Rahasia Erica

Rahasia Erica
Awal mula menikah


__ADS_3

Kata orang, menikahlah dan kamu akan menemukan kebahagiaanmu. Tapi apakah itu juga berlaku pada Jonathan dan Erica?


Pernikahan mereka baru saja dimulai. Masih ada romantisme yang ingin mereka bangun bersama.


Mengunjungi Maladewa adalah impian Jonathan ketika ia sudah menikah dan ingin honeymoon dengan indah di pulau ini. Erica terlihat begitu antusias dengan pulau yang indah ini. Matanya membulat dan melebarkan senyumnya. Rambut ikal indahnya tersapu angin dan juga dress indahnya berkibar.


"Gimana? Suka?" tanya Jonathan. Ia yakin, Erica pasti sangat menyukainya.


"Suka banget!" sahut Erica sambil merapikan anak rambutnya yang berantakan karena sapuan angin.


"Kita liat ke kamar hotelnya dulu yuk." ajak Jonathan.



Erica melihat kamar hotel yang indah sepanjang perjalanannya. Ia amat mengagumi pulau itu dan isinya. Air lautnya yang jernih membuat dirinya ingin menyeburkan diri dan berenang. Ia ingin sekali memanjakan dirinya dengan pemandangan seindah ini di Maladewa.


"Kenapa kamu bisa kepikiran buat honeymoon disini? Dan ini siapa yang nyiapin?" tanya Erica. Ia tidak percaya bahwa akan memiliki pengalaman manis disini.


"Aku suka suasana disini. Aku mau honeymoon dengan keindahan alam disini." kata Jonathan.


"Makasihh ya Sayang udah bawa aku honeymoon disini." kata Erica.


Jonathan merangkul pinggul Erica. Ia memeluk dan menghadapkan tubuhnya ke arah Erica. Jonathan merapikan rambut Erica yang menutupi wajahnya.


"Aku janji, apapun yang kamu inginkan akan aku penuhi. Aku akan memperlakukan kamu sebagaimana mestinya." kata Jonathan. Erica memeluk tubuh Jonathan dan memejamkan matanya. Ia merasakan nyaman di dalam pelukan Jonathan.


"Aku merasa nyaman loh ada dipelukan kayak gini." kata Erica.


"Serius?"


"Serius. Kalau aku marah atau kesal, boleh nggak kamu peluk aku kayak gini?" tanya Erica.


"Anytime, Sayang..."


Erica kembali mengetatkan lingkaran tangannya di tubuh Jonathan. Ia merasakan cinta yang begitu dalam dari Jonathan.


Erica merasakan kebahagiaan yang amat sangat dari Jonathan. Hingga ia buta akan hal lain yang Jonathan simpan. Sesuatu yang mungkin bisa menjadi bumerang bagi Jonathan sendiri.


...****************...

__ADS_1


"Jadi gimana? Kapan bisa bayar?" tanya seorang ajudan Jonathan yang ada di Baron.


"Tolong lepaskan saya dulu, Pak. Saya janji saya akan bayar tapi kalau saya disini, bagaimana saya bisa bayar hutang?"


"Ahh..jadi kamu minta saya lepaskan?" tanya ajudan itu .


"Saya mohon, Pak."


Ajudan itu duduk dari bangkunya dan menghampiti pria yang memohon agar dilepaskan itu.


Ia ikut duduk membungkuk dihadapan pria itu. Menatapnya kemudian tertawa.


"Kamu pikir saya akan melepas kamu begitu saja? Nggak."


"Lalu saya bayar hutang bagaimana? Kalau nggak bisa cari uangnya, Pak?"


"Itu biar saya pikirkan caranya. Sekarang kamu makan. Jaga kesehatan dengan baik ya. Selama seminggu kalian aman. Kerjaan kalian hanya akan makan dan buang air saja. Hahaha." ajudan itu kemudian pergi dari ruangan itu dan pintu kembali ditutup.


Setelah kepergian ajudan, di ruangan itu hanya terpisah oleh triplek yang tersusun menjadi bilik. Di setiap bilik ada satu orang yang duduk disana.


Dengan suara tertatih, salah seorang disana berkata pada yang lain.


"Tiga hari yang lalu, Bang..." jawab lelaki yang tadi minta dibebaskan.


"Baru tiga hari yang lalu. Saya minta dibebaskan sebulan yang lalu juga sama aja. Lihat aja sampe sekarang. Saya masih duduk disini."


"Kalau boleh tau waktu itu Abang minjem berapa ke Bos?"


"Sekitar seratus juta."


"Banyak juga, bang. Terus udah abang bayar berapa?"


"Boro-boro bayar. Punya duit juga engga. Makanya sebenernya salah juga minjem uang sama Bos Baron. Karena kalau nggak bisa bayar, kita akan ditahan kayak gini." jawabnya,


"Lalu kapan dibebaskan Bang?"


"Setelah kita dapat giliran."


"Giliran? Giliran apa?"

__ADS_1


"Memang lo nggak tanda tangan surat? Kalau nggak bisa bayar, ya lo harus bayar sama apa yang ada di badan lo. "


"Jadi...jadi..." lelaki itu terdengar ketakutan.


"Tapi itu legal. Bos memang pintar. Membuat semua itu seolah-olah legal." jawabnya dengan senyum menghiasi wajahnya.


Lelaki itu tampak ketakutan mendengar kenyataan yang sesungguhnya.


" Apa itu benar?"


"Ya, dan itu lebih baik daripada harus melunasi hutang seumur hidupmu. Dan terkadang kita yang beruntung justru akan diberikan uang oleh Bos."


"Kenapa jadi mengerikan seperti ini?"


"Lo takut?"


"Iya."


"Lebih takut mana, disini atau dikejar sambil dipukuli oleh ajudan? Disini kita bisa makan. Diluar? Belum tentu."


"Kamu kenapa tenang begini? Padahal kamu tahu harus membayar dengan..."


"Percayalah. Bayar utang itu cape. Lebih baik,lunasi dengan apa yang kita punya."


Lelaki itu diam karena takut. Ia tidak tahu harus berpikir bagaimana lagi. Pikirannya kacau dan takut.


"Lo tenang aja. Bos nggak sejahat itu. Dia masih tetep kasih kompensasi karena kita mau membayar hutang kita." kata lelaki yang lain.


"Jangan takut. Disini kita malah justru nunggu kapan giliran kita. Malah kita seneng kalau kita bisa cepet-cepet ngasih ginjal kita buat orang kaya itu."


kata lelaki yang lain yang ternyata mendengarkan juga apa yang mereka bicarakan.


"Jadi kita bisa keluar dari sini cepet-cepet."


"Kenapa kalian begitu santai?"


"Terus gimana? Kerja dan bayar utang? Kita minjem itu jumlahnya besar. Kapan mau lunas kalau gitu caranya? Lagipula jangan lupa kita berurusan sama siapa. Sama rentenir bermuka dua!"


Kemudian ia terdiam. Tidak bicara sedikitpun padahal hatinya sangat takut dan gelisah.

__ADS_1


__ADS_2