Rahasia Erica

Rahasia Erica
Ke rumah Jonathan


__ADS_3

Erica memandangi dirinya di pantulan cermin yang bercahaya. Wajahnya dipoles menjadi sangat cantik. Skincare yang dibeli selama ini tidak pernah menghkhianati hasil. Ada harga, ada kualitas. Ia merapikan baju di depan cermin dan menyelesaikan make upnya. ,



Erica puas memandang tubuhnya di cermin. Ia sudah siap dijemput oleh Jonathan. Ponsel Erica berdering dan ia melihat ada nama Jonathan disana.


"Halo, Jo." sapa Erica di seberang telepon.


"Kamu sudah siap?" tanya Jonathan.


"Sudah. Aku hanya tinggal turun dari lift." Erica mengambil heelsnya dan tasnya. Ia Memakai sepatu dan mengunci pintu apartemennya.


"Baiklah, aku akan menunggu di lobby." ucap Jonathan.


Erica menekan tombol lift dan sekitar satu menit kemudian, pintu lift terbuka.


"Oke." jawab Erica.


Lima menit kemudian, Erica menghampiri Jonathan yang sudah menunggu di lobby apartemen. Sinar lampu yang menyinari wajah Erica membuat wajah Erica begitu bercahaya. Sepintas saja, Jonathan sudah tahu bahwa di depannya ini bukan hanya sekedar wanita. Tetapi berlian yang harus dijaga dengan sepantasnya.


Jonathan tersenyum melihat Erica ketika Erica berjalan menuju ke arahnya. Begitu pula dengan Erica yang juga mengulas senyum di wajahnya.


"Kita berangkat sekarang?" Erica pada Jonathan yang setengah bengong disana.


Erica mengangguk. Jonathan meraih tangan Erica dan menuntunnya hingga menuju mobilnya.


"Jo. Aku malu." ujar Erica.


"Malu kenapa?"


"Jangan perlakukan aku seperti ini. Aku bisa jalan sendiri tanpa harus digandeng." kata Erica.

__ADS_1


"Malam ini kamu pacarku." sahut Jonathan.


Wajah Erica memerah dan tidak tahu harus bagaimana lagi menjawab perkataan Jonathan. Siapa yang tidak akan luluh diperlakukan istimewa seperti ini oleh seorang pria tampan yang memiliki kekuasaan? Erica sudah pasti jatuh hati dengan Jonathan. Tapi ia tidak berani mengungkapkannya. Diperlakukan berbeda dari yang lain saja sudah membuat jantungnya berdebar.


Ia berani bertaruh, bahwa semua wanita akan mengiri hati jika tahu bahwa hubungan mereka lebih dari sekedar bos dan karyawan biasa.


Jonathan mengemudikan mobil dengan hati-hati dan aman. Erica ingin mengajukan banyak sekali pertanyaan. Tapi ia tidak tahu harus memulai darimana.


"Aku nggak tahu harus berkata apa nanti." kata Erica di sela perjalanan.


"Jawab saja seperti biasanya."


"Aku sekretarismu?"


"Iya. Kenapa?"


"Apa mereka akan setuju dengan aku? Aku khawatir..."


"Aku nggak pernah ngelakuin hal ini sebelumnya."


"Santai saja." Jonathan tersenyum dan sepertinya senyumannya itu tepat menusuk di jantungnya. Sehingga Erica merasa membeku untuk sesaat.


Apa benar melakukan hal ini? batin Erica berulang kali dalam hatinya. Ia terkadang ragu dan tidak yakin dengan apa yang dijalaninya.


Dua puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah Jonathan. Jonathan membukakan pintu untuk Erica dan memperlakukan Erica dengan sangat baik. Jantung Erica seperti mau meledak diperlakukan begini oleh Jonathan.


"Jo. Bisa nggak kalau aku yang buka pintu sendiri? Diperlakukan kayak gini bikin aku jadi canggung." kata Erica.


"Aku memperlakukan kamu sebagaimana mestinya diperlakukan."


"Tapi kita ini nggak beneran pacaran, Jo. Kita hanya bersikap pacaran di depan orang tuamu saja."

__ADS_1


Jonathan tersenyum. Belum sempat Jonathan menjawab perkataan Erica, Joshua sudah memanggilnya dari depan pintu.


"Jo. Masuk, Jo!" teriak Joshua.


Jonathan menengok ke arah Joshua dan melambaikan tangannya.


"Adikmu?" tanya Erica


"Iya. Namanya Joshua. Dia udah punya pacar sih. Tapi pacarnya bermasalah." kata Jonathan.


Erica mengangguk mengerti. Ia juga nggak banyak tanya karena itu merupakan privasinya.


Lagi-lagi, Jonathan mengulurkan tangannya. Ia ingin Erica meraih tangannya dan berjalan sambil bergandengan tangan.


Erica merasa malu. Tapi kali ini ia harus melakukan tugasnya. Ia meraih tangan Jonathan dan berjalan berdampingan dengannya.


Erica merasa takjub dengan dekorasi ruangan yang ada di rumah Jonathan. Rumah ini mewah, terlihat minimalis tapi tidak meninggalkan kesan elegannya.


Pantas saja, Jonathan langsung mengganti apartemen yang ia sewa dengan memberikan apartemen yang baru yang terlihat lebih mewah. Rasanya ia sudah tahu jawabannya.


"Udah datang ya, Jo." kata wanita paruh baya dengan rambut terurai yang cantik. Mengenakan rok rampel yang indah. Pinggangnya ramping dan wajahnya juga tidak terlihat sudah memiliki dua anak laki-laki yang sudah dewasa.


"Ma. Kenalin, ini Erica. Wanita yang sudah menjadi pacar Jo selama ini." kata Jonathan. Ah, wajah Erica bersemu merah dibilang pacarnya.


"Oh iya. Erica. Kenalin, Mamanya Jonathan. Udah berapa lama pacaran sama Jonathan?" tanya Christy cepat begitu ia melihat wajah Erica yang cantik. Christy saja sangat terpesona dengan kecantikannya. Wajar saja jika Jonathan klepek-klepek dengan Erica.


"Kurang lebih tiga bulan, Tante." jawab Erica spontan. Sejujurnya ia tidak diberitahu dulu sebelumnya soal ini. Ia hanya asal menjawab pertanyaan Christy.


"Pantas saja, Jonathan udah nggak mau kenalan sama wanita lain lagi. Ternyata sudah tiga bulan. Bersyukur banget deh Tante. Yaudah ayuk kita masuk yuk. Tadi di dalam Tante udah masak beberapa makanan, nanti kalau kurang apa, bilang ya." Christy begitu antusias menyapa Erica. Erica hanya tersenyum dan mengangguk-angguk.


Christy begitu ramah dan baik terhadap Erica. Erica merasa nyaman diperlakukan dengan baik oleh Christy.

__ADS_1


Step pertama, berhasil! Kini Jonathan hanya tinggal mengambil hati ibunya melalui pertemuan ini. Jadi Christy tidak akan bicara macam-macam lagi mengenai perjodohan ataupun kencan buta lainnya.


__ADS_2