
Jonathan mengantar Erica sampai masuk ke dalam apartemennya. Ia menggenggam tangan Erica dan memastikan Erica masuk ke dalam apartemennya dengan selamat.
"Terima kasih ya, Jo. Udah nganterin aku." kata Erica. Jonathan merapikan rambut Erica dengan jemarinya.
"Setelah ini, kalau aku lagi ga bisa dihubungi, berarti aku lagi ada kerjaan di luar rumah ya." kata Jonathan.
"Kerjaan apa itu?"
"Memeriksa pekerjaan lapangan." jawab Jonathan dengan santai sambil mengulas senyum di wajahnya. Erica mengangguk.
"Baiklah."
Jonathan menatap Erica dengan dalam. Tatapan mata Erica meneduhkan hatinya. Ingin sekali ia merangkul wanita itu dan membuatnya aman disisinya.
"Er, aku ingin menciummu. Boleh?" tanya Jonathan. Degup jantung Erica berdebar dengan kencang. Inikah tahapannya orang yang sedang menjalin kasih? Lalu, bagaimana lagi setelah ini? Bukankah ini terlalu tergesa-gesa? Apa tidak?
Tanpa sadar, Erica menganggukkan kepalanya. Ia mengiyakan permintaan Jonathan. Entah ada apa dengan dirinya. Bersama Jonathan, ia ingin sekali menuruti pria itu. Berbeda dengan Geo yang selalu ia jaga jaraknya.
Jonathan meraih tengkuk Erica, mencium bibir Erica dengan lembut. Ciuman itu terasa lembut dan hangat. Awalnya, Erica hanya bisa memegangi tangan Jonathan, tetapi Jonathan menuntunnya agar tangan Erica melingkar dipundak Jonathan.
Erica membalas ciuman Jonathan. Semakin lama, ciuman itu semakin menggebu hingga Jonathan menyandarkan Erica ke dinding. Jonathan masih fokus menciuminya hingga ia sadar tangannya akan menyentuh bagian lain di tubuh Erica. Jonathan menyudahi ciumannya dengan perlahan. Ia mulai melepas bibirnya dari bibir Erica.
"Hari ini aku akan mengontrol diriku." kata Jonathan. Erica yang baru pertama kali merasakan sensasi ciuman, tidak berkomentar banyak. Ia hanya menikmati malam itu dengan tenang.
"Pulanglah, Jo..." pinta Erica.
"Baiklah. Aku berjanji nggak akan menyakiti kamu, nggak akan melakukan hal yang kamu nggak suka."
Erica menatap mata Jonathan dengan dalam . Ia mencintai pria itu kini dengan setulus hatinya.
Harus bagaimana jika Jonathan memgkhianatinya? Ia telah memberikan seluruh hatinya untuk Jonathan.
Erica membelai rambut Jonathan dengan perlahan.
"Aku mencintaimu, Jo. Aku nggak sanggup dibuat kecewa. Kalau aku sudah mengizinkanmu menyentuhku, tolong jangan khianati aku." kata Erica.
Jonathan mengangguk..
"Aku berjanji, Erica." jawab Jonathan dengan senyum . Ia kembali menciumi bibir Erica dan juga mengecup dahi Erica.
"Aku pulang dulu, Erica."
Erica mengangguk. Jonathan melambaikan tangannya dan menutup pintu apartemen Erica.
Sepeninggal Jonathan, Erica mendapat telpon dari kampung halamannya. Itu adalah nomor Ibu. Eroca segera mengangkat telpon dari ibunya.
__ADS_1
"Halo, Bu..."
"Erica, ini Abang." kata suara lelaki di seberang telpon. Itu adalah kakak Erica, Eshan.
"Abang, iya Bang, kenapa?" tanya Erica
"Bulan ini kamu sudah kirim buat ibu belom?" tanya Eshan dengan cepat.
"Oh iya, Bang, sebentar, Erica transfer ya."
"Cepat kirim, Erica. Ada keperluan disini. Jangan lama-lama ya. Aku langsung ke ATM sekarang." kata Eshan.
"Iya, Bang."
Erica merasa aneh dengan kakaknya. Tumben sekali menelepon dan meminta uang dengan cepat seperti itu. Erica langsung membuka aplikasi mobile bankingnya dan mengirimkan sejumlah uang untuk Ibunya yang ada di Sukabumi.
Setelah mengirimkan uang, Erica menelepon lagi. Kini bukan Eshan yang mengangkat telpon. Melainkan Ibunya.
"Halo, Bu..."
"Erica..."
"Bu,Erica sudah kirim uang buat Ibu..."
"Bu, ibu kenapa? Ibu baik-baik aja kan?"
"Ibu baik, Nak.. Hanya saja, Eshan sekarang tidak bekerja dan selalu minta uang sama Ibu...Kalau nggak dikasih, Eshan marah-marah nggak karuan. Ibu harus gimana Erica? Ibu sakit hati, Erica .. Dibentak oleh Eshan..." cerita Ibu sambil menangis.
"Bu, ibu sabar ya. Ibu jangan nangis dulu... Nanti Erica cari solusinya ya, Bu...."
"Maaf ya, Erica..Ibu jadi membuat kamu khawatir..."
"Nggak apa-apa kok, Bu. Ibu cerita gini lebih baik.. Erica jadi ngerti apa permasalahannya." kata Erica.
"Kamu istirahat, Nak.. Pasti kamu capek pulang kerja..." kata Ibu
"Iya, Bu. Kalau ada apa-apa, hubungi Erica ya, Bu.."
"Iya, Nak..."
Erica menutup telponnya dan diakhiri dengan kekhawatiran. Ia ingin sekali pulang ke Sukabumi dan melihat keadaan Ibunya. Tapi apa mungkin? Erica menahan kerinduannya pada Ibunya. Ia juga khawatir meninggalkan Ibu bersama Eshan di Sukabumi. Ayahnya sudah lama meninggal. Ingin sekali ia membawa ibunya tinggal bersamanya.
Kini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Erica sudah bisa menghidupi Ibunya di Jakarta.
...****************...
__ADS_1
Jonathan turun dari mobilnya. Ia menemui ajudan dan orang yang akan meminjam uang padanya. Ajudan itu menyambut kedatangan Jonathan dan menunjukkan arah dimana orang itu berada.
"Dimana dia?"
"Di kantor, Boss."
Jonathan berjalan dengan cepat kearah kantornya. Dan menemui seorang pria yang akan meminjam uang padanya. Pria itu berdiri dan membungkuk pada Jonathan
"Selamat malam, Pak..." sapa pria itu.
"Ini, Boss, yang mau pinjam uang tadi." kata ajudan itu. Jonathan melihat pria didepannya yang akan meminjam uang padanya. Pria itu sedikit gemetar karena ditatap oleh Jonathan.
"Pinjam berapa?" tanya Jonathan
"Dua puluh juta, Pak."
"Jaminannya apa?"
"Saya akan menjaminkan mobil saya, Pak." kata pria itu menyerahkan kunci mobilnya.
Jonathan melirik ke arah ajudan. Dan ajudan itu segera mengambil kunci mobil itu dan akan segera memeriksa kondisi mobil itu.
Selagi ajudan pergi memeriksa kondisi mobil, Jonathan bertanya lagi pada pria itu.
"Udah tahu peraturan pinjam uang sama saya?" tanya Jonathan
"Maaf, Pak, saya belum begitu mengetahuinya."
"Dalam satu tahun uang saya harus kembali. Jika tidak, kamu akan menyerahkan apa yang kamh jaminkan."
"Baik, Tuan."
"Tidak hanya itu. Bagaimanapun, uang saya harus kembali. Kalau tidak, ginjalmu saya pertaruhkan." ucap Jonathan menyipitkan matanya
Pria itu terkejut bukan main. Bagaimana bisa meminjam dua puluh juta ia harus menjaminkan ginjalnya juga?
"B-baik, Pak!"
Ajudan itu kembali dari luar ruang kantor dan menyerahkan kunci pada Jonathan.
"Berikan dua puluh juta!" kata Jonathan.
Pria itu berlutut mengucapkan terima kasih pada Jonathan. Tapi Jonathan tidak menghiraukannya. Ia langsung pergi meninggalkan kantor.
Ajudan itu segera memproses uang pinjaman yang akan di serahkan pada pria itu.
__ADS_1