
"Sementara, kalian bisa pindah ke rumah susun satu lagi di dekat sini. Itu juga saya yang mengelolanya." kata Jonathan memberikan solusi.
"Baik. Kami akan bicarakan dulu dengan yang lain." kata Bu Parmo.
"Kapan saya bisa mendapat kepastian?" tanya Jonathan dengan tegas.
"Mungkin dengan waktu kami membicarakan dan membereskan barang-barang, sekitar sebulan ke depan." jawab Bu Parmo.
"Terlalu lama." jawab Jonathan cepat.
Lagi-lagi Bu Parmo membulatkan matanya. Tidak percaya dengan perkataan Jonathan.
"Apa? Lalu berapa lama? Sebulan adalah waktu yang paling pas!" protes Bu Parmo lagi.
"Dua minggu. Saya berikan waktu dua minggu bagi kalian untuk pindah dari sini." putus Jonathan dengan tegas. Matanya menatap tajam ke arah Bu Parmo dan tidak ramah sedikitpun
"Apa? Yang benar saja! Kami harus pindah dalam dua minggu!"
"Lihat saja. Dua minggu, saya akan kembali dengan membawa alat berat untuk menghancurkan rusun ini!" seru Jonathan. Ia tidak main-main rupanya dengan ucapannya.
"Anda serius? Anda tidak main-main dengan ucapan Anda bukan?" kini, Bu Parmo terdengar mulai gelisah dengan ucapan Jonathan.
Karena kesal , Jonathan menatap Bu Parmo dengan lekat-lekat. Tatapan tajamnya membuat Bu Parmo takut.
"Apa saya kelihatan bermain-main?"
Bu Parmo tidak bisa berkata-kata lagi. Ia tidak tahu bahwa pemuda di hadapannya ini terlihat arogan. Lunturlah niat Bu Parmo ingin membujuk rayu pria tampan di depannya. Wajah yang dipikir bisa dirayu karena belas kasihan,kini tidak lagi. Justru sebaliknya. Jonathan tetap pada pendiriannya dan sangat tegas.
"B-baiklah. Saya akan beritahukan pada penghuni lain kalau penggusuran akan dilakukan dua minggu lagi." kata Bu Parmo.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian mengerti akan hal itu sejak awal."
Jonathan akhirnya menegakkan tubuhnya dan bersiap pergi meninggalkan tempat itu.
"Baiklah."
Jonathan melamgkahkan kakinya keluar dari rusun itu. Joshua mengikuti dibelakangnya. Kini, tanpa supir, Jonathan menyetir sendiri mobilnya.
Jonathan menghela napas panjang ketika baru duduk di dalam kursi kemudinya.
"Kalau didepan mereka, jangan mau kalah dan melemah. Kita harus tegas agar pembangunan itu bisa berjalan dengan lancar. " kata Jonathan.
"Iya, Jo."
"Oke. Bagus kalo ngerti. Sekarang kita lanjut makan siang dulu."
"Oke, Jo." Joshua menuruti perintah kakaknya. Ia sedikit terkejut melihat cara Jonathan menangani pekerjaan lapangan.
Kini tibalah Jonathan di tempat penyewaan alat berat untuk menghancurkan gedung. Jonathan memasuki area itu dan menemui pemimpin perusahaan tersebut.
" Dimana Pak Hendrik?" tanya Jonathan menemui salah satu staff disana.
"Bapak siapa kalau boleh saya tahu?" tanya staff itu.
"Jonathan. J&J Group." jawab Jonathan dengan nada yang santai. Tapi sepertinya pegawai disana sudah mengenal siapa Jonathan. Jadi tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bertemu dengan Hendrik.
"Silakan lewat sini." kata staff itu memberi arah petunjuk
Jonathan mengikutinya dan tibalah mereka di ruang Hendrik , orang yang menjalani perusahaan tersebut dari waktu ke waktu.
__ADS_1
"Selamat datang, Pak Jonathan." sapa Hendrik dengan ramah. Rupanya mereka sudah cukup kenal dekat sehingga tidak ada rasa canggung diantara mereka.
"Ya."
"Silakan duduk, Pak." kata Hendrik yang langsung menunjuk sofa yang kosong. Joshua mengikuti kakaknya duduk di sofa itu. Ruangan itu ber AC . Nyaman, setidaknya berbeda dengan rusun tadi yang sumpek dan pengap.
"Saya sudah mendengar dari Pak Dion bahwa Bapak akan kemari. Makanya saya sejak tadi menunggu kehadiran Bapak." kata Hendrik yang membuka pembicaraan.
"Ya. Saya ingin membangun ulang rusun yang ada di dekat sekolah. Saya ingin menghancurkan gedung itu dalam waktu dua minggu." kata Jonathan
"Dua minggu? Apa tidak terlalu cepat waktunya, Pak?"
"Lalu kapan waktu yang tepat? Saya ingin pembangunan segera selesai." kata Jonathan
"Saya sudah memutuskan dalam dua minggu ini pekerjaan itu haruslah selesai. Dan tidak ada tawar menawar lagi." perintah Jonathan.
"Baiklah."
"Ingat, saya tidak mau ada kendala selama penghancuran gedung. Dan pastikan semua berjalan dengan lancar." pesan Jonathan dengan tatapannya yang tajam
"Baik, Pak. Pastikan semua penghuni sudah pindah sebelum melakukan penghancuran gedung."
"Saya akan pastikan semua berjalan lancar." kata Jonathan tersenyum.
Mereka berjabat tangan tanda kesepakatan mereka. Dan akhirnya hari ini setelah mengunjungi rusun dan juga penyewaan alat berat, mereka pulang dan memesan makanan cepat saji.
Joshua merebahkan dirinya. Ia merasa lelah karena sudah mengunjungi beberapa tempat dalam sehari.
Joshua mendengar sayup-sayup suara Jonathan yang sedang bertelponan. Joshua menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Ia tidak menyangka bahwa kakaknya adalah orang yang pekerja keras. Hingga larut malampun, masih jelas terdengar suara Jonathan yang bertelponan.