggak nanggung ya."
"Kamu beli sekalian buat stok kamu di rumah." kata Jonathan mengambilkan beberapa snack dan wafer untuknya.
Erica tidak mau banyak menolak lagi. Dia lelah menolak apa yang diberikan Jonathan. Karena apapun yang ditolak, pasti akan dipaksa untuk menerimanya.
Setelah beberapa kebetuhan Erica sudah masuk ke dalam keranjang belanjaan, mereka menuju kasir. Tentulah Jonathan yang mengeluarkan uang untuknya.
Setelah scan barang di barcode dan semua sudah selesai, Jonathan meminta agar di pack di dalam dus dan meminta seseorang karyawan membawakannya ke dalam bagasi mobil.
"Sudah selesai. Bajuku sudah di packing, peralatan lain-lain dan stock cemilan. Sekarang, aku mau antar kamu ke rumah." kata Jonathan.
Selama perjalanan, Erica diselimuti rasa bahagia karena Jonathan yang tadinya adalah atasannya,kini telah berubah menjadi kekasih pura-pura Erica. Walau hanya pura-pura, Erica cukup senang dengan cara Jonathan memperlakukan dirinya.
"Selama di Pontianak, aku akan berada di lapangan. Mengurus lahan yang akan dibangun properti." kata Jonathan.
"Oke. Kalau ada sesuatu yang harus dikerjakan, kamu bisa langsung hubungi aku." kata Erica.
"Mungkin aku akan bolak balik telpon kamu tentang perijinan. Kamu harus standby kapanpun ya. Karena sepertinya aku akan sedikit sibuk disana." jelas Jonathan
Erica mengangguk. Walau telah dipercaya oleh Jonathan, ia tidak mau bebesar kepala. Karena mengurus perusahaan, tanggung jawabnya pastilah besar.
Tiga puluh menit berlalu. Mereka akhirnya sampai di apartemen Erica. Jonathan membantu Erica membawakan dus yang berisi belanjaannya.
Mereka menaiki lift dan Erica membuka pintu apartemennya dengan menekan beberapa nomor sandinya.
"Kamu tahu kan sandi aku?" tanya Erica pada Jonathan..
"Aku nggak tahu."
"Sandinya ulang tahunku. Jadi kalau kamu kesini, kamu bisa langsung masuk tanpa meneleponku." ucap Erica
"Kenapa begitu? Ini kan rumahmu. Privasimu." Jonathan tidak mengerti apa yang dipikirkan Erica.
"Karena apartemen ini hadiah darimu, aku akan memberitahu kata sandinya." jawab Erica tersenyum. Erica masuk lebih dulu disusul oleh Jonathan.
__ADS_1
Erica meletakkan dus diatas meja diikuti oleh Jonathan.
"Apa nggak mau dibereskan saja barang-barangnya?"
"Iya sebentar aku ganti baju dulu." Erica memang cenderung langsung mengganti bajunya ketika habis berpergian. Ia tidak suka memakai baju pergi di dalam rumah. Terlebih lagi celana jeans. Ia merasa tidak nyaman.
Setelah mengganti bajunya, Jonathan yang sedang bertelepon turut membantu Erica membereskan barang-barangnya. Tingkahnya membuat Erica tahu bahwa Jonathan adalah tipe orang yang peduli dan mau membantu orang lain.
Setelah menyudahi teleponnya, Jonathan baru menyadari bahwa Erica mengambil mi untuk di stok banyak sekali.
"Kamu stock mie banyak banget loh, Er. Kamu nggak boleh makan mie sebanyak ini." tegur Jonathan.
Erica diam saja ketika ditegur begitu oleh Jonathan.
"Jangan sayang uang kalau itu untuk kesehatanmu, Er."
"Aku nggak makan setiap hari kok, Jo."
"Aku transfer kamu buat kamu makan yang lain selain mie. Aku nggak mau ya kalau kamu makan mie terus kayak gini." omel Jonathan.
Erica menyadari sesuatu. Sejak kapan Jonathan jadi begitu protektif terhadap apa yang di jalani dalam kehidupannya? Bukankah mereka hanya sekedar pura-pura pacaran? Kenapa Jonathan jadi peduli pada kesehatannya?
"Jo?" panggil Erica
"Hubungan kita hanya sekedar pura-pura pacaran. Terus kamu sekarang peduli sama kesehatan aku. Maksud kamu apa begitu?" tanya Erica.
Jonathan berhenti mengotak atik ponselnya. Ia menatap Erica dan meletakkan ponselnya. Ia berjalan mendekati Erica sehingga Erica mundur satu langkah menjauhi Jonathan.
"Er... Kamu takut sama aku?" tanya Jonathan
"Enggak."
"Terus, apa kamu merasa berbeda ketika lagi sama aku?"
"..." Erica terdiam. Bagaimana ia harus menjawabnya?
"Er... Kamu yakin diantara kita bisa pura-pura pacaran?"
Jonathan menatap Erica jauh ke dalam matanya. Rasanya sudah menembus ke dalam jantung Erica.
"Erica... Rasanya aku udah nggak bisa pura-pura pacaran sama kamu lagi." ucap Jonathan
__ADS_1
Dheg!! Erica terkejut dengan pernyataan Jonathan
"Maksud kamu?" tanya Erica.
"Aku menyukaimu, Erica."
Dhuarrr!!! Jantung Erica mau copot. Mimpi apa dia semalam? Bosnya suka sama Erica. Bos. BOS. BOS!! Udah gila. Gila ini semua.
"Nggak salah orang, Jo?"
Jonathan merapikan anak rambut Erica yang bertebaran di dahinya.
"Boleh aku memegang tanganmu, Er?" tanya Jonathan dengan sopan.
Seketika, Erica bingung dengan ucapan Jonathan yang lembut begini. Jantung Erica? Jangan ditanya. Sudah pasti tidak aman. Bergetar hebat sampai rasanya mau pingsan.
Erica mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Jo. Ini salah."
"Salah apanya?"
"Jo, aku ini bawahanmu. Hidupku biasa-biasa saja. Aku masih bekerja di perusahaanmu. Aku masih membutuhkan uang. Aku dan kamu, kita nggak selevel, Jo. Kamu harus cari wanita lain yang satu level sama kamu. Dan itu bukan aku!"
Erica merasa minder. Sejujurnya, ia merasa ragu, perasaan berdebar ini sebenarnya perasaan apa?
"Aku sudah punya uang, jabatan, kekuasaan, dan aku hanya butuh kamu Erica. Aku nggak butuh jabatanmu, hartamu, semuanya, aku cuma mau kamu." kata Jonathan.
Erica terdiam lagi tidak memberi jawaban. Oke. Ini terlalu mendadak untuknya. Ia shock. Terkejut. Kaget.
"Baiklah. Saat ini aku hanya ingin kamu tahu perasaanku. Aku akan melakukannya pelan-pelan dan nggak mau terburu-buru. Aku juga nggak akan menyentuhmu kecuali kamu mengizinkanku. Aku akan menunggu kamu membuka hati untukku, Er." kata Jonathan.
Nggak usah nunggu, Jo! Nggak usah! Hati Erica sudah terbuka. Cuma dia gengsi aja!
Erica mengangguk pelan. Sedangkan Jonathan sudah siap membuka pintu apartemen.
"Ingat ya. Jangan makan mie." kata Jonathan tersenyum.
Erica mengangguk pelan dan mengerti dengan maksud Jonathan
Jonathan berpamitan dan menutup pintu kembali
__ADS_1
Erica memegangi jantungnya yang berdebar kencang tidak keruan. Hatinya penuh dengan dag dig dug.