
Jonathan menggandeng dengan lembut tangan Erica. Seolah ia tidak mau kehilangan Erica. Ya, Jonathan sangat sayang pada Erica. Ia menyayangi dan menghargai Erica dan berjanji akan menjaga Erica sebisa mungkin.
Erica menunjuk restoran sushi yang ingin ia coba sejak bulan lalu tapi selalu tidak ada teman yang menemaninya makan sushi karena Arista tidak terlalu menyukai sushi..
"Kita makan yang ini yuk."
"Yuk,masuk..."
Dengan menggandeng tangan Jonathan, Erica masuk ke dalam restoran sushi dan mulai memesan makanannya.
Jonathan memperlakukan Erica dengan sangat baik. Ia menjaga Erica sama seperti menjaga ibunya. Tidak ingin ada sesuatu yang menyakitinya. Jonathan akan sangat marah jika ada sesuatu yang mengganggu Erica.
Setelah makan sushi, Erica diantar kembali oleh Jonathan ke apartemen.
"Aku lagi nggak mau masuk kantor..." kata Jonathan.
"Tapi aku belum selesaikan pekerjaanku, Jo..."
"Besok saja ya..Aku masih terlalu capek..."
Jonathan menyandarkan kepalanya di bahu Erica dan menggenggam tangannya.
"Mejaku masih berantakan loh..."
"Atau nanti sore kita balik lagi. Aku mau istirahat dulu ya, sebentar di apartemenmu..." kata Jonathan .
Melihat Jonathan yang begitu lelah, Erica mengangguk.
"Baiklah. Dengan syarat jam empat sore kita balik ke kantor ya." kata Erica.
"Oke. Pak Herman,kita ke apartemen Erica dulu ya, Pak." kata Jonathan memberi titah pada supirnya.
"Baik, Tuan." Pak Herman langsung menjalankan mobilnya dan menuju apartemen Erica.
Erica melihat lelah di wajah Jonathan. Ya, memang, wajah Jonathan hari ini tidak seperti biasanya. Dan Erica ingin menanyakan itu sejak tadi. Tapi ia tidak mau didengar orang lain. Ia ingin membicarakan hal itu secara pribadi saja dengan Jonathan.
Erica menekan tombol kunci password apartemennya. Setelah pintu terbuka, Erica mempersilakan Jonathan masuk..
__ADS_1
"Masuk, Sayang..." kata Erica. Apartemen itu terlihat rapi dan juga wangi. Jonathan tersenyum melihat apartemen itu di rawat dengan baik oleh Erica.
"Wangi banget ruangan ini. Aku suka." kata Jonathan.
Erica tersenyum mendengar perkataan Jonathan.
"Aku suka wangi bunga." ucap Erica.
Jonathan mengangguk. Ia langsung mengambil tempat duduk di ruang tengah. Erica mengambilkan minum dan memberikannya pada Jonathan.
"Minum, Sayang..." kata Erica.
Jonathan mengambil gelas yang diberikan Erica dan meneguknya.
"Aku mau tanya sama kamu." kata Erica yang mengambil tempat duduk di sebelah Jonathan.
"Tanya apa,Sayang? Jangan bicarakan soal pekerjaan ya. Aku mau skip dulu sementara sampai balik ke kantor." kata Jonathan.
"Enggak, kok."
Erica terdiam sebentar dan menatap wajah Jonathan dengan dalam.
Tidak ada masalah. Hanya ada masalah di Baron. Haruskan ia menceritakan tentang Baron? Ah,tidak
Belum saatnya.
"Aku nggak apa-apa, kok. Memang wajahku kenapa?"
"Kamu terlihat lelah. Apa kurang istirahat?"
Jonathan mulai merasa lega. Ternyata itu yang dikhawatirkan oleh Erica.
"Aku nggak apa-apa, kok. Pulang dari Kalimantan aku memang belum istirahat dengan cukup." jawab Jonathan.
Erica refleks memeluk Jonathan dan mengusap kepalanya.
"Kenapa kamu nggak ambil libur dulu, Jo?" tanya Erica dengan lembut.
__ADS_1
"Aku masih punya karyawan di kantor , Er . Mana mungkin aku abaikan begitu saja." jawab Jonathan.
"Baiklah, kamu bisa istirahat dulu sebentar." kata Erica.
Jonathan memeluk Erica. Ada rasa hangat dan nyaman disana. Sudah lama Jonathan tidak merasakan hangat seperti ini. Ia merasa lelah setiap harinya tapi tidak tahu kemana ia harus bersandar. Ia sangat bersyukur ada Erica disampingnya.
...****************...
Jonathan kembali ke kantor. Ia kembali bersama Erica. Saat ini, tidak ada satupun menaruh curiga pada mereka. Karena bisa saja mereka menganggap Erica menemani Jonathan bertemu dengan klien.
Jonathan masuk ke dalam ruangan dan juga Erica kembali ke tempat duduknya. Waktu cepat berlalu. Jonathan menyelesaikan berkas yang perlu ia tanda tangani.
Saat Jonathan sedang mengerjakan berkasnya, Jonathan mendapat telpon masuk dari ajudannya.
"Iya, ada apa?" tanya Jonathan dengan cepat.
"Bos, ada yang datang mau meminjam uang lagi." kata ajudan itu.
Jonathan tersenyum senang.
"Pinjam berapa?"
"Dia bilang dua puluh juta, Bos."
"Jaminannya apa?" tanya Jonathan
"Mobilnya, Boss." kata ajudan itu.
"Oke. Temui saya nanti malam di gudang ya."
"Baik, Boss."
Jonathan kembali tersenyum dengan kemenangan lagi. Ia berpikir, banyak sekali orang bodoh yang mau menjaminkan harta pribadinya dengan meminjam uang. Ia sangat merasa diuntungkan dari bisinis tersebut.
Pintu ruangam Jonathan di ketuk. Erica membawa berkas yang harus ditinjau oleh Jonathan.
"Jo, ada berkas tentang projek kolam renang di Cluster Aldenia." kata Erica menyerahkan sebuah map.
__ADS_1
"Oke. Er, nanti kita pulang bareng ya. " kata Jonathan
"Iya, Jo." jawab Erica dengan senyum manisnya.