Rahasia Erica

Rahasia Erica
Memberi pancingan


__ADS_3

Jonathan memanggil Erica ke ruangannya. Ia meminta Erica ikut dalam setiap meeting yang akan dihadiri oleh kepala divisi setiap departemen.


Erica mencatat setiap berita penting dalam rapat.


Selesai rapat, Jonathan meminta semua kepala divisi meninggalkan ruangan. Yang tersisa hanyalah Erica yang sedang mencatat notulen.


"Sudah, Pak." kata Erica.


"Nanti makan malam ya..." kata Jonathan.


"Pak, nanti malam saya mau beli bahan makanan buat di rumah, Ibu saya mau masak katanya, Pak..."


"Oh iya, ada ibu ya.. Yaudah kita beliin aja bahan makanan. Beli sama aku aja ya..." kata Jonathan tersenyum senang.


Jonathan menatap wajah Erica dengan senang. Ia menemukan wanita yang selama ini bisa menjadi penyemangat hidupnya. Jonathan meraih tangan Erica dan menggenggam tangannya.


"Apapun yang mau kamu lakukan,lakukan sama aku ya, Erica. Apapun itu. Aku pasti akan selalu ada disamping kamu, apapun keadaannya.." kata Jonathan.


"Iya, Jo..." jawab Erica sambil menyunggingkan senyumnya. Jonathan berdiri dan memeluk Erica dengan penuh kasih sayangnya. Erica sedikit nggak nyaman dipeluk seperti itu oleh Jonathan di kantor. Tapi ia berusaha menghargai kehangatan yang diberikan Jonathan.


"I'm so happy for having you in my life, Erica."


"Me too, Jo..."


Jonathan melepaskan pelukannya dengan lembut. Dan membelai rambut Erica.


"Kalau nanti kita ketahuan, aku nggak pernah masalah, Erica. Suatu saat nanti aku akan mengumumkan juga hubungan kita."


Wajah Erica mulai memerah.


"Iya, Jo. Tapi nggak sekarang yaa..."


Jonathan mengangguk.


...****************...

__ADS_1


Eshan merasa sepi dan sendiri. Erica tidak ada di rumah. Sejak kedatangan Erica, Ibu juga pergi dari rumah ikut Erica ke Jakarta. Rumah juga masih berantakan. Eshan tidak memiliki siapapun yang bisa dijadikan pegangan saat ini.


Ia menendang kursi tanda emosinya .


"Argghhhh!!!!" ujarnya kesal.


"Semua pergi! Nggak ada satupun disini! Gue jual juga nih rumah!" teriak Eshan kesal. Ia duduk dan melihat sekeliling rumah yang diserang oleh penagih hutang.


Ia mencoba menghubungi Erica. Tapi ia teringat dengan kata-kata yang dilontarkan oleh kekasih Erica. Bahwa ia tidak boleh mengganggu Erica. Ah tapi peduli amat! Siapa dia? Baru jadi pacarnya saja sudah berani menyuruh ini dan itu. Bagaimana kalau nikah?


Hahaha... Dia pikir gue bakal ngikutin apa yang dia mau cuma gara-gara itu? Batin Eshan.


Eshan mencari nomor Erica dan segera menghubungi Erica. Tuuttt.... Tuuuttt...


Telpon pun terangkat. Tapi tunggu dulu. Suara siapa itu? Seperti bukan suara Erica.


"Halo." sapa seseorang di seberang telpon. Ah siapa ini? Tanya Eshan dalam hati.


"Erica mana?" tanya Eshan cepat.


"Ini siapa?"


"Ini pacarnya."


"Oh,kamu pacarnya. Cepat berikan telponnya sama Erica. Saya mau bicara dengan Erica." perintah Eshan. Apa Jonathan langsung menuruti apa yang diminta Eshan? Tentu saja tidak.


"Nggak bisa."


"Loh, kenapa? Saya Abangnya!" ujar Eshan sudah mulai kesal.


"Kan sudah saya bilang, jangan ganggu Erica atau pun Ibu lagi. Saya rasa saya sudah mengatakannya dengan cukup jelas." jawab Jonathan.


"Kamu itu baru jadi pacarnya! Bukan keluarganya! Punya hak apa kamu nyuruh saya begitu?" jawab Eshan kesal.


"Bukankah lebih baik saya? Daripada Erica punya Abang yang sukanya minta-minta duit, lebih baik kamu nggak jadi keluarganya lagi kan? Menyusahkan saja hidupnya." sahut Jonathan merasa santai. Manusia model Eshan yang perlu dibasmi dan tidak pantas disebut manusia. Hanya menjadi parasit bagi orang lain.

__ADS_1


"Kok bisa-bisanya sih Erica pacaran sama orang kayak kamu ini?" tanya Eshan


"Bisa dong. Saya kaya. Punya banyak uang. Tapi sayangnya, Erica nggak boleh memberi uang pada Abangnya lagi."


"Sialan! Kamu sudah berani mengatur Erica pada siapa dia harus ngasih uang!" teriak Eshan kesal.


"Iya dong."


"Erica mana? Saya mau bicara!"


"Kenapa sih? Butuh uang memangnya?"


"Bukan urusan kamu!"


"Kalau butuh uang, kamu cari pinjaman dengan nama Baron. Disana kamu bisa minjem berapa aja tanpa syarat apa-apa. Dijamin kamu bisa dapat pinjaman uang disana." kata Jonathan


"Jangan main-main kamu ya!"


"Saya nggak main-main kok. Itu beneran. Coba aja datang kalau nggak percaya. Atau kalau Abang nggak punya ongkos, saya transferin uang buat ongkos Abang." kata Jonathan


"Ini beneran?" tanya Eshan. Begitu mendengar nama "uang" rasanya Eshan hilang kendali. Ia seperti dibutakan oleh sesuatu!


"Iya. Kirimin nomor rekening Abang sekarang ke nomor Erica ya. Nanti saya kirimin ongkos."


"Oke oke. Saya segera kirim."


Eshan menutup telponnya. Amarahnya segera mereda ketika ia tahu bahwa pacarnya Erica akan mengiriminya uang. Ia segera mengetikkan nomor rekeningnya dan dikirimkan pada nomor ponsel Erica. Lima menit kemudian, ada uang masuk ke rekening Eshan. Lima juta rupiah. Wah ini jumlah yang sangat besar untuk ongkos ke Jakarta!


Eshan senang bukan main. Setelah ini ia akan pergi ke Jakarta dan mengunjungi peminjaman uang bernama Baron itu. Ia segera memesan tiket travel dan akan pergi ke Jakarta.


...****************...


Hai gaaays, apakabar semuaaa? Maaf ya gabisa up cepet. Setiap hari diusahakan up ♡


Jangan lupa vote dan kirim dukungan kalian yaaa. Dukungan dari kalian sangat berarti bagi othor 😊

__ADS_1


Terima kasih banyaaakkkk ♥︎


__ADS_2